Rabu, 10 Januari 2018

Halo 2018


"How does the celebration of new year look like there?"
Si penanya menganggap pertanyaan tersebut aneh karena barangkali jawabannya pun sudah jelas. Sebagai orang yang ditanya, saya menjawab singkat:
"Firework and trumpet, very mainstream aren't those?"
Kembang api dan terompet seolah menjadi ritual umum untuk merayakan pergantian tahun. Entah bagaimana asal mulanya. Ada juga yang memilih untuk menyepi ke gunung, namun tempat yang berada di ketinggian (khususnya di Pulau Jawa ini) biasanya sudah penuh orang. Itu yang saya amati di Lembang, area pegunungan di utara Bandung. Ketika beberapa jam sebelum memasuki tahun 2018 kami (saya bersama Faris dan Fatmi, sepasang suami istri sekaligus sahabat masa kuliah) berkendara di kota Bandung dengan santai lalu malah terjebak macet saat kembali ke Lembang. Sebelum berlanjut tentang cerita pada malam tahun baru itu sendiri, saya ingin sedikit refleksi atas apa yang Tuhan berikan selama tahun 2017.
Bulan ini, genap sepuluh bulan saya berstatus sebagai mahasiswi tingkat doktor di kampus pertanian negeri kincir angin. Sejauh ini saya rasa senang sekaligus bimbang. Selama enam bulan pertama penyusunan proposal, para pembimbing bukan hanya mengarahkan rancangan penelitian. Lebih dalam segi filosofi, penelitian ini harus menjadi proses pembentukan diri menjadi seorang ahli. Ahli apa? Itu pertanyaan yang harus saya jawab sembari menyusun proposal penelitian. Selama proses itulah saya merasakan jatuh cinta! Semoga ini bukan hanya perasaan di awal saja, sehingga proses studi sampai tiga tahun ke depan bisa berlangsung menyenangkan. Seorang teman baik yang baru menyelesaikan program doktor awal Desember kemarin mengirim ucapan selamat tahun baru yang diikuti "Hey Titis, keep going! You know it will end one day"
Belum genap setahun status calon doktor sudah diiming-imingi perayaan kelulusan nanti. Bagaimanapun itu, saya ingin terus menikmati setiap langkah dan prosesnya.
Setahun kemarin, banyak kesempatan untuk reuni sekaligus bertemu orang baru. Perkenalan dengan grup baru, teman sekantor di kampus yang menyenangkan untuk diajak berdiskusi mulai dari topik berat seputar sains sampai hadiah bagi yang mendapatkan gelar doktor. Selain kantor, kegiatan di luar kampus juga seru. Konferensi musim panas di Denmark yang mengumpulkan 1000 anak muda dari berbagai bidang untuk memikirkan Sustainable Development Goals telah membuka pintu bersosialisasi dan tukar pikiran. Saya tidak hanya bertemu mereka yang bekerja sebagai akademia. Kesempatan untuk bertemu para pengusaha muda, penulis, jurnalis, blogger, sampai relawan terbuka lebar dalam forum itu. Berkunjung ke Denmark sendiri sudah ingin saya lakukan dengan alasan ingin bertemu teman-teman di Aarhus. Kota terbesar kedua di Denmark itu pernah menjadi rumah bagi saya dua tahun lalu. Satu bulan setelah itu, sebuah konferensi ilmiah di Bonn, Jerman mempertemukan saya dengan kawan lama. Senang bisa bertemu dengan pembimbing penelitian yang saya ikuti di Brazil juga menyambung cerita dengan kolega dari sebuah lembaga penelitian di Nairobi, Kenya. 
Kesekian kalinya, saya kabur dari musim dingin di bumi bagian utara dengan pulang ke Indonesia! Akhir tahun 2017, sebuah agenda besar dalam memulai penelitian menanti. Saya langsung menuju Lembang, lokasi penelitian. Tinggal di pegunungan sungguh membuat hati terasa damai. Persiapan pengambilan data sudah dilakukan. Tahun 2017 ditutup dengan berkeliling dari kandang ke kandang, berkenalan dengan peternak. Pertama kalinya melakukan penelitian di lapang, rasanya seperti memasuki dunia baru. Meski begitu bukan berarti semua berjalan mulus, segala rintangan yang ada sering membuat saya bertanya mengapa memilih terjun dalam topik ini? Dan jawabannya selalu kembali pada sebuah kalimat sederhana yaitu "saya suka".
Inilah mengapa sampai hari terakhir di tahun 2017 pun saya masih berada di Lembang. Agar lebih semarak, saya ajak pasangan Fatmi-Faris ke sana. Niat hati beberapa teman kuliah lainnya juga ingin saya ajak, apa daya belum bisa dalam kesempatan ini. Tidak ada agenda khusus saat liburan akhir tahun. Setiap pagi diawali dengan bangun siang, sarapan yang sudah mendekati makan siang, lalu jajan sampai malam. Begitu siklus berulang sampai tanggal 31 Desember 2017 kami memutuskan turun gunung ke Bandung untuk membeli oleh-oleh. Kami menikmati suasana sore di sekitar Cihampelas dan Trunojoyo yang tidak seperti malam tahun baru. Bahkan cenderung lebih sepi dibandingkan akhir pekan pada umumnya. Sekitar Dago yang biasanaya macet pun kali ini lancar, banyak toko tidak buka sampai malam. Baru ketika jalanan mulai menanjak ke arah Lembang mulai terasa padat. Rupanya banyak orang menuju kawasan wisata tersebut. Untunglah tidak terlalu parah, sehingga kami masih bisa mampir ke warung makan dan tiba di rumah dengan selamat. Menjelang tengah malam, kami bertiga duduk manis di balkon lantai dua untuk menyaksikan kembang api yang dibakar warga sekitar. 
Tahun 2018 ini rasanya tidak jauh dari resolusi agar penelitian berjalan lancar. Satu hal yang ingin saya tingkatkan adalah kemampuan menulis. Karena itu inti dari profesi sebagai peneliti agar bisa menyampaikan hasi temuannya. Berhubung saya sudah mengaku jatuh cinta akan bidang yang ingin didalami ini, tahun ini harus lebih total dalam mencintai. Caranya adalah komitmen penuh untuk memberikan yang terbaik. Saya yakin kesempatan akan banyak berdatangan, semoga sehat jiwa raga ini sehingga mampu untuk menjemputnya.


Bandung,
10 Januari 2018

1 komentar:

  1. kak, tolong tulis dong resolusi 2018 per trimesternya. hahaha

    BalasHapus

Terima kasih atas komentarnya