Kamis, 12 Januari 2017

Menengok Desa Suku Maasai di Kenya

Tarian selamat datang oleh Suku Maasai
Kawanan ternak berjalan lambat sambil merumput di tepi jalan. Di belakangnya seorang penggembala memakai kain berwarna terang menggiring sambil membawa tongkat. Teman satu perjalanan menjelaskan kalau mereka adalah orang Maasai, suku asli yang mendiami wilayah Afrika Timur. Mobil jeep terus melaju melewati jalan berbatu ke Taman Nasional Maasai Mara di Narok County, bagian selatan Kenya. Selain safari, seperti tujuan kebanyakan turis yang berkunjung ke Afrika, saya mendapat bonus mampir ke desa Maasai, tempat tinggal Sang Pemandu.
Pengertian desa Suku Maasai bukanlah suatu wilayah tempat bermukim beberapa rumah tangga yang membentuk satu organisasi kemasyarakatan seperti pada umumnya di Indonesia. Desa bagi orang Maasai adalah area yang ditempati satu keluarga besar terdiri dari satu pria yang telah menikah dengan beberapa istri bersama anak-anaknya. Mereka juga tidak memberi nama pada desanya. Pria yang juga ayah pemandu safari itu menjabat sebagai kepala desa dan tentunya kepala keluarga dari sebelas istri.
Desa itu sudah didiami selama dua tahun. Mereka akan berpindah ke area lain setiap delapan atau sepuluh tahun sekali. Satu desa terdiri dari lapangan melingkar yang dikelilingi beberapa rumah untuk setiap istri dan anak-anaknya. Dinding rumah dibangun dari tanah liat yang melapisi kerangka kayu. Di sini para perempuan yang mengerjakan proses pembangunan. Rumah terdiri dari dapur dan ruang makan, dua kamar di mana salah satunya bisa dipakai untuk tamu, serta tempat untuk menyimpan anak ternak yang disapih dari induknya. Total luas bangunan saya kira kurang dari tiga meter persegi. Bertamu ke rumah mereka bagai masuk ke goa, gelap dan pengap karena hanya ada satu jendela di dapur. Mereka sengaja menutup rapat dindingnya untuk menghindari serangan binatang buas. Sumber penerangan di desa itu adalah api, listrik tidak tersedia di setiap rumah.
Salah satu istri sedang memasak chai, yaitu teh dengan campuran susu. Mereka minum chai setelah makan sebanyak dua kali sehari pada pagi dan sore. Tidak ada jadwal makan siang bagi suku Maasai. Makanan mewah mereka adalah campuran darah sapi dan susu yang direbus. Hidup berpindah membuat suku Maasai tidak mengenal budaya bertani. Sumber makanan mereka adalah tanaman yang ditemukan di sekitar desa dan ternak yang digembala. Sekali waktu, ternak dijual untuk membeli kebutuhan lainnya.
Bicara tentang ternak, setiap desa suku Maasai memiliki ratusan hewan terdiri dari sapi, kambing, dan domba. Selama siang hari, para pria pergi mencari padang gembala bagi ternaknya. Rombongan itu akan kembali sebelum hari berganti gelap kemudian ternak disimpan di halaman depan rumah desa. Seringkali para pria harus tinggal di sabana yang jauh dari desa untuk menggembala ternak selama beberapa hari. Ternak adalah simbol kebanggaan dan status sosial bagi suku Maasai. Memelihara ternak berarti menjaga kekayaan keluarga. Jumlah ternak ini juga penting untuk ditunjukkan ketika seorang pria ingin menikahi gadis Maasai. Ada sejumlah ternak yang harus dibayar saat proses meminang  sesuai dengan status sosial sang gadis.
Kunjungan sore itu diakhiri dengan melihat kegiatan para istri membuat kerajinan tangan untuk mendukung perekonomian keluarga. Mereka juga aktif dalam aktivitas keagamaan di gereja. Meski hidup nomaden, suku Maasai tidak melupakan aspek pendidikan untuk generasi mudanya. Tentunya setelah menikah mereka akan pindah dari desa dan memulai kehidupan bersama keluarga kecilnya.
Pada kesempatan lain ketika berkunjung ke Tanzania, saya dipandu lagi oleh orang Maasai. Saya diajak ke desa Maasai yang katanya terbesar di wilayah itu. Terang saja, sampai sana lebih banyak rumah berderet untuk 56 istri dan 137 anak. Sang Kepala Desa itu berusia hampir 50 tahun. Beliau belum memutuskan kapan akan pindah ke tempat lain karena sudah membangun gereja dan sekolah di area itu. Kini tidak semua orang Maasai masih hidup secara nomaden. Banyak dari mereka yang mengadopsi kehidupan menetap serta melihat pentingnya pendidikan. Para pemuda Maasai pun juga berpikir ulang untuk melakukan poligami seiring dengan tuntutan ekonomi.

Jalan raya antar kota di Tanzania dengan latar Gunung Meru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya