Jumat, 25 November 2016

CLBK Episode 7: Pulang

Selama tahun kedua masa studi S2, banyak sekali pertanyaan terlintas di kepala yang sulit saya jawab. Di antaranya adalah "mau apa setelah lulus?"
Sebuah buku bersampul merah pucat saya ambil dari rak. Lembaran kosong kertas buram mulai penuh coretan lengkap dengan anak panah berjudul "Plan A", "Plan B", dan seterusnya. Tidak ada prioritas dalam penamaan mind mapping tersebut karena saat itu saya terbuka pada berbagai kemungkinan. Singkatnya, pilihan yang tertulis dalam buku tersebut antara lain keinginan lanjut studi ke jenjang S3 atau bekerja di industri pakan bagian on farm research. Semuanya ditulis dengan keterangan bidang yang ingin ditekuni berkata kunci: ternak perah, ruminansia, susu, hijauan. Opsi pertama sebetulnya ditulis dengan penuh ketidak-percayaan diri hanya modal masih suka riset. Opsi kedua masih terkait dengan bidang riset namun untuk komersialisasi. Keduanya sama-sama kompetitif untuk didapatkan. Selanjutnya, saya masih punya opsi lain yang terlalu panjang jika diceritakan di sini. 
Sampai akhirnya ksempatan itu datang dari arah yang tak terduga yaitu melalui keajaiban silaturahmi. Sore hari waktu bagian Brazil artinya dini hari di Indonesia ketika saya menulis sebuah email, menanyakan kabar dosen pembimbing S1 yang kabarnya masuk rumah sakit beberapa bulan lalu. Email tersebut direspon cepat. Saya sudah hafal kebiasaan beliau yang responsif jika dihubungi pada pagi hari. Siapa sangka balasan pesan singkat tersebut disertai dengan sebuah tawaran untuk bergabung sebagai PhD Candidate dalam sebuah proyek kerja sama antara Indonesia - Belanda di bidang sapi perah. Adrenalin saya meningkat seketika. Selama dua malam saya tidak bisa tidur nyenyak!
Proyek tersebut berkutat dengan aspek keberlanjutan dari peternakan sapi perah di Indonesia. Ada dua posisi doktoral yang dibuka yaitu riset di bidang manajemen kotoran hewan dan pakan. Tujuan utamanya adalah mengurangi emisi per kilogram susu yang dihasilkan serta meningkatkan keuntungan peternakan. Skenario kasarnya adalah menurunkan biaya pakan yang selama ini menyita 70% dari seluruh biaya produksi dan menambah pemasukan bagi peternak dengan memanfaatkan kotoran hewan sebagai pupuk baik bagi lahan mereka sendiri maupun untuk dijual. Gambaran proyek yang berlangsung sampai 2019 itu bagai perwujudan mimpi saya selama ini. Siapa sangka model penelitian lapang seperti ini akan segera ada di Indonesia.
It was smoothly odd! Begitu ada tawaran, semua berawal lancar. Kalau mendengar cerita teman-teman yang ingin lanjut studi ke jenjang S3, saya sangat bersyukur bisa dijodohkan dengan kesempatan itu. Saya bertanya kepada beberapa orang terdekat sebelum mengambil keputusan yang akan mengubah hidup setidaknya empat tahun ke depan. Segala rasa tidak percaya diri, ragu, takut, kalah oleh semangat untuk belajar. (P. S. terima kasih pada orang terdekat yang mendengarkan segala curahan hati serta mendukung niat untuk lanjut studi! Maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya satu-persatu).
Tepat sepuluh hari setelah evaluasi tesis dan dinyatakan lulus, saya pulang. Segala urusan harus diselesaikan secepat kilat. Satu tujuan utama dalam perjalanan dari Amsterdam ke Jakarta kali ini yaitu mengikuti kickoff meeting dari proyek yang akan dimulai akhir tahun 2016. Selama dua bulan terakhir sejak kembali ke tanah air, rumah di Ponorogo hanya menjadi tempat singgah. Tim Survei sudah memulai kerja mereka untuk mengumpulkan data mengenai kondisi lapang. Karena ini pengalaman pertama saya studi di lapang, jadi wajib hukumnya untuk tahu medan. Jadilah saya bolak-balik Bandung-Bogor dan terkadang Jakarta lalu Ponorogo untuk belajar. Di Bandung, saya ikut Tim Survei melihat peternakan. Di Bogor, saya bertemu dosen-dosen di kampus almamater untuk berdiskusi banyak. 
Secara umum, isu pakan yang saya catat antara lain:
- Ketersediaan bahan pakan yang dipengaruhi oleh musim
- Kekurangan lahan hijauan di sekitar peternakan
- Formulasi ransum yang tidak sesuai kebutuhan ternak. Penelitian senior dari Fakultas Peternakan IPB tahun lalu menemukan bahwa sapi perah diberi pakan berlebihan demi menjaga produksi susu
- Kualitas konsentrat yang dipakai peternak
- Suplai air minum untuk sapi perah kurang terpenuhi

Sesungguhnya, masalah tersebut sudah dibahas sejak dulu. Kompleks dan klise, begitulah kira-kira. Dalam riset kali ini, Tim dari Wageningen University akan melakukan pendekatan sistem untuk mengurai benang kusut tersebut sehingga bisa menentukan intervensi yang tepat untuk mengatasi masalah. Selain di Lembang, proyek yang bertema hampir sama juga sudah pernah dijalankan di Garut dan Kuningan. Saya juga sempat ikut pengenalan bahan pakan ternak di Garut kepada para peternak juga sosialisasi nutrisi sapi perah. Sehari itu menjadi ajang diskusi menarik. Dari perbincangan dengan peternak, saya menampung segala isu yang terjadi di lapang. Semakin hari, saya semakin yakin kalau bergabung dalam proyek ini adalah pilihan tepat. Semoga Tuhan memampukan usaha saya...amiin. 


2 komentar:

  1. Whuaaah...Titiiiis...mantap banget rencananya! Ikut seneng bacanya, Tis. Berbinar membayangkan masa depan ternak Indonesia yang lebih gemilang, dan Titis berperan di dalamnya. Sukses ya, Bu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mesa, terima kasih doanya! Sukses juga dengan segala rencanamu ya..terus berkarya ya Bu :)

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya