Selasa, 08 November 2016

Belajar Bahasa

"Dulunya, saya percaya kalau kita bisa menguasai suatu bahasa karena terbiasa. Pengalaman tahun ini menambah kepercayaan saya tentang belajar bahasa yaitu bisa karena terpaksa."
Mari kita terlebih dulu meruntut bagaimana awal mula saya belajar bahasa. Ini adalah tulisan seorang amatir yang suka dengan cabang ilmu linguistik, bukan seorang polyglot ataupun ahli tata bahasa. Terlahir di Ponorogo, Jawa Timur dari seorang Ibu berdarah Jawa maka bahasa pertama saya adalah Jawa. Memasuki usia sekolah, Bahasa Indonesia saya gunakan secara resmi dalam kehidupan sehari-hari. Sejak mendapatkan mata pelajaran Bahasa Inggris, saya bersemangat mempelajarinya. Ini juga didukung oleh faktor guru-guru asyik selama duduk di bangku sekolah. Selain tiga bahasa tersebut, berikut beberapa kelas bahasa yang pernah saya ikuti baik formal maupun informal:
1. Bahasa Mandarin - sebagai pelajaran tambahan di kelas X, SMAN 3 Madiun.
2. Bahasa Korea - bonus selama latihan Tae Kwon Do sejak SMP dan ketika memandu pelajar Korea Selatan yang datang ke kampus.
3. Bahasa Jerman - iseng ikut kursus tambahan untuk tingkat dasar di pusat bahasa kampus Institut Pertanian Bogor.
4. Bahasa Ceko - mata kuliah gratis saat pertukaran pelajar ke Praha, Republik Ceko.
5. Bahasa Spanyol - diajari oleh teman asal negeri matador yang menjadi partner di kelas Bahasa Ceko.
6. Bahasa Denmark - fasilitas gratis dari pemerintah Denmark bagi warga negara asing yang tinggal di sana. 

Dari keenam bahasa asing di atas, barangkali hanya 1% yang masih menempel di otak, sebatas kata sapaan dan angka. Saya menyimpulkan bahwa kemampuan bahasa asing tidak bertambah adalah karena tidak dipraktekkan. Jujur waktu kecil dulu saat masih terbesit cita-cita menjadi polisi, saya ingin menjadi agen rahasia seperti Agent Bourne yang bisa berbagai macam bahasa. Saya semakin kagum kalau bertemu teman-teman polyglot, seolah di lidahnya ada tombol subtitle yang siap berganti kata. 
Sebuah artikel membahas berapa banyak bahasa yang mampu seseorang pelajari. Berdasarkan catatan sejarah, beberapa orang tercatat mampu lancar berbicara sebanyak 11 sampai 16 bahasa. Luar biasaaa! Ini juga yang pernah diungkapkan oleh Trinity seorang travel writer yang mengaku ingin menguasai seluruh bahasa di dunia apabila diberi kesempatan untuk memilih kekuatan tertentu bak superhero.
Kesempatan untuk mengunjungi dan tinggal di beberapa negara asing tidak lantas membuat saya bisa belajar bahasa. Diri ini sempat berdalih kalau saja saya tinggal di suatu negara lebih lama, mungkin bisa belajar bahasa lebih baik. Namun opini pribadi tersebut dipatahkan tahun ini, ketika saya berangkat ke Brazil untuk melakukan penelitian tesis. Sejak awal, para pembimbing sudah menyarankan agar belajar Bahasa Portugis. Saya pun mengunduh aplikasi belajar bahasa yaitu Duolingo sebulan sebelumnya. Setiap hari, si aplikasi selalu memberi notifikasi untuk praktek Bahasa Portugis. Perlahan saya mulai familiar dengan kata-kata dalam Bahasa Portugis. 
Hari pertama mendarat di Brazil, saya masih ingat ketika transit di bandara Salvador dan bingung karena tidak ada seorangpun yang bisa ditanya dalam Bahasa Inggris. Kemudian saya mendatangi kantor agen perjalanan untuk bertanya namun malah ditanya balik apakah saya bisa Bahasa Spanyol. Frustasi adalah kata yang menggambarkan seminggu pertama tinggal di Brazil. Siapa sangka, seiring berjalannya waktu situasi yang memaksa itu membuat saya bisa berkomunikasi lancar dengan teman-teman berbahasa ibu Portugis dalam waktu 2.5 bulan. Ternyata, pengalaman belajar bahasa Spanyol mempermudah pemahaman saya terhadap Bahasa Portugis karena tata bahasanya yang mirip. Tiap hari, saya berusaha mengajak bicara teman-teman di rumah maupun kampus dalam bahasa mereka. Niat awal pembimbing saya agar mahasiswa di sana juga mempraktekkan Bahasa Inggris malah belum terlaksana. 
Usai meninggalkan negeri samba, saya masih bertukar kabar dengan teman-teman di Brazil melalui media sosial. Saya juga sempat membeli buku dan majalah ketika mampir di Sao Paulo. Hingga kini saya kembali ke Indonesia, saya masih berlatih dengan Duolingo setiap hari. Kalau semua lancar, saya ingin belajar Bahasa Spanyol lagi. Bahasa Arab, Mandarin, Russia, termasuk bahasa isyarat saya masukkan ke dalam daftar resolusi untuk dipelajari beberapa tahun ke depan. Semoga ada lagi kesempatan untuk dipaksa sampai bisa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya