Minggu, 31 Juli 2016

CLBK Episode 6: Canggung

Bagi yang belajar tentang nutrisi pasti sudah akrab dengan analisa kandungan energi, protein, serat, lemak, vitamin, dan mineral dari bahan pangan maupun pakan. Karena dengan mengetahui kandungan bahan, dapat dilakukan estimasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi hewan. Lain ladang lain belalang, begitu kata pepatah. Biarpun sudah sering ikut praktikum di laboratorium, rasanya canggung untuk bekerja dengan bahan-bahan kimia. Meskipun prosedur analisa bersifat universal, tetap saja harus dipandu berhubung selalu ada metode yang disesuaikan degan kondisi laboratorium. Sejak masih awal kuliah dahulu, sudah tidak terhitung berapa banyak kesalahan yang saya lakukan. Tulisan ini sengaja dibuat untuk mengabadikan proses belajar dari kesalahan selama bekerja di laboratorium untuk tesis di Brasil.

Salah hitung
Teliti adalah kata sifat yang sejak kecil jauh dari karakter saya. Urusan angka, saya memang tidak pintar untuk bergelut lama-lama dengan hitungan. Langkah awal analisa kandungan kimia bahan biasanya diawali dengan menentukan berapa berat sampel, senyawa kimia, juga lama waktu yang diperlukan dalam setiap prosedur. Masalah salah hitung atau konversi satuan adalah hal klasik yang sering saya lakukan. Biasanya, kalau saya bisa melakukan hitungan dengan cepat pasti ada salah satu prosedur yang terlewatkan. Lucunya, karena merasa kurang percaya diri untuk urusan hitung-menghitung, hal yang begitu sederhana seringkali jadi saya buat kompleks. Misalnya, saat analisa kandungan protein dan jumlah sampel dikurangi, saya sampai heboh bertanya pada teknisi lab tentang perubahan senyawa kimia yang diperlukan. Padahal tinggal mengubah berat sampel pada hitungan akhir setelah segala prosedur analisa selesai.

Tumpah ruah
Namanya timbang menimbang memang kritis kalau sudah di laboratorium. Semakin kecil berat suatu bahan, semakin tinggi pula tingkat fokus yang diperlukan contohnya menimbang 1 gram atau 0.2 gram sampel. Apalagi kalau harus mencampur reagan dari beberapa senyawa kimia dengan berat harus tepat sesuai desimal sampai empat angka di belakang koma dalam protokol. Entah karena terlalu fokus atau emmang dasar saya yang ceroboh, dalam tahap ini selalu ada yang tumpah atau berantakan. Saat paling menegangkan adalah ketika saya menimbang bahan yang hanya tinggal sedikit. Artinya kalau sedikit saja tumpah, tidak ada lagi bahan untuk dianalisa. Belum lagi kalau sudah berurusan dengan bahan kimia berbahaya seperti asam kuat. Sedikit saja tumpah di meja kerja, saya langsung panik. 

Kebakaran oh kebakaran...!
Suatu hari seisi laboratorium sempat heboh karena saya salah memasukkan sampel ke dalam oven dengan suhu di atas 100 derajat celcius. Konyolnya lagi, saya tinggal sampel tersebut di oven semalaman. Hasilnya bahan tersebut hangus terbakar dan tidak lagi bisa dianalisa. Salah seorang mahasiswa yang juga bekerja di laboratorium itu sempat memarahi saya. Untungnya saat itu masih banyak sampel tersisa. Rekan saya itupun jadi tenang. Esok harinya, saya mengulang sendiri segala prosedur sesuai manual yang tersedia. Sengaja saya datang lebih pagi agar bisa lebih tenang di laboratorium. Tiba-tiba salah satu mesin yang saya pakai mengeluarkan asap sampai menyebar ke seluruh ruangan. Heboh saya langsung menghubungi mahasiswa lain melalui telepon. Malah dia santai menjawab kalau itu normal, hanya perlu buka jendela untuk mengurangi asap. Lha kalau ini terjadi di Belanda, sudah pasti fire alarms berbunyi nyaring dan saya akan diinterogasi seluruh penghuni gedung.

Perkara bahasa  
Salah satu tantangan terbesar selama mengerjakan tesis di Brasil adalah bahasa. Jumlah orang yang bisa berbahasa Inggris sangat terbatas, bahkan di salah satu pusat tempat saya mengerjakan analisa kimia. Sempat senang juga kalau bekerja sendiri di laboratorium jadi semua instrumen serasa milik pribadi dan tidak perlu bernegosiasi untuk saling berganti menggunakannya. Suatu hari nan tenang, datanglah salah satu peneliti dengan serombongan anak SMA yang sedang melakukan praktek kerja di laboratorium. Peneliti itu mengatakan kalau saya harus memandu mereka serta menjelaskan segala tahapan analisa. Akhirnya, dengan terbata-bata saya menjelaskan langkah analisa nutris dalam Bahasa Portugis. Tanpa bantuan translator ataupun kamus, berhubung tidak memungkinkan untuk memegang smartphone selama di laboratorium. Pada kesempatan lain, saya menemui salah satu professor untuk memandu analisa yang jarang dilakukan. Menurut rekan di laboratorium, beliau fasih berbahasa Inggris. Eh, pertama kali bertemu saya langsung disambut dengan Bahasa Portugis. Menurut beliau, dia melihat saya sudah mulai fasih berbahasa Portugis jadi akan lebih baik untuk melanjutkan praktek bahasa asing. Memang benar, setelah hampir tiga minggu bekerja di sana saya tidak hanya belajar hard skill tentang ilmu nutrisi ternak namun juga soft skill yaitu Bahasa Portugis.

Kalau dipikir-pikir lagi, segala kecerobohan ini seringkali membuat saya merasa tidak pantas mendapat nama “Titis” yang berarti tepat dan cermat. Barangkali saya keberatan nama yang menurut mitos orang Jawa salah satu tandanya adalah bertindak kebalikan dari arti nama yang diharapkan. Pastinya, segala kesalahan yang rasanya mungkin terjadi kemudian membuat saya lebih berantisipasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya