Rabu, 01 Juni 2016

CLBK Episode 5: Cari Ganti


Obat paling mujarab dari patah hati adalah ´´Cari Ganti´´. Ternyata saya masih penasaran dengan topik seputar modifikasi pakan untuk mitigasi emisi ternak. Di tahun kedua Master, ada satu kesempatan lagi untuk melakukan penelitian setelah internship yaitu tesis. Inilah yang lebih mendebarkan karena akan menentukan proses kelulusan. Setelah melalui pemikiran panjang, sampailah pada penentuan bahwa saya masih ingin berkecimpung di topik yang sama.
Berawal dari percakapan santai dengan kandidat PhD dari Jerman yang bekerja dengan saya di ILRI, dia menceritakan tentang risetnya di Brazil untuk tesisnya setahun lalu. Niat iseng bertanya apakah ada kesempatan untuk ikut riset di Brazil ternyata bersambut. Tanpa menunggu lama, saya pun dihubungkan dengan salah satu Professor di Brazil untuk mendiskusikan topik yang ingin diteliti lebih lanjut. Perkenalan demi perkenalan telah dijalani dengan mengalir. Akhirnya saya diterima oleh seorang Professor yang sedang menjalankan penelitian untuk evaluasi pengaruh tannin terhadap emisi metana pada domba.
Sejak email pertama dikirim bulan November tahun lalu, sampai dengan penandatanganan kontrak dan akhirnya saya di sini, bagian timur laut Brazil untuk memulai riset. Segala proses memakan waktu sekitar lima bulan. Persiapannya saja panjang, tidak mudah memahami segala rancangan eksperimen ketika hanya bisa membaca informasi di atas kertas. Ditambah drama tentang aplikasi visa Brazil yang terkenal rumit. Termasuk kepanikan saat segala kartu dari bank yang saya punya tidak bisa dipakai untuk membeli tiket penerbangan domestik dari Sao Paulo ke Petrolina. Syukurlah, semuanya berhasil dilewati.
Hari pertama setelah tiba adalah masa orientasi kampus, laboratorium, juga dosen dan mahasiswa yang akan berurusan langsung dengan eksperimen. Hari itu juga saya mulai mempraktekkan hasil belajar Bahasa Portugis melalui aplikasi. Kota tempat saya tinggal sekarang bernama Petrolina, negara bagian Pernambuco. Universitas yang tergolong masih muda baru berusia 10 tahun bernama Federal University of São Fransisco. Kota ini terletak di pinggir sungai São Fransisco dan berbatasan langsung dengan negara bagian Bahia. Sekilas melihat lanskap kota, bagian Brazil ini mirip seperti Afrika yang kering dan juga beriklim semi-arid atau dalam bahasa lokal disebut catinga. Tumbuhan perdu dan berduri menjadi teduhan utama bagi rumput liar yang kekuningan karena rindu hujan.
Daerah ini menjadi pusat peternakan kambing dan domba yang menjadi sumber protein hewani. Sistem pemeliharaannya pun semi intensif, ternak dibiarkan menggembala di padang catinga untuk memakan tumbuhan kaya akan bahan aktif seperti tannin. Inilah yang mendasari penelitian saya selama tiga bulan ke depan. Tujuan spesifiknya yaitu evaluasi tannin, senyawa aktif dari tanaman yang berpotensi mengurangi emisi metana dari domba. Dalam skala lebih besar, proyek yang didanai pemerintah Brazil ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi potensi tanaman catinga sebagai bahan pakan ternak.
Di samping itu, Professor yang membimbing mahasiswa dalam laboratorium metabolisme tempat saya bekerja itu juga memiliki proyek untuk menguji limbah buah sebagai pakan ternak. Kenapa buah? Karena Petrolina adalah pusat perkebunan buah mulai dari mangga, pisang, anggur, jambu, markisa, papaya, juga kelapa diproduksi dalam skala besar. Kalau sedang di bus menuju kampus dari pusat kota, kanan-kiri jalan terlihat hamparan perkebunan buah yang menggiurkan berkualitas ekspor. Sayangnya, buah segar berkualitas premium justru tidak mudah ditemukan di pasar lokal.
Kembali saya merasakan sensasi jatuh cinta pada topik penelitian yang dikerjakan. Kota kecil ini juga begitu nyaman ditempati. Sebagai kota pelajar, saya malah merasa seperti sedang di Madiun, banyak jalan satu arah di pusat kotanya dengan pemandagan gedung tinggi sesekali. Pastinya saya semakin jatuh cinta ketika melihat buah-buahan tropis yang selama ini dirindukan. Selama seminggu awal perkenalan, banyak mahasiswa yang langsung akrab menyapa. Penduduk asli Petrolina pun ramah, meski Bahasa Portugis saya sangat parah namun ketika diminta untuk bicara pelan-pelan mereka dengan sabar menjelaskan. Tidak sulit beradaptasi di sana, hanya satu yang disayangkan yaitu sistem transportasi umum yang terbatas. Namun rasanya tidak menjadi masalah besar karena teman-teman satu laboratorium begitu tulus membantu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya