Kamis, 31 Maret 2016

CLBK Episode 4: Patah Hati

Seri drama cerita penelitian di Kenya memasuki bagian akhir. Jeda antara episode sebelumnya dengan tulisan ini hampir dua bulan. Berhubung bukan sinetron kejar tanyang seperti di televisi, saya pun menunggu saat yang tepat untuk mampu menulis ceritanya lagi. Sebetulnya alasan utamanya adalah karena saya patah hati. Perlu waktu untuk menerima segala hal yang terjadi. Mungkin rasa optimis yang berlebihan membuat lupa realita, bahwa resiko terbesar dari sebuah penelitian dengan makhluk hidup sebagai objeknya adalah kematian. Itu yang harus tim kami hadapi saat memasuki periode ketiga.
Kilas balik usai konferensi di Praha, saya terbang kembali ke Nairobi. Cuaca hangat kembali menyentuh kulit. Esok paginya, saya bersemangat ke laboratorium, ada rasa kangen pada sapi-sapi itu. Setiba di sana, kandang sepi, hanya tersisa beberapa ekor. Marko, salah satu asisten peneliti keluar dari kantor setengah kaget melihat saya kembali. 
"Hi Titis, I thought that you went to Europe for good" kata Marko
"Nope, it was short visit for conference. I am coming to continue the internship." 
"It was stopped, don't you know?"
Langsung saya masuk kantor mencari tim penelitian lainnya. Pembimbing saya pun tidak muncul hari itu, juga hari berikutnya selama seminggu. Tersisa 5 ekor dari 12 sapi yang kami punya dari awal. Setelah dua ekor yang tadinya dinyatakan positif terserang Penyakit Mulut dan Kuku masuk kandang karantina, ILRI memutuskan untuk menyuntik mati sejumlah 7 ekor yang diindikasi terjangkit. Otomatis penelitian kami dihentikan. Kegiatan di laboratorium lumpuh. Para peneliti termasuk dua kandidat doktor yang bekerja untuk proyek ini terpukul berat. Mereka menganggap kalau saya sedikit lebih beruntung berhubung hanya magang di sana. Tetap saja, rasa kecewa itu tidak bisa dihibur dengan kondisi apapun. Terpaksa rasa penasaran yang saya bawa sejauh ini kembali harus dipendam.
Kronologis kejadian saya laporkan langsung pada pembimbing di Wageningen University. Beliau langsung cepat merespon tidak kalah panjangnya dari email yang saya tulis. Intinya adalah "Titis, bear on your mind that this is internship. The idea is learning the process. Things could happen, you know how to handle it in the future."
Ah, menenangkan sekali nasehatnya. Proses selanjutnya adalah proses penulisan laporan, ketika saya banyak mendapat masukan dari para pembimbing. Inilah juga proses di mana saya kembali belajar statistika, melihat data, mengakali agar dari apa yang ada bisa ditelisik lebih dalam. Banyak referensi yang perlu dibaca. Lalu saya putuskan untuk kembali ke Belanda pertengahan Januari untuk mencari suasana yang lebih kondusif selama menulis.
Saya tidak bisa mengatakan secara gamblang bahwa ada perbedaan pengaruh akibat perlakuan, Data yang terbatas, tidak banyak yang bisa saya ulas. Segala kalimat dalam bagian hasil selalu saya tulis lengkap bahwa itu adalah angka rata-rata. Perbedaan nilai rata-rata menunjukkan adanya potensi untuk terus diteliti. Berdasarkan hasil diskusi terakhir dengan peneliti ILRI, mereka berupaya agar eksperimen serupa bisa diulang tahun ini. Semoga jadi, saya dengan senang akan membaca publikasinya suatu saat nanti.
Sebulan kembali ke Wageningen, saya bertemu dengan salah satu kandidat PhD yang juga mengerjakan proyeknya di ILRI. Setelah mendengar semua cerita penelitian saya, diapun menanggapi jujur: "Sadly, it was not well performed. I actually am curious too about the result, since there is no data about livestock emission from cattle in Kenya.
Sepakat dengan pernyataan tersebut, saya semakin jadi penasaran. Laporan sudah diselesaikan. Usai presentasi dan evaluasi saya bersiap untuk eksperimen lainnya. Ini akan menjadi ganti dari rasa penasaran yang masih mengganjal hati. Saya merasa cerita di Kenya harus ditutup di sini dulu. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya