Jumat, 15 Januari 2016

CLBK Episode 3 : Kembali Meneliti

Seumur hidup saya baru sekali terlibat dalam penelitian yang benar-benar merancang sampai menulis hasilnya sendiri yaitu ketika menyusun skripsi. Bagaimana kesannya? Seru! Banyak tantangan yang menyadarkan saya bahwa kesulitan selalu diiringi dengan kemudahan. Beruntungnya pembimbing skripsi waktu itu memberi kebebasan untuk berkreasi. Apalagi saya cukup ngotot dalam memilih objek penelitian yaitu kambing perah. Pengalaman itu juga meyakinkan diri kalau ternyata saya lebih tertarik pada eksperimen in vivo alias dengan memakai hewan uji, bukan alat super canggih di laboratorium. 
Setelah empat tahun berlalu dari masa skripsi, untuk topik internship pada tahun kedua studi S2 saya pun dibiarkan bebas memilih. Bedanya, sebagai anak magang sifatnya adalah mengikuti rencana proyek yang dirancang oleh institusi atau perusahaan sebagai ajang pembelajaran. Memilih proyek yang diikuti selama satu semester itu ibarat memilih masalah. Syukurlah, ketertarikan akan isu emisi dari ternak dan rasa rindu ingin lebih dekat dengan hewan terjawab oleh respon positif dari salah satu peneliti di International Livestock Research Institute (ILRI). Singkat cerita, ketertarikan topik sesuai dengan rancangan eksperimen yang dilakukan mulai tengah tahun 2015 lalu. Memang Tuhan itu Maha Tahu segala keinginan hamba-Nya. Ini barangkali yang namanya semesta mendukung, ketika keinginan dan kesempatan bertemu. Keberuntungan lainnya ketika mendaftar internship adalah saat itu saya hanya sekali mendaftar dan langsung diterima. Memang rasanya terlalu mulus jika dibandingkan dengan teman-temas satu jurusan lainnya. 
Desain eksperimen dan rincian protokol sudah saya terima menjelang keberangkatan menuju Nairobi. Semangat saya bertambah saat mengetahui hewan ujinya adalah sapi perah campuran Boran (jenis asli Kenya) dan Friesland (dari Belanda). Ternyata modal tinggal dekat peternakan serta praktikum beberapa mata kuliah bersama sapi-sapi Belanda tidak cukup untuk mengatasi hewan uji tersebut. Sebulan pertama, bersama tiga rekan tim penelitian lainnya disibukkan oleh pelajaran menangani ternak berdarah campuran itu. Temperamen mereka yang berasal dari padang gembala begitu agresif. Ditendang, diinjak, diseruduk, bahkan terkadang digigit sudah menjadi makanan sehari-hari. Perlahan dan pasti, setelah hewan itu mulai tahu bahwa kami mengurusnya dengan baik lalu mereka pun lebih menurut.
Ada tiga perlakuan yang diuji dalam eksperimen dengan tujuan mengukur manfaat pakan tambahan atau suplemen terhadap emisi ternak. Ketika saya melihat komposisi bahan pakan yang akan diuji, pertanyaan besar yang ada di kepala adalah kandungan nutrisi yang menurut kitab suci nutrisi ternak di bawah standar kecukupan. Pembimbing kemudian menjelaskan kalau penelitian kali ini memang dirancang sesuai kondisi di lapang. Beliau memberi nasehat kalau saya terbiasa dengan rancangan percobaan di Eropa memang segalanya sudah sesuai standar yang baik, lain halnya dengan Afrika. Benar juga, apalagi proyek ini merupakan yang pertama jadi harus ada unsur evaluasi untuk mewakili kondisi di peternakan umumnya.
Eksperimen sendiri dilakukan selama tiga periode dengan rancangan bujur sangkar latin. Saya tiba di Nairobi tepat ketika segala persiapan sudah matang. Hanya perlu seminggu bagi seluruh anggota tim untuk memahami segala isi laboratorium lalu kami siap bergerak. Alat uji emisi pun tergolong baru. Umurnya masih setahun sejak instalasi pertama dan belum pernah digunakan. Saya jadi ingat ketika presentasi rencana internship di depan koordinator dan mahasiswa se-program sebelum berangkat, mereka semua bertanya apa benar ada alat secanggih itu di Afrika? Nah, setelah melihat langsung saya bisa menjawab kalau alatnya baru diinstal dan menjadi yang pertama di benua ini!
Periode pertama selain masih sibuk berkenalan dengan hewan uji, tantangan lainnya adalah mengatur jadwal bersama tim sehingga protokol bisa dijalankan dengan lancar. Selama koleksi data dari hari ke hari selalu ada pembelajaran. Di sinilah saya merasa bahwa tidak ada yang sempurna. Selalu ada toleransi dan pengecualian meskipun segala antisipasi sudah dilakukan.
Memasuki periode kedua, kami merasa lebih kompak dalam tim karena pembagian tugas sudah jelas. Lebih senangnya lagi, data pun terlihat lenih menjanjikan dibandingkan periode pertama. Seluruh tim optimis segalanya akan berjalan lancar sampai akhir periode. Kami pun setuju bahwa sapi-sapi betina yang belum dikawinkan itu semakin mudah diajak bekerja sama. Proses adaptasi perlakuan, pengumpulan data, sampai perhitungan emisi di ruang gas berjalan lebih lancar. 
Selama itu pula saya juga belajar alasan di setiap perlakuan dan protokol yang dilakukan. Banyak jurnal mulai dibaca untuk menjawab segala temuan selama eksperimen. Biasanya hal-hal yang saya cari bersifat dasar dari ilmu nutrisi yang dipelajari hampir tujuh tahun lalu seperti:
1. Apa indikator ternak diberi makan ad libitum (tidak dibatasi)? Yaitu ketika sisa pakan berjumlah kurang lebih 5% dari ransum yang ditawarkan.
2. Kenapa memakai hay dari rumput boma dan jerami gandum sebagai pakan utama ternak? Apakah mewakili kondisi peternakan di Kenya? Jerami gandum umumnya diberikan oleh peternak, sedangkan hay digunakan dalam skala intensif untuk meningkatkan kandungan prtotein jerami.
3. Kenapa memakai suplemen molasses dan silase daun ubi? Tujuan utamanya kalau eksperimen berhasil menunjukkan pengaruh positif untuk menurunkan emisi, maka ini akan dikenalkan pada peternak untuk mitigasi emisi ternak
4, Bagaimana kalibrasi gas chamber dan seperti apa data emisi yang dihasilkan? Gas rumah kaca dihitung dari selisih konsentrasi gas di inlet dan outlet yang dicatat setiap sebelas menit. Data ini akan dikumpulkan untuk dinyatakan dalam satuan kg/hari

Eksperimen terus berlanjut sampai tidak terasa periode kedua telah berlalu. Jeda antara akhir periode dua dan periode tiga saya manfaatkan untuk mengikuti konferensi di Praha. Peneliti senior ILRI yang menjadi pembimbing penelitian saya memberi izin untuk liburan seminggu. Tinggal satu periode lagi, bagaimana hasilnya nanti?

Bersambung        



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya