Jumat, 20 November 2015

Praha Kedua Kali: Resolusi dan Reuni (Bagian 2)

Charles Bridge selalu menjadi favorit para turis

Hari pertama tiba di Praha, agenda reuninya adalah bertemu Kristina. Kami sama-sama menghabiskan satu semester di Aarhus University tahun lalu. Kristina lalu tinggal di apartemen bersama teman-teman Indonesia sebelum mengikuti pertukaran pelajar di Charles University, Praha sampai sekarang. Disambut hangat oleh Kristina, dia sudah menyiapkan satu kamar khusus untuk saya. Lucunya, pada hari yang sama orang tua Kristina dari Esthonia juga berkunjung namun mereka tinggal di hotel sementara kamar kosong di apartemennya khusus disiapkan untuk saya.
Agenda pertemuan penting setiba di sana yaitu mengambil titipan dari Mita, teman se-asrama di Wageningen yang sedang berlibur ke Praha bersama suami, Mas Dhira dan ibu mertuanya. Saya khusus titip bumbu instan dari Toko Asia juga atribut khusus dari kampus. Tentunya bertemu dengan Mita adalah ajang untuk mendengar segala cerita yang terjadi di Wageningen. Banyak mahasiswa baru, masa studi memasuki tahap stress tentunya karena tesis. Tidak di asrama, tidak di Praha, saya selalu minta makan kalau sudah bersama Mita dan Mas Dhira, hahaha
Selama konferensi saya sempat reuni sebentar dengan teman kuliah di Indonesia dulu. Mereka adalah Akhir, teman satu jurusan dari Fakultas Peternakan dan Andreas yang sama-sama mengikuti program pertukaran pelajar empat tahun lalu. Biarpun se-angkatan, mereka sudah lebih dulu berstatus sebagai calon doktor. Berfoto bersama mereka, teman-teman di dunia maya mendoakan supaya saya menyusul lanjut studi S3. Doa yang baik mari kita tanggapi dengan aamiin setulus hati! 
Pertemuan serba singkat dengan Mohammed, mahasiswa CULS satu asrama semasa pertukaran pelajar dulu terwujud ketika saya keliling kota bersama delegasi WUR mencari tempat makan. Berhubung ada salah satu delegasi yang juga berasal dari Mesir, jadilah mereka juga saling berkenalan. Meski sebentar, banyak cerita yang kami bagi terutama tentang kabar masing-masing. Mohammed juga sedang lanjut studi S3 dan sudah menikah dengan muslimah asli Ceko, sepertinya dia tidak akan segera kembali ke negerinya. Kami akan bertemu lagi lain waktu, bahkan malam itu untuk sekedar foto bersama pun tidak sempat. Lebih mengagetkan lagi ketika Mohammed berpamitan dan mengaku kalau dia sudah membayar pesanan saya. Ah, gaya orang Mesir sekali dalam menjamu tamu!
Ketika semua delegasi WUR kembali ke Belanda, jujur saya merasa sepi. Namun itu tidak berlangsung lama, karena beberapa jam kemudian Virza datang dari Brno. Virza, teman se-organisasi yang sedang mengikuti pertukaran pelajar di Massaryk University sempat saya temui tepat sehari sebelum keberangkatan setahun lalu di Bogor. Siapa sangka kembali bertemu di belahan bumi lainnya. Kami sepakat makan siang di restoran Vietnam untuk menghangatkan diri. Sayangnya Virza hanya sehari di Praha, khusus menemui saya katanya…hehehe 
Masih bersama Virza, saya menemui Galya yang juga mengikuti organisasi yang sama. Sudah tiga tahun kami tidak bertemu. Galya mengunjungi saya ketika tinggal di Praha dulu. Itu kali pertama dia ke Ceko, kemudian takdir menahannya di Praha untuk menuntaskan studinya di universitas yang sama dengan saya, bahkan ia tinggal di koridor yang sama. Setelah lulus, Galya bekerja di Praha sampai sekarang sudah 1,5 tahun di perusahaan itu. Kami seolah bertukar status dari yang tadinya warga kemudian turis, kini dia yang dulunya turis dan menjadi warga jauh lebih tahu tempat menarik di sini.
Malam itu, tanpa ada rencana sebelumnya kami mengikuti Ghost Tour yang disediakan gratis dari hotel tempat saya bermalam. Meski sudah tiga tahun di Praha, Galya mengaku tidak tahu banyak tentang cerita legenda di sana. Teman saya dari Rusia itu sempat mengaku kalau dia masih ingin mengejar kesempatan untuk kembali tinggal di Vienna. Bagaimanapun, kota itu lebih memiliki ikatan emosi baginya. Masih bersama Galya, atas rekomendasinya kami menikmati secangkir coklat hangat di cafe tempatnya sering menghabiskan waktu. Saya baru tahu kalau di Praha juga ada homemade chocolate. Ah, entah lupa atau memang belum pernah, rasanya saya merasa tidak tahu apa-apa dari kota ini. Meski begitu, ingatan saya masih cukup handal untuk menyusuri jalanan dan tempat-tempat penuh memori.  
Sebagai turis, tidak lupa saya membeli oleh-oleh untuk dibawa kembali ke Nairobi. Ya, kali ini saya tidak pulang ke Indonesia ataupun Belanda melainkan ke Kenya untuk menyelesaikan kontrak magang. Seminggu di Praha, kami akan kembali berjumpa!

Oleh-oleh untuk diri sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya