Kamis, 19 November 2015

CLBK Episode 2 : Mengerti Isu Emisi

Namanya jatuh cinta, awalnya adalah perkenalan karena tak kenal maka tak sayang. Begitu pula dengan isu yang sedang saya gandrungi ini, ingin mengerti lebih dalam, semakin penasaran, begitu emosi jadi diaduk-aduk rasanya. Beberapa artikel saya baca, terutama publikasi yang membahas tentang perhitungan emisi dari sektor peternakan. Perkenalan itu dimulai melalui laporan FAO yang dipublikasikan pada tahun 2006 berjudul Livestock's Long Shadow.
Faktanya, pertanian menyumbang 18% dari emisi gas rumah kaca global. Dari mana asal emisi tersebut? 40% dari emisi pertanian berasal dari gas methana sebagai hasil samping pencernaan di tubuh ternak ruminansia (sapi, kambing, domba, kerbau).  Ada dua sumber emisi ternak ruminansia yaitu fermentasi rumen dan kotoran hewan. Ruminansia adalah hewan yang memiliki empat perut yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. Rumen adalah lokasi pencernaan utama dengan bantuan mikroba yang hidup di dalamnya. Pakan yang dikonsumsi oleh ternak dicerna menjadi nutrisi untuk diserap tubuh ternak. Mikroba melalui aktivitas fermentasi membantu proses pencernaan dalam rumen. Hasil samping dari aktivitas fermentasi ini adalah gas metana yang kemudian dikeluarkan dari tubuh ternak dan mencemari lingkungan. Selain itu, panas tubuh dari ternak mengeluarkan karbondioksida. Kotoran ternak mengandung nitrogen yang apabila terkumpul tidak akan mudah terurai.
Sumber emisi secara tidak langsung, peternakan menyumbang emisi melalui alih fungsi lahan kehutanan menjadi pastura untuk penggembalaan ternak. Selain proses deforestasi, kondisi ini juga menyebabkan kerusakan tanah akibat populasi ternak yang melebihi daya tamping ternak. Kerusakan paling parah di Brazil, di mana hutan amazon berubah fungsi menjadi lahan pastura ataupun area budidaya tanaman pakan seperti kedelai yang dijual ke seluruh penjuru dunia. Seluas 26% dari permukaan bumi selain area tertutup es digunakan untuk lahan pastura saat ini. Sedangkan 70% dari total area pertanian digunakan untuk sektor peternakan.
Gas rumah kaca yaitu karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O) berdampak langsung dalam pemanasan global yang mengancam kehidupan penghuni bumi. Jumlah emisi dari gas rumah kaca dinyatakan dalam satuan ton setara dengan CO2 dalam potensinya menghasilkan efek pemanasan global. Dalam hal ini, CH4 memiliki tingkat bahaya paling tinggi karena dapat menyimpan panas 30x lebih kuat dibandingkan CO2, meskipun jumlahnya kecil di amosfer dibandingkan CO2.
Perhitungan emisi dari sektor peternakan dibagi dalam beberapa pendekatan. Metode ini disusun oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2006 mulai dari Tier 1, Tier 2, sampai Tier 3. Ketiga pendekatan tersebut memiliki persamaan matematika yang dapat memberikan estimasi emisi gas rumah kaca skala nasional dan regional berdasarkan data populasi ternak, sistem produksi peternakan, jenis pakan, dan sebagainya. Aspek yang diukur adalah emisi dari fermentasi ruminan dan kotoran ternak. Melihat data emisi tidak bisa serta merta menelan berapa banyak produksi gas rumah kaca dari tiap sektor. FAO sendiri menyatakan kalau dalam tiap sistem produksi selalu ada emisi, oleh karena itu akan lebih bijak apabila kita melihat emisi per satuan produk yang dihasilkan. Misalnya jumlah CH4 per liter susu yang dihasilkan oleh peternakan sapi. Sistem perhitungan emisi ini juga dikenal sebagai Life Cycle Assessment yang membantu konsumen dalam memilih bahan pangan dengan emisi terendah.
Setelah mengerti segala isu tentang emisi, saya pun melanjutkan pencarian tentang upaya mitigasi alias pencegahan. Hasilnya adalah dua langkah utama yaitu dari segi modifikasi pakan untuk mengurangi emisi CH4 dari ternak dan manajemen kotoran ternak untuk diolah menjadi biogas sebagai sumber energi. Di sinilah saya sekarang, di laboratorium lingkungan ILRI Campus Nairobi untuk mengikuti eksperimen tentang pengaruh suplementasi pakan terhadap emisi gas rumah kaca sebagai hasil samping fermentasi dari rumen. 


Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya