Selasa, 13 Oktober 2015

Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK Episode 1: Setelah Sekian Lama)

"Tuhan, saya jatuh cinta! Lebih tepatnya cinta lama bersemi kembali.."
Ingin rasanya berteriak, namun semua tertahan diganti dengan senyum simpul bersama terpaan angin lembut dan pandangan mengarah ke langit biru cerah seolah menangkap sinyal dari hati. Ingatan berputar kembali pada enam tahun lalu, sebuah konferensi mempertemukan kami. Waktu berlalu, saya kira hanya tertarik sesaat namun hati merasa semakin penasaran. Apa daya belum ada kesempatan untuk lebih dalam mengenalnya. Waktu berlalu, banyak kesibukan yang menghampiri, banyak hal datang silih berganti sampai kini bisa lanjut studi. Begitu jauh melangkah ternyata Tuhan mengatur pertemuan kami lagi. Semester ini, akhirnya tibalah kesempatan belajar tentang topik yang timbul tenggelam dalam pikiran yaitu pengaruh pakan terhadap emisi dari sektor peternakan!
Cinta adalah kata sifat yang terwujud dalam kata kerja yaitu mencintai. Secara tata bahasa, kata sifat adalah keterangan yang menggambarkan suatu objek, sedangkan kata kerja adalah perlakuan terhadap suatu objek. Bagi saya, objek dalam cinta itu banyak wujudnya baik pada seseorang maupun sesuatu. Termasuk pada topik kali ini yaitu kecintaan terhadap satu bidang studi yang sudah menarik hati sejak dulu.
Sedikit cerita awal jatuh cinta adalah ketika masuk ke Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Baru satu semester belajar, saya mulai membaca-baca berbagai isu di dunia peternakan. Sampai suatu ketika ada berita tentang himbauan dari Rajendra Pachauri, chairman of International Panel on Climate Change (IPCC) agar masyarakat mengubah pola makan menjadi vegetarian alias mengurangi konsumsi bahan pangan hewani. Alasannya adalah karena peternakan merupakan sektor penyumbang gas rumah kaca yaitu karbondioksida, methana, dan nitrogen oksida. Awalnya agak gusar mendengar berita itu, kenapa peternakan disalahkan? haruskah peternakan ditutup? Apa kabar calon Sarjana Peternakan di masa depan? 
Segala pertanyaan itu mendorong untuk mencari tahu seperti apa kondisi sebenarnya tentang isu emisi dari peternakan. Berdasarkan laporan IPCC (2007), sektor pertanian menyumbang sebanyak 14% dari total emisi gas rumah kaca secara global. Sumber emisi gas rumah kaca terbesar adalah dari alih fungsi lahan pertania dan produksi peternakan berupa gas hasil fermentasi dari ternak ruminansia (sapi, kambing, domba, kerbau) juga kotorannya.
Lalu bagaimana solusinya? 
Dari segi ilmu yang saya pelajari tentang nutrisi ternak, modifikasi pakan adalah salah satu pilihan. Ibarat motor, asap knalpot yang menyebarkan gas buang itu salah satunya dipengaruhi oleh jenis bahan bakar. Begitu juga dengan ruminansia, bedanya kali ini bahan bakarnya adalah pakan yang digunakan oleh mesin biologis bernama sistem pencernaan yang tidak bisa dengan mudah dibongkar. Alhasil, para ilmuwan bidang peternakan mulai melakukan eksperimen tentang pengaruh pakan terhadap emisi methana dan nitrogen oksida. 
Bermodal ketertarikan pada isu tersebut, kemudian saya menulis sebuah makalah ilmiah berdasarkan studi literatur tentang pakan tambahan yang mengurangi aktivitas pembentukan methana pada ruminansia. Makalah tersebut dipresentasikan dalam The 1st International Agricultural Students Symposium yang dihadiri mahasiswa pertanian dari berbagai negara di Universitas Putra Malaysia, Kuala Lumpur pada Januari 2009. Selama masa penyusunan makalah, saya berdiskusi dengan dosen pembimbing akademik, juga dosen satu-satunya di Fapet IPB yang saat itu sudah banyak melakukan penelitian tentang topik tersebut. Berhubung beliau kemudian berangkat melanjutkan S3 di ETH, Zurich, Swiss, alhasil saya menyusun makalah dengan modal literatur. Keinginan berkecimpung dalam penelitian tentang pakan dan efeknya terhadap emisi gas rumah kaca harus dipendam dulu. 
Memang pada dasarnya saya pribadi punya banyak ketertarikan pada topik lain. Bisa digolongkan mudah jatuh cinta, untuk skripsi kemudian saya memilih bekerja dengan ternak yang sudah akrab dengan saya sejak kecil yaitu kambing perah. Lama waku berlalu, segala diskusi tentang emisi peternakan selalu menggantung karena saya merasa belum mendalami isu tersebut. Sampai akhirnya kini, tahun kedua masa studi S2, ketika tidak terikat lagi dengan mata kuliah dan dibebaskan untuk memilih topik internship kemudian Tuhan menjogohkan saya kembali dengan topik itu. Di sini, bersama ILRI saya menjalani eksperimen tentang pengaruh suplementasi pada sapi tropis dan efeknya terhadap emisi gas rumah kaca. 
Ah iya, saya super duper semangat ketika berangkat ke Nairobi, Kenya. Karena Afrika, karena institusinya yang sudah lama saya ikuti publikasinya, dan pasti karena topiknya!



Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya