Kamis, 24 September 2015

Merayakan Idul Adha di Kenya

Segala pengalaman pertama selalu membuat perasaan campur aduk, meski ini bukan pertama kalinya merayakan Idul Adha jauh dari rumah. Sejak merantau untuk kuliah, tiap tahun Idul Adha saya rayakan bersama orang berbeda di berbagai tempat. Seringkali saya ke rumah saudara agar tetap bisa mendapatkan suasana bersama keluarga. Tahun ini bisa dikatakan kembali merasakan sensasi hari raya jauh dari rumah karena sedang ikut program internship di Nairobi, Kenya.
Seminggu sebelumnya, pencarian alamat masjid terdekat dari kantor dimulai supaya bisa izin setengah hari. Maklum saja, eksperimen dengan hewan uji itu memerlukan waktu siaga setiap hari jadi tidak enak sendiri kalau izin libur sehari penuh. Ternyata, banyak masjid di Nairobi yang total populasi Muslim sekitar 11% dari seluruh penduduk Kenya. Di pusat kota ada Masjid Jamia yang megah berdiri, sedangkan masjid yang saya tuju terletak di Westland hanya 15 menit dengan bus kota dari Uthiru, kawasan dekat tempat tinggal. 
Sore itu, setelah belanja ke supermarket saya mengajak rekan satu lab untuk survei tempat. Niatnya bertanya pada pengurus masjid kira-kira jam berapa pelaksanaan Sholat Eid. Ternyata sampai sana kantor pengurus masjid sudah tutup, jadi saya jalan keliling saja mencari jamaah yang barangkali bisa memberi informasi. Lelaki pertama yang saya tanya mengaku kurang tahu pasti pukul berapa pelaksanannya, dia sempat meminta nomor ponsel saya agar bisa diberi tahu lebih lanjut. Merasa tidak nyaman membagi nomor ponsel, saya pun berlalu dan mengatakan akan kembali lagi esok. Sebelum keluar gerbang masjid, ada segerombolan anak muda yang saya tanya. Bahasa Inggris mereka kurang lancar namun akhirnya saya mendapat secercah harapan agar datang antara pukul delapan atau sembilan pagi, begitu yang mereka katakan berdasarkan pengalaman tahun lalu. 
Westland Mosque, Nairobi, Kenya
Hari perayaan itu tiba. Pagi ini saya berniat berangkat setelah matahari terbit pukul 06.30. Ternyata macet di jalan saudara-saudara! Ketika di bus saya merasa seolah seperti di Jakarta. Bus berhenti di halte dekat pusat perkantoran Westland, tepat di depan gereja. Saya baru sadar ternyata dua rumah ibadah itu berseberangan, seolah melihat Istiqlal berdiri di depan katedral. Jalanan utama yang lebar saya lewati melalui jembatan penyeberangan, sayup-sayup terdengar kalimat takbir yang artinya sholat sudah dimulai. Makin cepat langkah kaki ini menuju masjid dan tepat ketika masuk ruang bagi perempuan, salam diucapkan. Dengan napas terengah saya duduk lemas di barisan paling belakang, baiklah setidaknya bisa mendengar khutbah meski agak ragu awalnya apa akan mengerti isinya. Tiba-tiba teringat pengalaman sholat ied di Praha dulu ketika khatib membacakan ceramah dalam bahasa Ceko dengan logat Turki. Kemudian, setelah khatib mengucapkan salam dan doa pembuka, beliau melanjutkan dengan Bahasa Inggris yang jelas:
"Every person on this earth has their own celebration. Allah SWT gives us, Moslem many special days to celebrate as we gather here, today..."
Setelah selesai satu paragraf kemudian khutbah berubah dalam Bahasa Swahilli, begitu seterusnya bergantian antara Bahasa Inggris dan Swahilli. Rasanya mendapatkan salah satu saat terbaik di mana saya bisa memaknai apa yang dipesankan oleh Sang Khatib. Sembari mendengarkan ceramah, seorang perempuan dengan identitas sebagai panitia dari masjid berkeliling barisan jamaah mengedarkan kurma dan permen bagi anak-anak. Usai ceramah ditutup dengan doa bersama, kami keluar dari ruangan. Tepat ketika saya akan memakai sepatu, ada pengumuman kalau panitia akan mengadakan Sholat Eid kedua bagi jamaah yang terlambat. Yak, resolusi utama hari ini terwujud!
Saat keluar dari ruang sholat bagi perempuan, ramai jamaah mengerubungi area penyembelihan hewan kurban di halaman masjid. Domba, kambing, dan sapi yang saya lihat terikat di pohon yang menjadi pagar masjid kini digiring menghampiri tukang jagal. Rasanya lama sekali tidak melihat adegan ini. Tahun lalu saya merayakan Idul Adha di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Denmark di Kopenhagen bersama mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di negara-negara Nordik. Kami mengadakan simposium ilmiah setelah sholat dan makan bersama. Meskipun tanpa masakan spesial ala kampung halaman, rasanya pengalaman hari ini begitu nikmat. Bisa melihat pemotongan hewan seperti di rumah, juga kembali memaknai teladan sebuah pengorbanan dari kisah Nabi Ibrahim wajib untuk disyukuri. 
Semangat berkurban
Puas menikmati perayaan di masjid, saya pun kembali ke laboratorium untuk bekerja. Ketika masuk pintu utama, saya berpapasan dengan David salah satu peneliti senior. Sambil berlalu dia menepuk pundak saya dan mengucapkan "Eid Mubarak!"
Merasa kaget dengan kalimatnya, kemudian dia bertanya apa benar hari ini umat Muslim sedang merayakan sesuatu? apa benar begitu pengucapannya? Kemudian saya membenarkan pertanyaannya sambil mengucapkan terima kasih banyak. Saat rekan-rekan melihat kedatangan saya, lebih banyak ucapan "Eid Mubarak" diterima. Bahkan usai makan siang, sambil duduk santai beralas rumput di bawah pohon rindang di depan kandang, saya dan tiga orang rekan satu proyek berbincang ringan tentang sejarah di balik perayaan Idul Adha.

Alhamdulillahirabbilalamiin...

Nairobi, 10 Dzulhijah 1436 H

1 komentar:

Terima kasih atas komentarnya