Senin, 07 September 2015

Kenapa ke Kenya?

Tiga hari menuju keberangkatan ke Afrika, daftar barang yang harus dikemasi sudah ditulis. Kemudian ada telepon masuk dari Ibuk. Seperti biasa kami ngobrol saling bertukar kabar, kemudian ketika tahu saya sedang bersiap diri untuk menata koper Ibuk malah bertanya “Yakin Mbak mau ke Kenya?”
Padahal sudah dari berbulan-bulan lalu saya mengungkapkan niat hati untuk internship di Kenya. Menjelang berangkat malah Ibuk kembali mempertanyakan. Ditambah lagi Pakpuh (alias Pakdhe, suami dari Budhe) juga berpendapat kalau Indonesia lebih maju daripada Kenya, kenapa harus ke sana?
Seminggu sebelum berangkat saya pamitan dulu ke rumah Om dan Tante di Augsburg, kebetulan Eyang Kung (ayah Om) juga sedang ke Jerman. Ketika mereka tahu saya mau ke Kenya (dalam pikiran mereka adalah Afrika secara umum), sampai Eyang Kung, Om, Tante, juga adik-adik tidak bisa berkata-kata karena heran. Itu baru reaksi dari keluarga, belum lagi beragam kalimat dari teman-teman. Mulai dari yang selalu menasehati agar hati-hati sampai ada yang heboh ingin ikut. 
Baiklah, sekarang saya ingin menulis jawabannya. Pertama, karena saya sangat tertarik dengan International Livestock Research Institute (ILRI). Awal mula tahu institusi penelitian ini adalah ketika melihat acara dokumentasi tentang sistem pemeliharaan ternak secara ekstensif di Afrika. Di akhir acara saya melihat pembuatan film tersebut adalah hasil kerja sama dengan ILRI. Mulai saya cari tahu apa itu ILRI, apa saja projek penelitiannya, dan seperti apa publikasinya. ILRI ternyata sedang fokus mengembangkan sektor peternakan di negara berkembang yang sebagian besar terletak di wilayah tropis. Saya mulai berangan-angan untuk bisa menjadi bagian ILRI agar lebih tahu isu tentang ternak tropis. Alasan yang begitu akademis bukan?
Kedua, ini Kenya yang berada di Afrika Timur berbatasan langsung dengan Tanzania di mana Kilimanjaro, gunung tertinggi se-benua hitam tegak berdiri. Gunung vulkanik yang puncaknya masih tertutup salju di atasnya. Dulunya, saya sering melihat gagahnya Kilimanjaro dari atlas dunia. Nah, walaupun saya ini pendaki sekedar hobi...tetap saja pesona gunung-gunung di berbagai belahan dunia senantiasa menarik hati.
Ketiga, karena Afrika adalah belahan dunia lain yang harus dilihat. Meski kata orang benua ini belum maju, banyak penyakit berbahaya, rawan konflik, tidak aman, dan segala macam reputasi buruknya itu tentu akan ada banyak hal yang dipelajari. Semakin banyak saya mendengar "katanya" justru motivasi untuk melihat "nyatanya" semakin besar.
Singkat cerita, saya menulis ini ketika sudah tiba di Nairobi. Tulisan berikutnya akan menjadi lanjutan segala rasa penasaran tentang Afrika terutama Kenya. Segala kesan pribadi dan pengalaman berkerja dengan ILRI akan ditulis menyusul.

Sampai jumpa dan selamat hari Senin!

2 komentar:

  1. Ah, you're so inspiring Mbak! Senang mengikuti cerita berikutnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir Rifqy, semoga ceritanya bermanfaat :)

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya