Sabtu, 29 Agustus 2015

Terima kasih Agustus!

Setahun jauh dari tanah air, bulan ini saya merasa rindu luar biasa dengan Indonesia! Terdengar berlebihan memang, maafkanlah bocah yang sedang dilanda homesick. Agustus begitu istimewa menurutku, karena selama merantau sejak kuliah dulu selalu ada kesempatan pulang, sayangnya tidak untuk sekarang. Bulan Agustus tanpa melihat atribut merah putih guna merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Menikmati Agustus di Belanda, negeri yang dekat dengan Indonesia dari segi sejarah. Biarpun jauh dari ibu pertiwi, Agustus 2015 ini memberi kesan tersendiri.

Kesempatan Kedua
Liburan musim panas secara resmi sudah dimulai sejak awal Juli sampai akhir Agustus ketika tahun ajaran baru dimulai. Otak saya sudah terisi berbagai opsi tujuan jalan-jalan. Apa daya, awal Agustus saya harus kembali ke Wageningen karena ada jadwal ujian ulang. Ini sudah pernah saya singgung dalam tulisan sebelumnya. Setelah hampir dua minggu keluar dari Belanda dengan rute Jerman-Swiss-Austria-Jerman lagi, akhirnya saya kembali ke asrama tercinta. Suasana koridor yang sepi membuat saya lebih senang belajar di kampus. Selama minggu persiapan ujian, untunglah keluarga Indonesia yang tinggal di family house membantu suplai makanan. Mereka tidak tega juga melihat anak gadis kesepian di asrama dan harus belajar.
Hari yang mendebarkan tiba, ujian pagi kala cuaca mendung kelabu. Studi kasus sebanyak sembilan nomor berbeda total dengan ujian sebelumnya. Untunglah, rasanya lebih tenang dalam mengerjakan soal. Modifikasi pertanyaan sungguh menantang pemahaman peserta ujian. Waktu tiga jam yang diberikan terasa cepat berlalu, kertas penuh coretan saya kumpulkan. Selanjutnya hanya pasrah dan berdoa, kalaupun belum lolos artinya Tuhan menyuruh saya bekerja lebih keras. Jauh di lubuk hati terdalam sesungguhnya ada perasaan cemas, berharap untuk hasil yang maksimal. Selang dua minggu kemudian, hasil dikirimkan dosen koordinator melalui email. Syukur alhamdulillah lolos! Ternyata ada kesempatan untuk meningkatkan nilai, Tuhan Memang Maha Adil.

Seperempat Abad
Data pribadi di semua akun media sosial memang sudah disembuyikan, namun orang terdekat tidak perlu notifikasi pengingat. Ternyata masih ada yang mengucapkan selamat, terima kasih untuk Ibuk, Adek, keluarga dan sahabat tercinta atas ucapan juga doa yang disampaikan. Tahun ini usia genap seperempat abad, menurut orang ini angka keramat karena krisis jati diri sedang lewat. Lalu, apa yang saya lakukan hari itu? Sebenarnya, tidak ada agenda khusus untuk merayakan. Cerita singkatnya adalah saya dan Julius ingin mencoba mainan baru ala orang Belanda bernama Mudflat Walking atau Wadlopen. Ini obrolan dua hari sebelum ulang tahun saya, setelah sepakat mau ikut tur yang mana, tanggal berapa ke sana, juga mengajak siapa saja, jadilah hari itu rombongan total enam orang berangkat yaitu: Yora, Kak Kamlit, Mita dan suaminya Mas Dhira. 
Jalur berlumpur menyusuri bibir pantai di bagian utara Belanda, tepatnya provinsi Friesland sepanjang 8 km selama 3 jam. Ini merupakan rekor tersendiri bagi Mita yang belum pernah trekking sebelumnya. Rasanya seperti turun ke sawah yang bagi anak Indonesia adalah mainan lama. Kami adalah minoritas peserta rombongan tur berjumlah 30 orang yang semuanya orang asli Belanda. Sayangnya pemandu tidak begitu cakap menjelaskan dalam Bahasa Inggris. Meski begitu, antusiasme kami tidak turun. Niat hati untuk bertemu anjing laut masih membara walaupun akhirnya kami harus puas melihat cadaver yang tergeletak. 
Tanpa prasangka, saya menyerahkan kamera pada Mita yang menawarkan diri untuk memotret. Tiba-tiba mereka bekerjasama untuk menarik saya dalam air. Percobaan pertama gagal,  kemudian ketika saya lengah mereka ramai-ramai menyeret saya kembali ke kubangan. Basah kuyup sudah sekujur tubuh! Pemandu tur yang dari tadi sibuk dengan peserta lain tiba-tiba menghampiri kami dan memperingatkan kalau saya bisa masuk angin. Ah, terlalu khawatir Bapak itu rupanya!

Ki-Ka : Kak Kamlit - Yora - Mita- Titis (foto oleh Mas Dhira, kurang Julius yang sibuk mengamankan kamera)
Kami menyelesaikan trekking dengan sehat selamat kembali ke titik awal perjalanan. Jalur terakhir yang dilewati sempat menjebak saya dalam kubangan lumpur, kaki bisa mudah ditarik ke daratan namun sepatu tertinggal di kedalaman. Kaki yang tadinya sempat bersih setelah melewati aliran air kembali belepotan lumpur hitam. Agenda seharian sukses membuat kami kelaparan, jadi rombongan sepakat untuk mampir Groningen menyantap seporsi besar barbeque ribs favorit para mahasiswa.
Terima kasih teman-teman, tiada kesan tanpa kehadiranmu!

Persiapan Keberangkatan
Memasuki awal semester tiga tahun kedua masa studi master adalah babak baru bagi setiap mahasiswa. Program yang saya ikuti mewajibkan internship sebelum masa menulis tesis. Menurut Dr. Rene koordinator program S2 saya, tahun kedua adalah masa di mana mahasiswa akan bersenang-senang dengan topik yang mereka pilih. Kami dibebaskan pergi ke mana saja untuk mendalami aplikasi ilmu nutrisi ternak. Kali ini saya mendapat kesempatan mengikuti penelitian dengan topik evaluasi pakan terhadap emisi gas rumah kaca pada ternak perah tropis yang dirancang oleh ILRI di Nairobi, Kenya. Perasaan bercampur antara senang, gugup, tidak percaya, selalu menghampiri. Ini adalah lembaga penelitian yang sudah saya incar dari zaman S1. Publikasi hasil penelitian mereka sering saya baca, begitu juga laman website yang berulang kali saya kunjungi untuk melihat kegiatan terbarunya. Ditambah lagi Kenya, adalah salah satu mimpi untuk menginjakkan kaki di benua Afrika.
Selain akan bersenang-senang dengan topik yang dipilih, koordinator program juga sempat menghibur kami kalau mulai tahun kedua setiap mahasiswa akan berjalan masing-masing. Benar saja, semua teman sekelas pergi berpencar ke belahan dunia lain. Lebih lanjut, segala urusan keberangkatan juga harus kami persiapkan sendiri. Inilah kesibukan lain selama Agustus, mulai dari komunikasi dengan supervisor, pengaturan kontrak, mencari tiket, mengurus visa, dan vaksinasi. Saya sempat heran saat konsultasi dengan dokter yang menyodori sederet daftar vaksin untuk syarat visa tinggal di Afrika. Ironisnya, dokter menasehati tips dan pertolongan pertama akan penyakit tropis. Lha saya ini dari negara tropis lho Pak?! 
Pada akhirnya, saya pun mengikuti segala prosedur demi kelancaran keberangkatan. Setiap minggu datang ke vaccinatie centrum untuk disuntik dan periksa kesehatan. Syukurlah tidak ada alergi maupun efek samping meski tiap minggu saya harus menerima beberapa injeksi sekaligus. Dokter pun memberikan bekal obat malaria dan krim anti nyamuk. Sebagai tambahan, saya membeli suplemen multivitamin. Passpor kuning yang berisi keterangan vaksin sudah di tangan, tiket sudah dipesan, visa pun sudah aman, saya pun berkemas menjelang keberangkatan.

Berpamitan
Sedari jauh hari saya sudah woro-woro pada beberapa teman terdekat akan hijrah sebentar dari Wageningen. Kamar akan tetap dibayar berhubung saya malas untuk pindah tempat. Beberapa barang pinjaman dan yang akan dipinjam sudah diserahkan beberapa hari sebelum berangkat. Dua malam berturut-turut, ada makan malam bersama teman-teman koridor di Beringhem (nama student housing yang saya tinggali), juga tentunya bersama keluarga Indonesia yang mengadakan potluck sebagai acara pelepasan karena takut saya betah di Kenya dan tak kunjung kembali. Tanpa sempat memasak karena heboh mengemasi barang dan membersihkan kamar, saya datang berbekal perut kosong. Tentu saya akan rindu dengan keramaian Beringhem. Usai makan malam, saya kembali ke kamar yang mirip kapal perang. Hampir tengah malam ketika Murti yang dulu menyambut saya ketika pertama kali datang ke Beringhem mampir ke kamar mengucapkan selamat jalan.  
Hari itu, sehari sebelum keberangkatan saya beruntung sempat bertemu dengan Pak Luki Abdullah, Dekan FAPET IPB, pembimbing akademik yang sudah seperti Bapak sendiri. Beliau bersama Pak Rudy dan Pak Pepi yang juga dosen FAPET, IPB usai menandatangani kontrak riset antara IPB dan Wageningen University. Sudah sejak bulan lalu beliau mengabari akan ke Belanda dan saya meminta waktu khusus untuk bertemu. Awalnya sulit untuk menyocokkan jadwal kunjungan yang padat, syukurlah masih bisa bertatap muka meski hanya sekejap di Gedung Zodiac. Segala pertanyaan tentang peluang riset di tanah air terpaksa saya tahan dulu, karena Bapak sedang buru-buru. Taksi yang akan membawa beliau ke tempat berikutnya sudah menunggu, kami hanya sempat ngobrol sebentar sembari jalan keluar gedung. Meski begitu, kami tetap sempatkan foto bersama dan Bapak memberi oleh-oleh makanan khas Indonesia titipan istrinya untuk saya. Terharu....ini persis setahun lalu ketika saya menunggu Pak Luki di lobi ruang konferensi untuk berpamitan lanjut studi. 

Bersama Pak Luki dan oleh-olehnya

Hari yang dinanti tiba, pada tanggal 26 Agustus saya berangkat ke Nairobi, Kenya dengan menempuh total penerbangan selama 16 jam termasuk transit di Doha, Qatar. Bersiap diri untuk lebih fokus belajar tentang nutrisi ternak dan lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya