Jumat, 31 Juli 2015

Sehari Mendaki Zugspitze

Alat bantu navigasi sudah digenggam. Ada tombol kecil tanda SOS yang bisa ditekan dalam kondisi darurat. Sengaja hari itu memakai baju dengan warna mencolok yaitu merah. Titik biru berkelap-kelip di layar, terdapat keterangan di bawahnya jarak sepanjang 23 km dapat ditempuh dengan jalan kaki selama 6 jam. Banyak rombongan pendaki yang juga menempuh rute ke puncak tertinggi Jerman, Zugspitze. Namun, secara resmi memang saya tidak bergabung dengan satupun di antara mereka, sendiri alias solo hiking.
Gerbang pertama melalui aliran sungai di antara tebing bernama Partnachklamm. Loket baru dibuka sekitar jam 7 pagi. Lebih dari 30 menit menembus jalanan gelap di pinggir tebing. Meski ada pagar, tetap saja ngeri mendengar derasnya arus sungai di bawah sana. Berjalan sendiri itu benar-benar membuat saya mendengar apa yang ada di kepala. Kata-kata yang terkadang tak sejalan dengan hati nurani. 
“Gelap, takut Tis?” sambil menengok kembali ke belakang
“Apa mau putar balik saja? Lewat atas tebing, lebih terang meski menanjak”
“Bukannya kamu tidak menderita phobia akan gelap atau tempat sempit?”
Jalan terus, cahaya mentari pagi menunggu di ujung sana. Sejurus kemudian begitu terik. Ada dua gadis Jerman sedang istirahat di pinggir sungai. Salah satunya mendekati saya untuk minta difoto. Di belakang mereka ada tanda panah bertuliskan “Zugspitze”. Belum perlu lihat GPS sepertinya, cukup mengikuti tanda jalan. 
Partnachklamm
“Allahu Akbar! Terima kasih Ya Allah, untuk sepasang mata yang bisa memandang indahnya ciptaan-Mu!" 
Salah satu tips fotografi lanskap yang pernah saya baca di majalah adalah bangun awal, sehingga kita bisa mengambil gambar dengan memanfaatkan sinar mentari pagi. Cahayanya membuat gambar lebih hidup. Benar saja, pagi itu saya banyak mencoba pengaturan manual pada kamera untuk mengabadikan pemandangan sepanjang jalur susur sungai. Bukan hanya kilasan sinar mentari yang menjadi objeknya, aliran air, bebatuan, puncak gunung di antara rimbun pepohonan, sampai kupu-kupu dan lebah yang tenang menghisap madu.
Jalur susur sungai
Ketika sedang asyik memotret, tiba-tiba ada yang menyapa “Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrahkatuh..”
Salam diucapkan lengkap oleh salah satu dari tiga pemuda berwajah Hindustan yang berpapasan dengan saya. Hati langsung terasa damai. Saya terdiam sejenak, tersenyum simpul agak ragu sambil menatap mereka sekilas kemudian menjawab salam. Ketiga pemuda itu membalas tersenyum dan berlalu menuruni bukit.
Aliran sungai terlihat mulai menyempit. Berdasarkan informasi di papan penunjuk jalan, puncak Zugspitze bisa dicapai dalam 8 jam berbeda dengan apa yang navigasi tuliskan. Masuk akal juga, pastinya medan setelah ini lebih berat sehingga perlu waktu lebih lama. Perut mulai keroncongan, tepat jam 12 siang ternyata. Saya menyeberangi sungai dan duduk di antara bebatuan untuk menikmati bekal: roti lapis keju, camilan kacang, dan buah persik. 
“Hei, ke mana rombongan yang beriringan di belakangmu tadi Tis?”
“Sepertinya mereka beristirahat sebentar di restoran”
Tak kunjung muncul juga, saya melihat ke atas. Gulungan awan putih tertiup angin berubah bentuk. Sebaiknya segera jalan sebelum kabut turun.
“Sendiri? Tidak mau menunggu rombongan di belakang?”
“Ah, sudah 30 menit duduk di sini tapi mereka tak terlihat..bismillahirrahmanirrahiim, berangkat saja!”
Pohon tinggi mulai diganti oleh tanaman perdu. Pemandangan di sekeliling adalah hamparan bebatuan yang ditumbuhi rumput di sela-selanya. Semakin sering saya berdzikir, berhubung sepanjang mata memandang tidak juga ada tanda-tanda manusia akan lewat. Seharusnya sudah dekat dengan hut, semacam pondok penginapan untuk pendaki yang tepat berada di bawah puncak Zugspitze. Satu jam berlalu, belum juga bertemu manusia. Satu jam berikutnya, akhirnya berpapasan dengan dua pendaki yang turun gunung. Mereka tentunya dari hut
Saya kembali menengadah karena matahari tertutup awan. Sesekali memastikan posisi melalui GPS. Rasanya tenang ketika masih berada di jalur yang ada di layar.
“Sendiri lagi Tis, kalau ada apa-apa bagaimana?”
“Tombol SOS bisa ditekan kapanpun, lalu menunggu Tim Evakuasi sambil mengibarkan kain merah."
"Tapi belum saatnya menyerah, lahaula wallaquatta illabillah..”
“Kenapa harus sejauh ini Tis? Setidaknya cari teman, kenapa harus sendiri?”
“Entah..”
“Mau apa kalau sudah sampai puncak? Pembuktian diri Tis? Buat apa? Buat siapa?”
“Bukan, hanya ingin....”
“Mendaki? Mencoba hal baru? Apa Tis? Lihat sekelilingmu, alam raya ini! Kamu bukan apa-apa!”
“Astagfirullahaladziim, sungguh tidak ada niat sombong, murni ingin melihat ciptaan-Nya”

Kabut turun lebih cepat dari apa yang diramalkan satelit pengamat cuaca. Jarak pandang semakin pendek. Saya terus melihat layar GPS sambil terus meneliti jalan setapak berbatu agar tidak terpeleset. 
Kerincing....kerincing....
Terdengar suara jingle yang biasa dipasang di kalung ternak. Mungkin saya berhalusinasi, ini gunung bukan kandang. 
Kerincing...kerincing...
Untuk kedua, ketiga, kesekian kalinya, tidak mungkin salah ini pasti dari ternak. Mungkinkah sapi? Di atas ketinggian seperti ini? Sekelibat saya melihat domba namun tidak yakin karena kabut membatasi jarak pandang. 
“Tidak Tis, ini bukan halusinasi!”
“Jelas-jelas tadi domba, bukan khayalan seperti Deer in The Headlight yang dinyanyikan oleh Owl City!”
“Logis Tis! Kalau ada ternak memakai jingle, pasti ada pemiliknya”

Hampir saja menyerah, berulang kali di kepala saya berdengung “Apa baiknya saya kembali saja Ya Allah?”
Sepertinya Dia menjawab tidak dan menuntun saya untuk jalan terus. Saya tidak bisa memandang sekeliling dengan jelas. Di sela napas yang terengah, saya bisa mendengar denyut jantung berdetak begitu cepat. Pasti adrenalin sedang tinggi-tingginya mengalir di pembuluh darah.

“Dan Kami lebih dekat dekat dengannya daripada urat lehernya” (QS. Qaaf 16)

Teringat akan apa yang sudah diterangkan oleh Al-Quran bahwa sesungguhnya Allah itu dekat, begitu juga dengan pertolongannya. Suara gemerincing dari kalung ternak dan domba di atas bukit itu pertanda bahwa hut sudah dekat. Rasanya benar-benar melegakan ketika melihat bangunan dari kayu dengan teras dipenuhi bangku itu menjulang di atas bukit. 
“Alhamdulillah..semakin dekat ke puncak Tis!”
Saya tak habis pikir betapa tiga jam berjalan mendaki di antara kabut sendirian benar-benar menjadi pengalaman spiritual yang berarti. Beberapa pendaki terlihat bersantai menikmati minuman yang mereka pesan dari pelayan hut. Bekal kembali saya buka, botol air saya isi penuh, tinggal sebentar lagi menuju puncak Zugspitze. Terlihat ada sepasang pendaki mulai berjalan ke arah puncak, saya pun menghampiri mereka untuk bergabung. Kabut semakin tebal, rasanya akan lebih aman bila berjalan dalam rombongan. Sekali lagi, terima kasih Ya Allah atas kekuatan seharian ini sehingga saya bisa mendaki dan turun kembali dengan selamat.

Puncak Zugspitze terlihat dari area Glacier
“Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah 214) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya