Kamis, 30 Juli 2015

Napak Tilas Kehidupan Heidi

Adakah yang akrab dengan cerita gadis kecil yang dibesarkan oleh kakeknya di kaki pegunungan Alpen? Dialah Heidi, tokoh fiksi dalam cerita karangan Johanna Spyri. Dikisahkan gadis yang tumbuh di sebuah desa yang terletak di kota Maienfeld, Swiss itu sangat menikmati hari-harinya menggembala domba bersama kawannya Peter. Sampai suatu hari Heidi pindah ke Frankfurt dan disinilah konflik mulai muncul karena Heidi merasa tidak cocok tinggal di kota besar.
Saat kecil dulu, saya sempat membaca kisah Heidi itu. Seperti cerita masa kecil lainnya yang timbul tenggelam oleh waktu. Sampai suatu hari ketika sedang berlibur ke rumah Tante saya menemukan cetakan terbaru buku Heidi dalam Bahasa Indonesia yang baru beliau beli. Merasa antara ingat dan tidak ingat, saya pun membaca ulang kisahnya. Seolah akrab dengan jalan ceritanya dan merasa ada kemiripan antara masa kecil saya dengan Heidi yaitu tinggal di pedesaan bersama ternak peliharaan. Sepertinya kecintaan akan gunung, padang rumput, juga hewan-hewan berkaki empat itu adalah pengaruh dari cerita Heidi.
Memasuki masa kuliah, saya diterima di Fakultas Peternakan, berkecimpung bersama hewan peliharaan. Saya merasa semakin menjiwai tokoh Heidi, mulai mendambakan peternakan pribadi dengan sistem free range. Dalam hati berniat suatu hari nanti ingin mengunjungi Swiss untuk melihat domba-domba digembalakan di antara perbukitan. Belum terpikirkan kalau desa tempat Heidi tumbuh itu benar-benar ada. Bukunya sendiri memang fiksi, namun di kota Maienfeld, yang berada di sebelah timur Swiss tersebut, tempat tinggal Heidi benar-benar diilustrasikan seperti tulisan Spyri.
Setelah mengumpulkan informasi dari internet, ada sebuah tur yang menyediakan paket sehari menuju Heidiland dan berangkat dari Zurich. Akan tetapi, pergi dengan rombongan tur selalu menjadi pilihan akhir jikalau terpaksa. Saya coba cari dari blog para traveler bagaimana caranya menuju ke Heidiland tanpa ikut paket tur. Ternyata mudah, cukup membeli tiket ke Maienfeld lalu dari stasiunnya sudah bisa jalan menuju Heidihoof alias rumahnya Heidi yang terletak di atas bukit. Menurut ulasan beberapa pelancong yang sudah ke sana, perlu 1 jam saja untuk mencapai Heidihoof dari stasiun Maienfeld. Kalau mau lanjut trekking ke Hedialps untuk melihat padang penggembalaan, bisa ditempuh kurang lebih 1-2 jam dari Heidihoof. 
Berangkaaaat....tas punggung andalan saya jinjing dari Zurich menuju Maienfeld. Sampai stasiun tujuan, kantornya tutup berhubung saat itu hari Minggu. Tidak ada tanda-tanda locker untuk menitipkan barang. Artinya, beban seberat kurang lebih 30 liter itu harus tetap saya gendong kemanapun kaki melangkah. Pusat informasi turis pun tidak saya temukan tanda-tandanya, bagaimana saya bisa mendapatkan peta? Kemudian mata saya menangkap papan berlogo huruf "i" tanda pusat informasi. Ternyata sebuah papan yang memuat peta jalur menuju Heidihoof dan Heidialps. Tak ada peta, fotopun jadi. Jeprettt...papan informasi saya foto lengkap dengan legendanya.
Matahari sungguh terik siang itu. Kota Maienfeld terlihat sepi kala Minggu siang. Hanya beberapa orang lanjut usia terlihat berjalan. Pertokoan tutup, namun cafe dan restoran tetap melayani pelanggan. Jalanan aspal menanjak di samping kanan kiri berjajar hotel, penginapan, vila,  dan berbagai tipe akomodasi lainnya. Belum juga masuk ke desa, saya sudah terengah. Tujuan pertama adalah Heidihoof, melihat rumah Si Gadis yang ditinggali bersama kakeknya. Tanpa memeriksa lagi gambar jalur yang ada di kamera, saya cukup mengikuti tanda Heidiweg yang terdapat di setiap persimpangan jalan. 
Deretan perumahan kemudian berganti dengan perkebunan anggur. Perlahan saya sudah mulai melihat pemandangan kota dari atas. Ketika melihat ke depan, barisan gunung tinggi menjulang. Sempat putus asa karena tak nampak juga rumah Heidi seperti yang tergambar di kartu pos. Ditambah jalanan yang sepi, rumah sudah mulai jarang, ke mana saya akan bertanya? Sudah hampir satu jam berjalan menembus ladang. Hampir menyerah, sampai akhirnya ada tanda bertuliskan "Heidihoof 3 min". Segala rasa lelah menguap seketika, semangat kembali terpacu untuk lekas sampai.
Berteduh di Halaman Heidihoof
Contreng tujuan pertama, inilah rumah Heidi. Di luarnya terdapat kandang ayam dan kambing. Patung miniatur Heidi, Peter dan Kakek menghiasi halaman depannya. Di dalam rumah tersebut ada museum dan tentunya toko souvenir. Saya tidak masuk ke museum berhubung lebih tertarik dengan kambing-kambing yang duduk tenang di atas bebatuan. Ketika sedang asyik berteduh di bawah pohon sambil melihat tingkah laku hewan-hewan, mendadak rombongan turis datang. Rumah Heidi jadi ramai. Kambing-kambing kemudian jadi rebutan objek foto baik oleh anak-anak maupun orang tua. Mata saya yang hampir terpejam tentu kembali terbuka karena suasana berubah gaduh.
Segera saya putuskan saatnya mencari ketenangan ke padang rumput di Heidialps. Lagi, saya memotret jalur pendakian ke sana. Terdapat 10 pos sepanjang perjalanan yang menggambarkan lokasi dalam kisah Heidi. Mulai dari tempat pengamatan elang, rumah Peter, tempat Paman pemahat kayu, rumah pohon, sampai puncaknya adalah padang rumput tempat Heidi dan Peter menggembalakan domba. Rute pendakian bisa ditempuh dalam waktu 2 jam untuk naik dan turun bukit. Nyatanya, saya perlu 1,5 jam untuk mencapai puncak Heidialps karena membawa beban di ransel.
Sepanjang naik gunung, saya bertemu rombongan keluarga. Bapak, Ibu, lengkap bersama anak-anaknya. Memang jalur pendakian Heidialps ini cukup mudah dan jelas. Saya menikmati perjalanan dari pos ke pos dan melihat bagaimana setiap adegan dalam cerita juga dimunculkan dalam setiap perhentian. Ah, pintar sekali pengelola tempat wisata ini. Pastinya, anak-anak dan penggemar cerita Heidi merasakan begitu hidupnya setiap kata yang diuraikan penulis. Perlahan-lahan puncak Heidialps mulai terlihat. Dari kejauhan saya sudah bisa melihat padang rumput nan lapang. Terdengar suara kalung sapi beradu. Ternyata benar-benar ada yang sedang digembalakan. Di papan informasi terdapat himbauan agar pengunjung menjaga jarak dari sapi-sapi yang baru beranak tersebut. Karena para ibu sapi sedang pada masa menyusui jadi jangan sampai membuat mereka stres sehingga berakibat turunnya produksi susu untuk anak sapi.
Padang Rumput di Heidialps
Tidak berapa lama usai sampai puncak, gemuruh petir terdengar dari jauh. Mendung menggulung, langit berubah gelap. Saya memutuskan untuk turun gunung melalui jalur yang berbeda, tidak lagi lewat pos seperti saat mendaki. Jas hujan sudah dipakai, rintik hujan mulai membasahi tubuh. Untunglah masih berada di antara kanopi sehingga tidak terlalu khawatir kalau petir menyambar. Harus tetap waspada karena jalanan licin sambil tetap memperhatikan papan penunjuk arah kembali ke Maienfeld. Selama turun gunung hampir satu jam berlalu saya tidak bertemu seorangpun. Untunglah tanda jalan begitu jelas. Tiba akhirnya di ladang anggur yang artinya semakin dekat. Dalam sekejap langit kembali cerah. Untung juga jadi baju bisa kering.
Petualangan mengunjungi Heidi disudahi kali ini. Sebentar lagi gelap, saya sudah bersiap menyeberangi perbatasan negara menuju Inssbruck, Austria.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya