Jumat, 31 Juli 2015

Kejutan di Alpspitze

Nomor satu tidak selalu lebih baik dari nomor dua. Setidaknya itu kejutan pertama ketika sampai di Alpspitze yang merupakan puncak kedua tertinggi di Jerman setelah Zugspitze. Gunung menjulang di atas ketinggian 2.628 mdpl. Jalur menuju puncak Alpspitze dari AlpspiX yaitu view point yang dekat dengan stasiun kereta gantung tidaklah mudah. Kalau sudah sampai di AlpspiX terbentang jalan setapak sempit yang hanya muat dilewati satu orang untuk menuju puncak sebenarnya. Tebing curam terlihat dari kejauhan. Pendaki harus melewati celah bebatuan raksasa yang tinggi untuk mencapai Alpspitze.
Medan bertebing menuju puncak Alpspitze
Kejutan kedua adalah ketika saya melihat papan informasi bagi para pendaki di AplspiX yang berisi himbauan agar setiap pendaki membawa peralatan demi keselamatan seperti helm, harness, screw, tali atau karamentel, figur eight, ascender, descender, dan sebagainya. Saya merasa kecil nyali untuk meanjutkan perjalanan. Modal saya hari itu hanya tas punggung berukuran 10 liter untuk membawa bekal makanan, botol minum, dompet, dan kamera. 
Namun karena penasaran seperti apa jalurnya, jadi saya jalan saja ke arah puncak. Kalau sekiranya medan ekstrim, tinggal putar balik ke arah restoran. Kejutan ketiga muncul ketika tiba-tiba cuaca berubah mendung gelap. Gemuruh petir menyambar. Mumpung belum hujan, saya masih lanjut. Sampai akhirnya rombongan pendaki yang sudah jalan lebih dulu kembali ke arah AlpspiX dan menyarankan saya untuk tidak lanjut. Terlalu bahaya dan beresiko katanya, jadi saya menurut saja. Untunglah, ketika cuaca cerah saya masih sempat mengabadikan gambar dan jalur pendakian dari Kreuzeck. Hari masih siang ketika hujan turus begitu deras.
Sampai menjelang pukul empat tepat, langit tidak menampakkan adanya perubahan. Saya menunggu di restoran. Sementara itu rombongan pendaki semakin banyak berdatangan. Mereka basah kuyup. Ada juga sekelompok orang berpakaian seragam militer, sepertinya sedang latihan fisik di gunung. Di antara semua pengunjung restoran, ada seorang pria yang menarik perhatian saya. Tubuhnya tinggi tegap dengan tas punggung kapasistas 50 liter berwarna merah. Dia mengenakan kupluk warna hijau muda. Pria ini yang saya lihat selama trekking dari bawah. Kami sama-sama solo hiker saat itu, lucunya kami pun senasib dalam hal minimnya peralatan.
Hari sudah sore jadi saya putuskan untuk turun gunung dengan kereta gantung berhubung cuaca kurang bersahabat. Kemudian pria tinggi beransel merah itu menghampiri saya.
"Do you speak English?" begitu pertanyaan pertamanya
"Yes I do. Can I help you?"
"Are you from here? May I use your mobile phone to text my family? I need to tell them that I am okay"
Sambil memasang tampang kebingungan, saya belum sempat menjawab sampai akhirnya dia melanjutkan
"Look, here is my phone but I couldn't receive any network here"
Ponsel berlogo buah apel dia tunjukkan. Kondisinya sungguh tragis, tanpa rombol navigasi utama dan layarnya hampir seluruhnya retak. Saya pun hanya bisa menahan tawa.
"If you need it you can use my number" sambil saya serahkan ponsel
"Great, thanks...but, is it roaming tariff?" dia melihat tanda "R" di samping logo operator di layar ponsel.
"Yeah, that's Netherlands number. You can use it if you need, that's fine."
"It will be more expensive, maybe I will try to restart my phone first and hopefully it works."   
Benar saja, ternyata ponselnya bisa digunakan setelah dinyalakan kembali. Kami pun masih melanjutkan obrolan. Ternyata dia juga memutuskan untuk naik kereta gantung kembali ke kota.
"Are you travelling alone?" dia memulai perbincangan setelah berhasil mengirim pesan singkat dari ponselnya
"Yeah, but it is unfortunate today because of the weather"
"I agree...did you make it? I mean to the Alpspitze.."
"Nope, we need special equipment to do that"
"Same here.."
"Hey, where are you from?"
"France, in north-east part, near to Paris"
"Nice, how's your trip going on?"
"I started from south-west part of Germany, I don't remember the name of the city exactly.."
"Is it Freiburg?"
"Emmm...not sure, totally forget, I should check the map. I rely on GPS during this trip"
"Did you go to Black Forest?"
"Aha..yes, you know where is it?"
"So I certainly guess it is Freiburg. Do you walk by the way? Doing somewhat a pilgrimage?"
"No...no...no, it is like cross country trip, so I am driving. Me and my car."
"Great, where is the next stop?"
"East part of Germany, I am heading to Salzburg."
"Do you also plan to go for hiking there? Maybe you can visit Konigsee."
"Again, I will check the map about it. You look so familiar with Germany. Have you ever been here for many times?"
"Not that many. It's just because I have Uncle and Aunt who live in Bayern so they tell me a lot."
"Aha..you live in The Netherlands as you mentioned, didn't you? What are you up to there?"
"Yup, I am student"
"And you are originally from...."
"Indonesia"
"Wow, how far! What do you study?"
"Animal Science"
"Interesting, what is all about specifically?"
"Animal nutrition, I am learning how to feed animal. So don't ask me about human's food...hahaha"
"Surprising, it's kind of new thing. Can I ask you something since you study about animal?"
"Tell me!"
"If you go to the lake or pond, there are some ducks or birds. Sometimes, I really want to feed them with bread or chips or peanuts. What do you think about it?"
"Well, I would not recommend it since they are wild animal and it's not natural for them to eat bread although that food might be not harmful for them."
"Alright, I believe in you then. By the way what is your name, if I may know?"
"Titis"
"Titis? Do I correctly say it?"
"Yes you do, and your name is.."
"Michael"
"Michael? Instead of Michele? Michael doesn't sounds like French name"
"Now you know, I thought that it is easier to say Michael. It is same anyway, sometimes it is Mikal also"
Pembicaraan masih berlanjut selama di kereta menuju kota. Kami bertukar cerita tentang pengalaman jalan-jalan. Michael akan ke Praha setelah dari Jerman untuk menemui pacarnya. Mereka berencana naik gunung di Slovakia. Saya jadi ingin ke sana juga, bernostalgia ke Praha lalu lanjut ke Slovakia dan Slovenia suatu hari nanti. Tiba di stasiun Garmisch-Partenkirchhen, obrolan masih seru. Kami jalan-jalan di sekitar kota. Dia menceritakan pengalamannya mendaki Zugspitze pada hari sebelumnya yang cerah ceria. Sebelum berpisah, dia menyemangati saya untuk tidak melewatkan trekking ke Zugspitze kalau esok hari cuaca lebih baik. 
Dan..kejutan keempat adalah obrolan sore yang menyegarkan usai hujan sepanjang hari, sampai berjumpa Michael!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya