Jumat, 31 Juli 2015

Innsbruck, Ibu Kota Alpen

Kereta dari Zurich tujuan akhir Innsbruck membawa penumpang ke arah timur Swiss menyeberangi Liechtenstein menuju Austria. Tiba malam hari sebetulnya bukan pilihan yang disarankan, karena rasanya lebih aman berjalan pada siang hari. Jarak antara hostel yang saya pilih adalah 3 km dari pusat kota Innsbruck, kurang lebih perlu 30 menit dengan jalan kaki. Untunglah bisa sampai lokasi tepat lima menit menuju pukul sebelas malam, sebelum resepsionis tutup. 
Hari pertama di Innsbruck saya memilih keluar usai makan siang setelah melepas sisa kepenatan usai trekking sehari sebelumnya. Seorang pria berwajah oriental menyapa saya dan mengucapkan "Hi, happy new year!"
Bingung, itu ekspresi yang saya tunjukkan. Sempat tengok kanan kiri untuk memastikan apakah pria itu berbicara pada saya. Kemudian sambil ragu saya jawab "Hi...emmm, which new year do you mean?"
"Hari Raya, Selamat Hari Raya, you celebrate it don't you?"
Ah, ternyata yang dia maksud adalah Idul Fitri. Pria itu berasal dari Malaysia dan sedang studi kedokteran di Moskow, Russia. Pantaslah dia tahu tentang hari raya umat muslim. Kami berbincang sebentar, menceritakan perajalanan masing-masing sebelum akhirnya saya memutuskan untuk beranjak dari hostel menuju kastil yang terletak di perbukitan sebelah timur kota. Navigasi di ponsel siap memandu menuju Schloss Ambrass. Menurut petunjuk, hanya perlu 30 menit dengan jalan kaki. Lumayan bisa jalan-jalan sore. Begitu keluar dari hostel, barulah sadar kalau kota ini benar-benar dikelilingi oleh deretan pegunungan Alpen. Pantas saja orang menamainya sebagai Ibu Kota Alpen. Kemanapun mata memandang selalu ada gunung.
Jalanan mulai sempit dan menanjak setelah melewati pusat perbelanjaan di mana terdapat toko peralatan rumah tangga asal Swedia. Kemudian sepanjang jalan menanjak dipenuhi dengan penginapan dan restoran. Matahari musim panas mulai hangat, banyak turis menikmati sore. Ada sebuah taman bermain untuk anak-anak dengan pemandangan kota dari atas bukit. Bangunan di bawah sana nampak rapi berwarna-warni. Gunung menjulang gagah sebagai latar belakangnya. Taman berpasir itu sepi, hanya ada seorang bapak bersama anaknya yang bermain ayunan. Sesekali terlihat pemilik anjing membawa peliharaannya jalan-jalan.
Taman Bermain di Atas Bukit Menuju Schloss Ambras
Gerbang memasuki area kastil sudah tampak, namun bangunan bercat kekuningan seperti yang saya lihat di internet tertutup rimbunnya pepohonan. Dimanakah kastilnya? Saya berjalan di jalan setapak berpagar tanaman. Semakin memasuki taman, semakin banyak orang yang saya lihat. Mereka muda-mudi yang sedang jogging, keluarga kecil sedang piknik, atau orang-orang sekedar duduk dan membaca. Bangunan kastilnya sendiri tidak terlalu besar seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Schloss Ambras dibangun pada abad 15 oleh Archduke Ferdinand II. Sayangnya ketika sampai sana jam kunjungan untuk mereka yang berminat masuk kastil sudah usai.
Hari kedua, saya bertekad melihat pusat kota Innsbruck sebelum pindah kota dengan bus malam. Objek pertama yang saya lihat adalah Triumphal Arch, sejenis Arc de Triomphe di Paris dan Arc de Triomf di Barcelona. Seolah menjadi tugu selamat datang di jalanan utama Inssbruck. Menyusuri jalanan Maria Theresien Strasse, di sana banyak turis berkumpul. Sayup-sayup terdengar seorang pemandu menjelaskan jadwal tur dalam bahasa Ibu saya, rombongan dari Indonesia rupanya. Saya terus berjalan melihat atraksi utama kota mulai dari Helbling House, Golden Roof, Imperial Palace, sampai Congress Hall. 
Sudah jam makan siang, hari semakin panas, sebaiknya saya mencari sesuatu untuk meredam perut yang keroncongan. Sembari berjalan kembali ke arah restoran cepat saji sasaran, ada seorang pengamen perempuan yang menanyai dari mana asal saya. Kemudian dia mengaku bisa menyanyikan lagu dalam bahasa. Dia juga menunjukkan CD berisi lagu yang ia rekam seharga 10 EUR. Kemudian dia memetik gitarnya lalu menyanyikan lagu Malaysia. Gitar yang ia pakai katanya dibeli dari seorang gitaris Indonesia. Saya mengaku buru-buru (karena lapar tepatnya), tak lupa untuk meletakkan koin sambil berlalu.
Saya memang tidak sempat hiking di Innsbruck, sebagai gantinya adalah menikmati pemandangan sore dari menara City Hall. Lumayan juga menaiki anak tangga sampai atas. Angin bertiup kencang menyegarkan badan yang sudah basah oleh keringat. Walaupun agak mendung, tidak mengurangi kekaguman pada deretan gunung yang seolah membentengi kota. Di bawah saya melihat orang berlalu lalang, begitu kecil seperti semut. Barangkali saya pun terlihat begitu kecil dari bawah sana. Betah melihat pemandangan dari ketinggian seperti ini sampai sore. Kemudian ketika waktu sudah mendekati jadwal bus yang akan membawa saya ke kota selanjutnya Garmisch-Partenkirchen, Jerman.  
Golden Roof diambil dari City Hall Tower

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya