Rabu, 29 Juli 2015

IAAS dan Zurich

Ada dua objek dari tulisan ini yaitu IAAS dan Zurich. Saya ingin sedikit menceritakan apa itu IAAS. Sebuah asosiasi mahasiswa pertanian terbesar di dunia yang berpusat di Leuven, Belgia. Berdiri sejak 1957 dan sudah eksis di Indonesia selama 22 tahun. Saya bergabung menjadi anggota IAAS pada tahun 2007 ketika masuk kuliah di Institut Pertanian Bogor. Tahun berlalu, begitu banyak kesempatan bagus yang saya peroleh selama bergabung dalam organisasi ini. Berbagai acara mulai dari lokal, nasional, sampai internasional menjadi media untuk mengenal isu pertanian lebih luas. Bukan hanya dari segi pengetahuan, yang membuat saya betah adalah rasa nyaman bersama anggota IAAS lainnya. Mereka seperti keluarga kedua. Kesempatan mengikuti World Congress (WOCO), acara tahunan IAAS yang mempertemukan anggota dari berbagai belahan dunia membuat saya merasa selalu menemukan seseorang ketika mendapat kesempatan mengunjungi negara lain. 
Objek kedua adalah Zurich, nama sebuah kota di Swiss. Termasuk dalam jajaran kota termahal di dunia. Jujur, Swiss dan terutama Zurich selama ini cenderung saya hindari kalau sedang membuat rencana jalan-jalan karena faktor dana. Terletak di bagian utara Swiss, Zurich bisa dijangkau dengan mudah dari Jerman. Di kota ini terdapat salah satu universitas yang masuk dalam daftar 10 Universitas Top Dunia yaitu ETH Zurich. Beruntungnya, di almamater Albert Einstein tersebut IAAS berkembang dengan aktif. Jadi selain pemandangan kotanya yang cantik dikelilingi oleh pegunungan, saya punya alasan kuat berkunjung ke Zurich untuk bertemu teman-teman IAAS di sana.
Tahun ini, WOCO kembali diadakan di Eropa. Awal bulan Juli lalu para delegasi mengunjungi Wageningen University of Research (WUR), Belanda. Beberapa alumni IAAS yang sedang lanjut studi di WUR sempat ikut agenda seminar di kampus kami. Tanpa disangka, masih ada beberapa peserta WOCO yang saya kenal yaitu Seyhan dari IAAS Swiss dan Yahor dari IAAS Belarus. Kami bertemu di Slovenia ketika mengikuti IAAS European Director Meeting 2011-2012. Pertemuan itu benar-benar tidak disangka, karena kami sudah jarang berkomunikasi beberapa tahun terakhir. Seyhan mengira saya masih di Denmark, sepertinya saya lupa membalas emailnya beberapa bulan lalu dan tidak mengabarkan kalau sudah pindah ke Belanda. Kami bertiga heboh sendiri, merasa menemukan anggota seumuran. Sayangnya acara di WUR hanya berlangsung sehari, saya belum puas ngobrol dengan teman-teman IAAS. Lalu saya janji akan bergabung WOCO ketika kalendar kuliah di WUR sudah beres.
Maka saya pun merencanakan perjalanan ke Zurich setelah perayaan Idul Fitri bersama keluarga Om dan Tante di Jerman. Dari Ausgsburg (tempat tinggal Om) ada bus langsung ke Zurich dengan ongkos 18 EUR. Awalnya sempat khawatir dengan akomodasi di Zurich yang harga hostel per malam bisa mencapai 40 EUR. Untunglah, salah satu panitia WOCO mengatakan kalau mereka masih mempunyai tempat ekstra kalau saya mau ikut menginap bersama delegasi. Yeah, saya bersemangat menuju Zurich!
Selama di Zurich, saya hanya akan mampir semalam untuk bergabung dalam perayaan usai pemilihan pengurus baru. Nama tempatnya Amboss Rampe, hanya 10 menit jalan kaki dari stasiun utama. Sore hari, matahari begitu terang ketika bus tiba di Zurich. Masih ada beberapa jam sebelum bergabung dengan teman-teman IAAS. Pusat informasi bagi turis adalah tempat pertama yang dituju untuk mengambil peta kota dan meletakkan tas di locker stasiun. Beberapa tempat atraksi wisata ditandai jelas di peta. Satu tempat paling menarik bagi saya adalah kampus ETH Zurich yang letaknya dekat dengan pusat kota. 
Tempat Nongkrong Mahasiswa ETH Zurich
Sore itu, saya berjalan mengitari kampus yang bersebelahan dengan University of Zurich tersebut. Arsitek bangunannya masih asli dari abad pertengahan dan terlihat megah. Di depan gedung utama terdapat selasar penuh bangku yang menghadap langsung ke pusat kota. Tempat nongkrong mahasiswa ini terletak di atas perbukitan, sehingga beberapa bangunan yang menjadi landmark kota jelas terlihat. 
Menuruni bukit, berjalan menyusuri sungai Limmat ke arah Zurich Lake. Turis dari berbagai bangsa ada di sana. Saya mendengar berbagai bahasa dari percakapan para pelancong sambil sibuk mengambil gambar. Tempat duduk yang tertata rapi di teras restoran penuh pengunjung. Terdengar lagu khas Amerika Latin dari bar di seberang sungai. Tiba-tiba, ada gerombolan seniman jalanan melakukan akrobat. Beberapa orang memegang sejenis perkusi sementara dua diantara mereka beraksi menunjukkan kebolehan salto, berdiri di atas tangan, dan berbagai geerakan break dance lainnya. 
Matahari hampir tenggelam, saya kembali berjalan ke arah stasiun menuju Amboss Rampe tempat delegasi IAAS berkumpul. Tidak sulit menemukan lokasinya. Ketika hampir sampai, di depan pintu saya disambut oleh Valentino, salah satu panitia yang juga anggota IAAS Swiss. Sedikit perkenalan, ini pertama kali kami bertemu. Lalu saya masuk dan menemukan wajah-wajah delegasi IAAS Indonesia sedang berbincang dengan delegasi lainnya. Dicky, Andro, Irvan, Ugo, Uga, Ratih, dan Nisa adalah mereka yang berangkat tahun ini. Saya merasa senasib dengan delegasi tahun ini, berhubung mereka berangkat bukan hanya sekedar menjadi peserta WOCO namun juga melaporkan kesiapan IAAS Indonesia sebagai tuan rumah WOCO 2016. Persis seperti tugas delegasi dari Indonesia ketika mengikuti WOCO 2009 di Mexico. Kami ngobrol banyak tentang pengalaman WOCO di Indonesia tahun 2010 silam. Cerita yang saya bagi tersebut semoga bisa memberi gambaran untuk persiapan panitia setahun ke depan. Tentang seperti apa acara pada akhirnya dikemas, semua adalah hak panitia untuk memutuskan. Selamat berjuang!
Sejak awal datang, saya celingukan mencari Seyhan dan Yahor seperti yang sudah kami sepakati di Wageningen untuk menyambung obrolan. Sayangnya, Seyhan harus pulang dulu karena alasan kesehatan. Yahor berdiri santai di meja bar sebelum sesi tanya jawab dengan pengurus terpilih dimulai. Saya menghampirinya, ngobrol sebentar tentang keaktifannya selama IAAS, juga rencananya dalam setahun ke depan. Kemudian Samuel, anggota IAAS dari Mexico yang juga baru saja lengser dari kursi presiden IAAS menghampiri. Saya ucapkan selamat atas setahun kepengurusan. Dia balik bertanya "How do you think the difference of IAAS now and some years ago?" 
Pertanyaan yang tidak bisa langsung saya jawab berhubung setelah lulus saya tidak begitu mengikuti berita IAAS World secara intensif. Saya hanya membagi harapan sederhana pada Samuel "IAAS is more vibrant recently I think, due to internet, especially social media. We have a strength, our worldwide networking. Hoping that it will be more useful to achieve the mission and spread the words about agricultural issue!"
Samuel mengangguk, mengaku senang mendengar bagaimana sebuah organisasi bisa bertransformasi dari waktu ke waktu. Kemudian kami bernostalgia sedikit tentang Mexico. Saya sempat ngobrol dengan anggota IAAS lainnya dari Belgia, Slovenia, dan Swedia. Rasanya menyenangkan ketika kami mengenal orang yang sama dan saya minimal tahu bagaimana kabar mereka sekarang. Ah iya, saya harus mulai mengirim pesan dan bertanya kabar mereka secara langsung.
Sehari semalam di Zurich. Esok harinya, delegasi menuju ke pegunungan Alpen di bagian selatan Swiss yang berbatasan dengan Italia sementara saya melanjutkan perjalanan ke bagian timur. Sambil menunggu kereta di stasiun Zurich, saya menulis pesan singkat untuk Seyhan berharap semoga bisa bertemu di lain kesempatan. Ternyata responnya secepat kilat dan cukup menyayat "Dear Sister, my heart is bleeding when I miss the chance to meet you!"
Kami akan bertemu lagi, saya bisa merasakannya. Pertemuan dengan teman-teman IAAS tidak cukup sekali. Kalaupun sudah berulang kali, akan selalu berkesan di hati.

auf wiedersehen Zurich!

1 komentar:

  1. this was surprising me and it just like my dream. im a new member of IAAS LC UB. im hoping that i'll be the next participant and have a chance to come over zurich :)

    BalasHapus

Terima kasih atas komentarnya