Minggu, 21 Juni 2015

Selamat Hari Ayah Sedunia!

Terima kasih Google yang memajang animasi di laman mesin pencarimu untuk memperingati hari Ayah Sedunia!
Barangkali sudah lama saya tidak merayakannya. Pertama, karena di Indonesia lebih ramai saat peringatan Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember. Kedua, karena Ayah sudah pulang ke pangkuan-Nya seringkali hal-hal yang membuat melankholis seperti ini dihindari. Bukan berarti tidak ingin mengingat beliau, namun saya tahu betul Ayah tidak suka melihat putrinya terbawa perasaan. Jadi Ayah, laporan pertama saya hari ini adalah putrimu sudah bisa mengontrol perasaan, yeaiy!
Menulis lagi tentang beliau, saya berterima kasih pada Tuhan yang meyisipkan mimpi untuk mengobati rindu selama lima tahun terakhir. Jujur, saya membutuhkannya. Tuhan tahu bagaimana menguatkan hamba-Nya. Kalau di rumah, biasanya sambil sarapan atau saat makan malam saya, Ibuk, dan Adek, selalu menceritakan kebiasaan beliau. Kami tidak sedih sama sekali, kami bangga akan apa yang beliau ajarkan sehingga saya dan Adek bisa seperti sekarang.
Laporan berikutnya seperti saat masih sekolah dulu dan beliau selalu bertanya "Bagaimana di sekolah Mbak?" maka saya ingin bercerita kalau lanjut sekolah di luar negeri itu membuat perasaan naik turun. Secara hasil di kertas, memang tidak ada yang bisa dibanggakan dari nilai hasil ujian. Tetapi, nilai pas-pasan bukan berarti kita tidak belajar sama sekali. Ibuk bertanya kenapa hasilnya belum maksimal? Apa ada yang dipikirkan? Apa ada yang mengganggu? Ah, barangkali saya memang belum memaksa diri sendiri untuk menampilkan yang terbaik. Setidaknya selama dua semester pertama, grafik semangat harus tetap naik.
Biasanya Ayah lebih tertarik dengan cerita seputar kegiatan non-akademik atau yang berbau organisasi. Semester ini, saya bergabung di klub Beekeeper Team untuk belajar bagaimana beternak lebah di negara empat musim. Ternyata luar biasa berbeda, perlu banyak perawatan. Lebah di tropis lebih mudah pemeliharaannya. Jadi nanti sewaktu pulang rumah lebah yang sudah kosong itu bisa diisi lagi, insha Allah...
Pesan Ayah untuk menyempatkan olahraga tetap dijalankan. Selama dua semester ini kebetulan asrama selalu di dekat hutan, jadi lintasan jogging begitu menantang. Apalagi ketika menyaksikan daun berguguran, pohon kering tertutup salju, sampai sekarang pucuk ranting kembali hijau. Saya tidak betah berolahraga di gym club seperti saat masih di Jakarta. Senangnya lagi, semester ini saya mulai intensif berenang berhubung ada fasilitas yang mudah dan murah di kampus.
Sehat itu adalah modal penting untuk terus jalan-jalan. Sesuai pesan Ayah jalan-jalan kali ini difokuskan untuk menyambung silaturahmi dengan keluarga, sahabat, kenalan, yang biasanya hanya bersua via dunia maya. Banyak juga tempat baru yang seru untuk dijelajahi. Memasuki pergantian ke musim semi, akhirnya tenda yang hanya disimpan dalam koper telah dibuka kembali. Kini musim panas telah tiba, agenda mendaki gunung sedang direncanakan. Semoga segala urusan lancar dan semester depan bisa melihat benua lain selama magang sebelum menulis tesis. 
Biasanya cerita jalan-jalan akan disambung dengan pertanyaan "Jalan-jalan sama siapa Mbak?"
Kalau saya sebut beberapa nama teman lelaki, kemudian beliau akan memasang wajah ingin tahu seolah memastikan apakah sekedar teman? Lagi-lagi saya jawab semuanya memang teman. Ke manapun pergi, Ibuk selalu berkomentar "Kok selalu ketemu teman jalan-jalan yang sama hobinya gitu?"
Sama hobi itu banyak Buk, tapi yang sanggup jalan-jalan bersama putrimu ini adalah hanya mereka yang sabar. Ini bukan pendapat pribadi, namun sudah disepakati oleh beberapa teman ketika pernah sesekali pergi bersama.
Begitu banyak pesan yang Ayah tinggalkan. Salah satu yang belum dilaksanakan adalah saran untuk bisa menyetir mobil. Sekarang ini rasanya cukup gowes sepeda dan naik transportasi umum. Barangkali keahlian itu akan kembali dipelajari saat pulang sekaligus memperbarui Surat Izin Mengemudi yang sudah kadaluarsa.

Sekian laporan dari saya, akan dilanjutkan pada episode berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya