Selasa, 09 Juni 2015

Ingat Tingkah Laku Hewan

Tiap minggu, dalam sesi diskusi jurnal ilmiah maupun praktikum, selalu ada pesan tersirat untuk proses belajar selanjutnya. Namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa, selalu saja ada yang luput dari perhatian. Sebagai calon ahli nutrisi ternak, salah satu aspek yang kembali diingatkan oleh dosen adalah tentang tingkah laku hewan. Melalui tulisan ini, saya ingin menceritakan dua situasi di mana saya dan teman-teman satu jurusan merasa terjebak dengan contoh kasus yang dibahas.

1. Kapan Ayam Bertelur?
Jurnal yang kami bahas minggu itu adalah tentang memaksimalkan pemanfaatan nutrisi sesuai pola kebutuhan ayam petelur. Peneliti menjabarkan hipotesisnya bahwa ayam petelur akan memanfaatkan nutrisi yang masuk ke tubuh berdasarkan waktu produksi telur. Melalui eksperimen ini, beberapa perbedaan perlakuan diuji. Jumlah pakan yang diberikan pada pagi dan sore hari dibedakan. Peneliti menduga kalau nutrisi dalam pakan akan lebih dibutuhkan pada sore hari untuk proses pembentukan cangkang telur. Beberapa indikator yang diamati adalah kualitas telur untuk melihat efek nutrisi dari pakan.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara ayam petelur yang diberi pakan dalam jumlah sama pada pagi dan sore (kontrol) dengan ayam petelur yang diberi pakan dalam jumlah berbeda. Pembahasan dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa hipotesis tidak bisa dibuktikan. Selama diskusi berlangsung, tidak satupun mahasiswa yang sadar ada satu kunci pengamatan yang belum ditulis oleh peneliti. Sampai dosen kami melemparkan pertanyaan kira-kira faktor apa yang lupa diamati peneliti kali ini. Belum ada satupun mahasiswa yang menjawab. Kemudian dosen melemparkan pancingan jawaban. Beliau menjelaskan bahwa penulis membahas kalau nutrisi dalam pakan akan digunakan untuk produksi telur, akan tetapi tidak ada keterangan kapan pembentukan telur di dalam tubuh ayam dimulai. Beberapa literatur menjelaskan pembentukan telur dimulai 4 jam setelah ayam bertelur atau dikenal juga dengan istilah oviposition. 
Bisa jadi, waktu ayam bertelur tidak dibahas oleh peneliti karena terlalu beragam untuk tiap individu. Padahal dari faktor tingkah laku hewan inilah kita bisa memprediksikan kapan perkiraan nutrisi yang sudah masuk ke tubuh ayam akan digunakan untuk produksi telur sehingga peneliti bisa menguji kapan pakan dibutuhkan dalam jumlah lebih banyak untuk ayam petelur.

2. Bagaimana Udang Makan?
Kali ini pelajaran selama praktikum tentang kualitas pakan ikan. Kami dihadapkan pada berbagai jenis pellet ikan. Kelas dibagi menjadi kelompok kecil untuk melakukan pengamatan fisik seperti kekuatan pellet, massa jenis, dan daya apung pellet di air. Usai praktikum, anggota kelompok saya sepakat kalau pellet udang adalah pakan dengan hasil uji fisik terbaik. Sampai ketika dosen menanyakan bagaimana udang makan? Lalu saya baru ingat salah satu dokumentasi tentang biota laut yang pernah ditonton. Saya masih ingat kalau udang hidup di antara karang dan memegang makanannya lalu melahapnya perlahan-lahan. Padahal pellet udang yang kami lihat saat praktikum mengambang lama di atas permukaan air. Sampai-sampai rekan satu kelompok mengira kalau udang akan muncul ke permukaan untuk mengambil makanannya. 
Sekali lagi kami lupa untuk memperhatikan tingkah laku hewan dan menyimpulkan hasil praktikum yang kurang tepat untuk aplikasi lebih lanjut. Bayangkan apa yang terjadi kalau pellet udang itu kita berikan di kolam budidaya? Bisa kelaparan udang-udang yang dipelihara, rugilah para peternak. 

Sama kasusnya dengan menyuapi anak kecil. Seringkali seorang Ibu repot mengajak anaknya jalan-jalan atau sambil memberi segala macam mainannya agar si anak mau makan. Semua itu erat kaitannya dengan tingkah laku anak. Begitu juga dengan ahli pakan ternak, bukan hanya formulasi ransum saja yang harus handal namun juga bagaimana cara menyajikan pakan di hadapan para hewan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya