Rabu, 24 Juni 2015

Belanja Produk Lokal

Seringkali kita mendengar iklan layanan masyarakat yang mengajak untuk mencintai produk dalam negeri. Menurut saya, memakai produk lokal tidak hanya ramah terhadap ekonomi pro-rakyat namun juga berdampak pada lingkungan. Begini gambaran umumnya, selama ini komoditi bahan pangan ditanam di area pedesaan. Bahan tersebut kemudian didistribusikan ke seluruh pelosok negeri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tentu dari segi transportasi akan menghasilkan emisi. Lebih lanjut, nutrisi yang menyebar tersebut tidak bisa di daur ulang di tempat yang sama. Karena konsumsi lebih terpusat di daerah padat penduduk yaitu perkotaan, akibatnya limbah menumpuk di satu lokasi. Sementara area produksi bahan makanan perlu nutrisi untuk menjaga kesuburan tanah yang akhirnya diperoleh dari pemakaian pupuk. 
Sudah hampir setahun terakhir saya berkomitmen untuk makan makanan lokal. Untungnya perut ini mudah beradaptasi dan tidak rewel selalu minta nasi. Meski begitu, komitmen makan lokal tidaklah mudah dijalankan di Belanda. Apalagi negara pusat perdagangan ini adalah tempat singgah segala macam produk makanan. Mulai dari bahan rempah khas Asia sampai buah-buahan eksotis dari Afrika dan Amerika Latin lengkap tersedia di pasaran. Belum lagi kalau sudah kangen dengan masakan Indonesia. Akhirnya saya membatasi diri sendiri untuk makan menu Indonesia saat ada acara saja. Menu sehari-hari menyesuaikan bahan lokal. Artinya, minum kopi, teh, dan cokelat panas pun mulai dikurangi.
Mendukung komitmen untuk makan produk lokal, saya pun mulai mencari tahu di mana bisa membeli bahan-bahannya. Ada beberapa toko organik di Wageningen, namun setelah saya teliti labelnya banyak juga produk organik dari negara lain. Berhubung saya belum fanatik pada produk organik dan lebih mementingkan produk lokal kemudian toko tersebut bukan menjadi pilihan utama. Tempat belanja paling mudah tentunya supermarket. Banyak pilihan dan kualitas terjamin. Lagi-lagi karena saya mulai memilih-milih bahan makanan asli Belanda, malah terkadang habis waktu untuk memeriksa label. 
Kalau dulu di Bogor, belanja sayuran di pasar tidak perlu sulit memilih mana yang lokal karena sebagaian besar berasal dari perkebunan di kawasan puncak. Pasar tradisional di Belanda yang buka pada hari tertentu seperti Rabu dan Sabtu di Wageningen atau tiap Minggu di Utrecht ternyata tidak selalu menjual produk lokal. Menurut informasi teman sekelas yang bekerja sebagai salah satu karavan penjual jamur, produk yang ditawarkan pasar lokal tersebut diperoleh dari gudang penyimpanan yang dikelola oleh bos di pasar. Bahan makanan yang dijual bisa dari mana saja, kemungkinan juga banyak yang impor. Ini yang membuat saya enggan ke pasar. Meski seringkali ada diskon ketika sudah sore menjelang tutup toko, namun saya tidak bisa memillih mana yang benar-benar produk lokal. 
Sampai pada akhirnya saya melewati area kebun sayur dan peternakan yang memasang daftar sayur beserta harganya di depan pintu masuk. Aha! Ini dia toko lokal yang dicari. Seorang petani memasarkan langsung produknya di tokonya sendiri. Letaknya persis di belakang kampus. Nama toko tersebut adalah De Hoge Born. Sayur dan buah segar dari kebun dijual dalam satuan gram. Pembeli bebas memilih mau membeli seberapa banyak. Bahan-bahan tersebut tidak dikemas dalam plastik seperti di supermarket. Mereka menyediakan kantong kertas untuk mengemas setiap jenis produk yang dibeli. Sekarang saya tidak lagi mengambil kantong kertas dari toko karena sudah memakai ulang kantong yang sudah disiapkan dalam tas belanja. 

Sambil bersepeda saya sering menengok sayur apa yang dijual minggu itu. Produk yang dijual menyesuaikan musim tanam mereka. Selain sayur, buah, susu, dan yoghurt, toko tersebut menjual produk organik lainnya seperti keju, selai, sereal, sirup, dan masih banyak lagi yang diperoleh dari petani lainnya. Sistem pemasaran langsung produk pertanian seperti ini mulai bermunculan di Belanda. Di mana petani menjual langsung ke konsumen tanpa perantara. 
Selain belanja langsung di toko yang dikelola langsung oleh petani, salah satu unit kegiatan mahasiswa di kampus juga mewadahi pemesanan sayuran dan buah-buahan lokal. Nama programnya Veggie Bags dengan sistem pemesanan lalu kita bisa menjemput kantong berisi sayur dan buah pada minggu berikutnya. Isi kantong tiap minggu menyesuaikan hasil panen petani. Cara ini termasuk mudah dan bisa merangsang kreativitas dalam memasak. Seringkali kita tidak tahu apa jenis sayur dan buah yang akan dikirim minggu berikutnya. Tak jarang juga beberapa teman sering memberikan bahan makanan yang tidak mereka suka pada saya, lumayan dapat gratis. 
Kalau saya pribadi, berbelanja langsung tetap menjadi pilihan utama. Berhubung dengan membeli di toko, kita bisa memprediksi sesuai kebutuhan selama 2-3 hari ke depan. Jadi sayur dan buah yang akan dikonsumsi masih segar. Selain itu, meminimalkan adanya makanan sisa berakhir di tempat sampah. Semoga komitmen ini tetap dijalankan seterusnya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya