Minggu, 31 Mei 2015

Menikmati Sensasi Bertemu Kembali

Salah satu motivasi untuk lanjut studi di Eropa adalah agar bisa bertemu lagi dengan teman-teman yang selama ini hanya berhubungan via dunia maya. Mereka yang dipertemukan melalui organisasi terutama. Ini cuplikan beberapa sesi pertemuan sejak mendaratkan diri di Denmark dan kini pindah ke Belanda.

1. Kopi dan Obrolan Sore di Copenhagen.
Menutup tahun 2014, saya menikmati sore santai bersama Vincent. Kami bertemu di Mexico enam tahun lalu dalam sebuah forum tahunan mahasiswa pertanian ketika musim panas tiba. Vincent adalah President organisasi dulunya, selama ini kami hanya sesekali menyapa melalui Facebook ketika saya membagi tautan artikel tentang isu Food Waste. Dia berasal dari Togo, kemudian melanjukan S2 di Denmark sampai sekarang untuk menyelesaikan penelitian tingkat doktoral. Vincent sudah menikah dengan perempuan Denmark dan memiliki dua putra. Kami bertemu di sebuah kedai kopi yang terletak di pusat kota Copenhagen. Vincent membawa putra pertamanya yang kemudian dibuat sibuk oleh video kartun favoritnya dari YouTube sementara kami bertukar cerita dan lebih leluasa berdiskusi tentang manajemen sampah.

2. Melihat Sisi Lain Berlin
Sebuah resolusi untuk jalan-jalan bersama tercetus antara saya dan Tine, seorang teman dari Belgia. Kami bertemu pertama kali ketika Tine datang ke Indonesia. Kemudian menikmati pergantian tahun 2012 di Slovenia dan saya sempat menemui Tine di Gent sebelum pulang ke tanah air usai program pertukaran pelajar. Berhubung Tine sudah bekerja, jadi agak sulit menentukan waktu untuk bertemu. Jadilah kami sepakat memanfaatkan liburan Natal untuk mewujudkan rencana. Berlin dipilih karena letaknya yang mudah dijangkau baik dari Denmark maupun Belgia. memang ini bukan pertama kalinya bagi kami untuk mengunjungi Berlin. Jadi agenda ke landmark, museum, atraksi turis yang ada di panduan wisata sudah pernah dijalani. Akhirnya kami memilih untuk melakukan business exploration dengan menjelajahi area pertokoan, galeri, restoran, bar, juga butik lokal untuk melihat keunikan produk dan desain yang ditawarkan. 

3. Merasakan Keramahan Orang Denmark di Skive.
Orang berpendapat kalau penduduk di Eropa Utara itu tak berbeda jauh dengan kondisi cuacanya, dingin. Lasse seketika mengubah opini tersebut. Kami juga bertemu di Mexico seperti cerita awal pertemuan dengan Vincent. Sungguh ini di luar ekspektasi berhubung kami tidak pernah ada komunikasi sebelumnya. Suatu hari dia muncul di laman timeline Facebook lalu iseng saya sapa. Ternyata sambutannya luar biasa hangat. Saya diundang ke kota tempat Lasse lahir, dibesarkan, sampai kini ia kembali tinggal di sana untuk bekerja. Pacarnya juga ramah dan menyiapkan makan siang setelah Lasse menjemput saya di stasiun. Kemudian saya diajak ke rumah seorang arsitek yang juga teman dekat keluarga Lasse, untuk membuat mainan dari kayu. Belum cukup sampai di sini, saya diundang dalam perayaan ulang tahun Ayah Lasse di rumah mereka. Bertemu dengan orang tua dan adik bungsu Lasse, kami menyantap makan malam setelah acara tiup lilin dan potong kue. 



4. Sambutan Tak Terduga di Wageningen
Baru beberapa hari berada di tempat baru, masih dalam tahap adaptasi. Suatu siang, saat belanja ke supermaket saya melihat sosok yang dikenal. Dia adalah Miguel, sama seperti Tine, dia juga datang ke Indonesia lima tahun lalu. Merasa kurang yakin dan takut salah orang, saya hanya pelan memanggilnya dan ternyata setelah kami saling tahu satu sama lain barulah yakin. Dia masih mengenali saya meski kini sudah memakai jilbab. Tidak ada yang berubah katanya. Kami pun sepakat menyambung percakapan melalui Facebook. Inilah awal saya tahu bahwa bahwa Jo dan Sergey yang juga satu organisasi dengan kami kini berada di Wageningen. Saya mengenal Jo pertama kali ketika kami sama-sama di Mexico. Setahun kemudian dia juga datang ke Indonesia. Lalu kami sepakat untuk makan siang, mengatur makan malam bersama di tempat tinggal Jo yang baru, dan pertemuan baik sengaja maupun tak disegaja selanjutnya.
5. Bertukar Cerita di Gent
Sudah ketiga kalinya saya mengunjungi Gent, Belgia. Setiap kali ke sana selalu ada mini reuni dengan teman yang dikenal. Kali ini saya berjanji akan menemui Simon dan tentunya Tine. Sama seperti Jo, saya bertemu dengan Simon di Mexico dan Indonesia. Tine sendiri tinggal dan bekerja di Gent. Kami bertiga menghadiri acara pagelaran budaya dan bazaar makanan Indonesia yang digelar oleh PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Belgia. Mereka berdua puas melepas kangen makan sambal kacang, sate, dan kerupuk udang. Usai acara, kami nongkrong di bar yang Simon rekomendasikan. Perbincangan tidak jauh dari kabar terbaru dari orang-orang yang dikenal. Berhubung Simon sedang menempuh studi PhD, jadilah saya menerima informasi tentang risetnya. Sebetulnya ada lebih banyak lagi orang yang dikenal dan tinggal di Gent, namun mereka belum bisa ditemui. Kami hanya bertukar kabar sekilas via telepon sambil berjanji untuk bertemu suatu saat nanti. 


Pelan-pelan saya merencanakan mengunjungi kota tempat tinggal orang-orang yang dikenal. Agar kami saling tahu kabar masing-masing bukan hanya dari media sosial. Secanggih apapun teknologi, pertemuan fisik tetap yang paling berkesan di hati.

4 komentar:

  1. senangnya.. semoga silaturahmi selalu memanjangkan usia ya tis

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin...doa yang sama buat lo Ndra :)

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya