Sabtu, 14 Maret 2015

Swedia: Edisi Stockholm dan Uppsala

Cerah!
Padahal awan masing menggantung kelabu, perlahan bergeser ke bagian kota yang lain. David, teman jalan-jalan di Stockholm kali ini mengajak saya berputar meninggalkan City Hall. Kami menuju bukit untuk mengambil gambar lanskap kota. Namanya juga musim dingin, paling tidak bisa diam kalau ada cahaya matahari biar hanya seberkas. Sebagai orang tropis, ukuran cerah kami sudah turun drastis.
Bagai diburu waktu, sebelum awan bergeser ke arah pusat kota dan kembali menutupi pemandangan yang akan diambil. Stasiun terdekat adalah Central Station, naik trem hanya berselang empat pemberhentian. Dekat juga kalau dipikir, akan tetapi kami tidak mau buang tempo. Begitu tiba di tempat yang menurut David adalah titik tertinggi di Stockholm ternyata cahaya siang itu benar-benar membantu gambar yang diambil. Beruntung, menurut David setelah ketiga kalinya ke tempat yang sama, baru ini dia merasa berhasil mengambil foto mirip di kartu pos. 
Benar saja, tak lama setelah itu gumpalan awan berkumpul di hadapan kami. Saatnya turun bukit. Kami bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing selama semester pertama menempuh kuliah S2 di Skandinavia. Hari itu, saya diajak melihat Christmas Market di Gamla Stan alias kota tua Stockholm. Berbagai temporary stand dari kayu didirikan sampai awal Januari nanti. Lokasinya tepat di depan Museum of Nobel Prize. Tiket yang mahal membuat saya urung niat untuk masuk, apalagi rombongan anak sekolah sedang berjubel antre. David menunjukkan lokasi yang pas untuk memotret main icon of Gamla Stan yakni tiga gedung berwarna merah, kuning, oranye. Kerumunan orang, sekedar jalan-jalan, bertemu teman atau kolega, perempuan dengan tas belanja dan turis yang hanya melihat-lihat seperti saya. Sebuah toko menjual minuman khas Swedia, namanya glocc yang dibuat dari sari buah apel dengan aroma jahe dan kayu manis. Menurut David, itu minuman “aman” untuk dicoba karena tidak mengandung alkohol. Berhubung pemerintah Swedia mengharuskan adanya lisensi untuk menjual minuman beralkohol sedangkan toko selama Chritmas Market seperti ini umumnya hanya sementara jadi pemiliknya tidak mau sibuk menjual barang dengan prosedur berbelit.
Mumpung hari masih siang, jalan-jalan terus dilanjutkan. Menyusuri kota tua, melihat katedral dan Royal Palace. Tidak lama, matahari tenggelam setelah pukul tiga sore. Tepat saat perut keroncongan dan David mengajak saya makan sup ikan. Nyaman sekali di perut menyantap sajian berkuah apalagi gratis seporsi buat kalau mau tambah. Rasa sup ikannya sendiri masih menempel di lidah, sedap betul!
Selain faktor cerah, bonus kunjungan yang saya dapat hari itu adalah sempat mampir ke Main Library of Stockholm. Bagian dalam gedungnya berbentuk lingkaran dengan koleksi buku dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Latin, dan seabagainya. Mulai dari novel sampai ensiklopedia rapi tertata. Di tengah gedung utama, deretan bangku menghadap sebuah panggung kecil. Fungsi perpustakaan bukan hanya untuk taman bacaan namun juga pagelaran. Pengunjungnya beragam usia, mulai dari keluarga kecil bahagia, anak muda, sampai yang sudah renta, semua datang dengan semangat yang sama yaitu membaca.
Malam hari di musim dingin bukan waktu yang baik untuk berkeliling kota. Berhubung David sudah ada janji menjajal arena ice skating jadi kami kembali ke kamarnya untuk ambil sepatu. Sebelum turun ke arena, saya dan David makan es krim dulu seolah lupa suhu di luar endekati titik beku. Ukuran jumbo untuk David yang sudah penasaran seperti apa produk yang dijual kedai baru itu. Sedangkan saya cukup menyantap satu mini cone. Leganya, ketika penjaga kedai melayani saya, dia dengan gamblang menjelaskan mana yang pakai gelatin dan mana yang tidak. Ibu ramah itu menunjuk pilihan rasa dan menegaskan kata “halal”. Terima kasih!
Sembari menunggu David dan temannya bermain di ice ring, saya berjalan ke arah National Museum melewati jembatan yang berornamen mahkota di tepinya. Ada sebuah kapal layar kuno tertambat di pinggir laut, ternyata kini difungsikan sebagai penginapan. Menarik juga, bagaimana agen wisata Stockholm mencoba menarik turis dengan sensasi tinggal di kapal kembali ke zaman viking.
Malam ditutup dengan duduk di kedai kopi, berkenalan dengan mahasiswa asal Indonesia lainnya. Kebetulan ada beberapa yang sedang menghabiskan waktu bersama. Saat sudah mendekati tengah malam, ibu kota ini tetap ramai seolah belum mengizinkan penduduknya untuk terpejam.
Cruise Hotel

Menuju ke bagian barat laut Swedia yaitu Uppsala. Kota yang dulunya menjadi pusat pemerintahan dengan kastil terbesar di Skandinavia. Tanpa ekspektasi lebih dengan segala cap berawalan ter- di negeri ini, tentu masih kalah megah dibandingkan komplek kerajaan Jawa. Masih dihiasi wajah sumringah karena hari cerah. Kereta membawa saya melintasi kota-kota kecil di sebelah utara Stockholm. Akhirnya, tempat yang selama ini hanya didengar dari cerita teman bisa dikunjungi langsung. Seharusnya perjalanan hanya memakan waktu 45 menit, kenapa ini sudah 40 menit belum ada tanda-tanda masuk Uppsala?
Seorang petugas memeriksa tiket saya dan mengatakan kalau saya salah naik kereta. Saya bertanya polos, bukankah ini kereta dengan tujuan akhir Uppsala? Benar katanya, tetapi tiket yang saya miliki adalah untuk kereta ekspres dengan gerbong warna biru. Lalu saya harus bagaimana? Kena denda? Atau turun di stasiun berikutnya? Petugas itu hanya mengerling sambil tersenyum tenang, mengatakan kalau ikut saja kereta ini sampai stasiun akhir, Uppsala Central Station. Fiuh...ini namanya betul-betul upps...salah!

“Are you studying here?” terdengar suara Bapak-Bapak dari samping tempat duduk yang berseberangan denganku
“No, I come from Denmark”
“Is it your first time using train in Sweden?”
“Actually I went by intercity train from Copenhagen”
“It’s different. I mean local train from one city to another here, yeah it’s confusing”

Bapak itu melihat tiket yang saya pegang lalu menjelaskan seperti apa kereta yang harus diambil. Dia juga menunjukkan tiketnya agar tidak keliru membeli ketika pulang nanti. Lengkap dengan informasi harga dan perbedaan waktu tempuh tiap kereta. Percakapan kami berakhir saat kereta memasuki Uppsala Central Station. Tak lupa saya ucapkan “Tak og God Jul!” (Terima kasih dan Selamat Natal, red)
Sementara itu, teman saya Niko sudah berdiri di pintu kedatangan terlihat bingung dan sibuk mencari-cari. Begitu mendengar cerita tentang upps..salah naik kereta, dia malah tertawa puas. Jam biologis saya memanggil, saatnya makan siang. Niko tidak mau membocorkan ke mana tujuan kami mengisi perut. Ternyata kejutan itu bernama food truck yang menjual masakan Indonesia. Bli Gede, nama pemiliknya yang sudah lama menetap di Uppsala setelah menikah dengan gadis asli kota itu. Awalnya Bli Gede adalah koki di Inggris, perantauannya berujung di sini. Menu hari itu adalah rendang, nasi kuning, tempe orek, kerupuk, lengkap dengan sambal. Rasanya terharu, ketika menyantap makanan pelepas rindu!
Menuju ke centrum alias pusat pertokoan suatu kota, kami mampir dulu untuk membeli kartu pos. Selain menjual suvenir, toko tersebut adalah pusat informasi turis. Ketika membayar, seorang pria muda yang duduk di samping kasir menanyakan dari mana asal kami dan bagaimana mengucapkan “see you!” dalam bahasa Indonesia. Sempat berpikir sejenak karena banyak cara untuk mengucapkan perpisahan bagi kami, yang paling tidak formal adalah sekedar mengatakan ‘Dah...!” sambil melambaikan tangan. Saya dan Niko sepakat untuk mengajarkan “Selamat Jalan” padanya. Barulah kami sadari seharusnnya “Sampai Jumpa!” lebih pas. Ah, semoga kemampuan bahasa asing tidak mengikis ilmu dasar bahasa ibu yang telah dipakai sejak lahir.
Uppsala bisa dikatakan sebagai kota pendidikan dengan universitas tertua di Skandinavia. Selain Uppsala University, ada juga Swedish Agricultural University atau lebih dikenal dengan singkatan SLU. Menurut narasumber yang berjalan di sebelah saya, di Swedia terdapat sebuah tempat yang bernama Union semacam gedung tempat berkumpulnya mahasiswa yang juga dikelola oleh mahasiswa. Mereka memiliki struktur organisasi untuk setiap area. Ada cafe di setiap gedung Union dengan harga yang lebih terjangkau untuk kantong mahasiswa, juga seringkali mereka menggelar konser dan pesta. Benar-benar untuk menyeimbangkan kehidupan akademis agar lebih dinamis.
Ini adalah kota penemu nama latin bagi tumbuhan, Carolus Linnaeus. Sebuah kebun raya dihadiahkan oleh raja kepada ilmuwan botani itu atas kegigihannya dalam taksonomi. Gedung kampus Uppsala University sendiri tersebar di beberapa bagian kota. Bentuk arsitek tempo dulu yang masih dipertahankan. Matahari cepat sekali pergi. Karena sudah mulai kedinginan kami menghangatkan diri sejenak di perpustakaan utama universitas. Terlihat mahasiswa sibuk membaca, kami pun berusaha menjaga ketenangan. 
Sore itu Niko merekomendasikan kedai kopi langganan untuk menikmati sensasi fika. Ini adalah budaya orang Swedia minum kopi melepas penat seharian, sekaligus ajang sosialisasi. Biasanya secangkir kopi kental disajikan dengan kue super manis berbentuk bolu, bertabur potongan kelapa. Bagi yang berkunjung ke Swedia, sempatkan sejenak untuk fika!

Sore itu, Katedral Uppsala

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya