Minggu, 15 Maret 2015

Melongo di Oslo

“You’re so lucky, welcome to Oslo!”
Sayangnya, kalimat itu kami terima di pagi terakhir sebelum meninggalkan ibu kota Norwegia. Kami merujuk pada saya dan Aldy, teman seperjalanan. Orang yang mengucapkan selamat datang itu adalah masinis trem yang berhasil menyelamatkan tas pinggang berisi kamera punya Aldy. Pemiliknya lebih tidak rela kalau sampai tasnya tidak bisa ditemukan dengan alasan ada simbol “National Geographic” yang katanya edisi terbatas.
Sudah empat hari kami berkeliling kota, mulai dari mencari apartemen Renate seorang desainer interior yang bersedia kami tumpangi setelah berkenalan via dunia maya sebelumnya. Baru semalam kami mengenal Renate, sayangnya dia harus pulang kampung untuk merayakan Natal. Justru malah Sang Pemilik Rumah menitipkan kepada tamu baru dikenal. Renate mengizinkan kami memakai bumbu dapur dan bahan makanan yang ada di kulkas. Dia tidak merekomendasikan makan di luar dengan alasan harga yang tidak murah bagi kantong pelajar. Selagi bisa memasak dan membawa bekal maka pundi-pundi keuangan bisa terselamatkan.
Meski sudah akrab dengan halaman www.visitoslo.com rasanya lebih mantap kalau bertanya langsung pada orang lokal. Apalagi Renate sudah tinggal selama delapan tahun di Oslo sejak masih berstatus sebagai mahasiswa. Dia membekali kami dengan peta kota dengan banyak informasi “Things To Do” untuk pelancong muda, termasuk bagaimana kalau mau kencan dengan orang Norwegia. Kembali lagi pada topik budgeting, Renate mewanti-wanti agar kami menentukan lokasi yang ingin dikunjungi agar bisa memilih tiket termurah untuk transportasi publik.
Sampai pukul 2 pagi, saya dan Aldy berdiskusi. Menandai peta, mencari referensi, menentukan rute perjalanan. Sebetulnya ada pilihan praktis berupa Oslo Pass yang termasuk tiket masuk semua museum, semua transportasi umum, juga diskon di beberapa restoran. Awalnya kami keberatan membeli tiket itu dengan alasan harga dan ingin memilih tempat lain yang tidak hanya sekedar museum atau landmark building. Ealah...setelah dihitung-hitung malah jumlahnya bisa lebih mahal, jadilah rapat malam pertama itu diakhiri dengan kesimpulan untuk membeli Oslo Pass.

Rumah Renate

Tahun ini bisa dikatakan fenomenal bagi peraih penghargaan Nobel Perdamaian Dunia. Adalah Malala, gadis Pakistan yang dianugerahi Peraih Nobel Perdamaian Termuda sepanjang sejarah atas keberaniannya menyuarakan persamaan hak pendidikan. Juga Kailash dari India yang setelah bertahun-tahun berjuang dalam isu Child Labor. Keduanya berasal dari negeri serumpun dengan catatan konflik beruntun. Masih dalam suasana penganugerahan, Peace Nobel Center pun dibuka gratis untuk umum sampai akhir tahun! Tempat inspiratif, penuh dengan kata-kata mutiara dari tokoh dunia pembawa perubahan dari masa ke masa.

Nobel Peace Center
Teman sekelas yang tahu rencana ke Norwegia di puncak musim dingin seperti ini berkomentar kalau saya sudah gila. Siapa yang mau depresi melihat pemandangan kota kelabu bersalju? Memang benar adanya, seolah menguatkan alasan tingginya angka depresi di Skandinavia. Melihat cuaca di kota, dalam hati saya ragu mau mencoba ice sliding. Lihat saja seperti apa nanti, mari kita jalan lagi! Menuju ke ujung perhentian trem bernama Frognersteren. Jalur kereta mengular naik ke atas bukit. Sampai di atas, kami terpukau melihat pemandangan seratus delapan puluh derajat berbeda. Langit biru cerah lengkap dengan sinar matahari terang terpantul di butiran salju yang menggantung di dedaunan pohon cemara. Tadinya malu-malu untuk mengeluarkan kamera. Begitu menengok kanan-kiri seolah semua penumpang trem yang saya yakin juga turis begitu antusias mengambil gambar. Kami pun girang bukan kepalang!
Sampai stasiun terakhir, seolah semua orang sudah siap dengan perlengkapan ski, papan seluncur, termasuk safety equipment seperti helm dan goggle. Tengoklah dua orang tropis yang berniat mencoba sliding ini! Saya dan Aldy harus menemukan tempat penyewaan segala peralatan itu. Daripada mencoba terus menebak-nebak, Aldy bertanya pada seorang Ibu yang menunjuk sebuah bangunan berbentuk kotak. Sampai di sana, kami hanya berhadapan dengan pintu terkunci. 
Narasumber kedua yang kami tanyai adalah seorang Bapak. Saya bertanya di mana Korketrekkeren (begitulah yang tertulis di internet) dengan susah payah diucapkan. Lalu Bapak itu menunjuk jalanan menurun dan balik bertanya apakah kami yakin mau berjalan lewat sana, ekspresinya ragu. Jadilah kami mengikuti rute turun bukit, lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit berlalu semakin tidak ada bangunan. Kanan kiri adalah bukit sedangkan jejak kaki di salju sudah tak terlihat. Tiba-tiba rombongan turis meluncur dari atas. Aldy pun bertanya di mana kami bisa menyewa peralatan sliding, kemudian lelaki muda itu menyuruh kami kembali ke atas karena di sana ada penyewaan alat di samping restoran. 
Tuhan benar-benar tahu bagaimana mengobati kangen akan sensasi mendaki gunung. Kami kembali ke titik awal. Napas sudah putus-putus, efek malas olahraga. Sudah hampir sampai di restoran yang dimaksud pemuda tadi, lemas badan saya. Aldy sudah jalan duluan. Terdengar suaranya berteriak memanggil nama saya histeris, sayup terdengar dia meminta saya melihat ke arah langit. Luar biasa! Seberkas cahaya merah muda bercampur hijau keunguan terlukis indah di atas sana! Itukah kamu wahai cahaya kutub?
Jangan pergi dulu matahari, biarkan sejenak hangatmu kami nikmati. Seolah tak mau rugi, akhirnya kami merasakan sensasi berseluncur di salju. Biar sekujur tubuh basah, dingin tak terasa sampai setelah dua kali turun bukit angin berhembus membuat kulit terasa beku.

Tak Bosan Melihat Langit Selama Seluncuran
Turis mana yang rela bangun pagi ketika liburan? Sebetulnya ini termasuk agenda dadakan yang saya dan Aldy sepakati akibat tergoda oleh foto-foto di internet. Mari kita berburu matahari terbit! Bukan ke puncak gunung namun ke tepi danau. Nama tempatnya adalah Sognsvann yang juga terletak di ujung perhentian trem
Saat tiba di sana, pemandangan yang tadinya hanya dilihat sebagai Windows Wallpaper benar-benar nyata. Orang menyebutnya dengan Winter Wonderland, saya sepakat karena memang terasa seperti di negeri dongeng. Kami bertanya-tanya di mana sebetulnya danau yang ada di papan informasi di pintu masuk. Ternyata sudah beku, hamparan putih di bawah langit biru cerah menjadi perpaduan sempurna gambar yang ditangkap kamera. Seorang nenek berjalan sendiri ke arah kami dengan wajah sumringah. Dia menyapa dan hanya mengucapkan “Wonderful, no word I can say!” terlihat kagum sampai kehabisan kata-kata. Ingin sekali saya membalas: “Nek, sepertinya penduduk sini? Pemandangan tahunan seperti ini bukannya sudah biasa bagi Nenek? Bayangkan perasaan takjub kami yang lebih-lebih ini Nek, bayangkan!” 
Nenek Berjalan Sendirian di Sognsvann
(Foto oleh Aldy)
Cantiknya Norwegia! Padahal ini musim dingin, bagaimana jadinya saat musim panas? Ramai orang datang dengan niat berlayar mengelilingi fjord, naik kereta dengan pemandangan tebing, juga merasakan pendakian menuju titik tertinggi. Iya, saya ingin kembali!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya