Minggu, 15 Maret 2015

Ke Antah Berantah Bernama Islandia

“If you want to kill people, just bring them to Iceland. Once they’re lost then they’ll never get back!”
Lelucon yang mengerikan. Secara geografis, masuk akal juga kalau tersesat di negara yang terletak hampir menempel kutub utara itu bisa membuat orang sulit bertahan hidup. Sejauh mata memandang hanya hamparan pegunungan berwarna putih sempurna. Total populasinya sebanyak 300.000 jiwa di mana 70% penduduknya tinggal di Reykjavik. Ibu kota Islandia itu dipimpin oleh seorang mayor yang dulunya berprofesi sebagai komedian. Ketenaran Sang Artis membuat penduduk kota percaya akan adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Nyatanya, Islandia sendiri mulai menyedot perhatian dunia setelah Gunung Eyjafjallajokul tahun 2010 lalu.
Kenapa ke Islandia? Ibu saya pun heran ada apa di sana? Negeri yang menurut beliau bagai titik di bagian atas peta dunia. Kalau pernah menonton film berjudul Journey to The Center of The Earth beberapa tahun lalu, tentu sudah ada gambaran seperti apa lanskapnya. Bagi penggemar Star Trek, ternyata penggambilan gambar ala luar angkasa itu juga dilakukan di sana. Tepatnya sekitar objek wisata Blue Lagoon. Sebetulnya, sejak masih sekolah dulu saya sudah mengidolakan Icelandic Band bernama Sigur Ros. Selain itu, lagu dari Of Monster and Men juga tidak pernah absen dari playlist sejak lagu berjudul Little Talks dirilis tahun 2012. Ditambah lagi, seorang penyanyi muda bernama Asgeir Trauti yang mulai merekam lagunya dalam versi Bahasa Inggris tahun lalu. Melodi folk pop song yang kaya akan instrumen membuat musik yang disuguhkan nyaman di telinga.
Selamat Malam, Reykjavik!
Begitu tahu dari ramalan cuaca kalau hari pertama ketika kami tiba cerah, saya dan teman seperjalanan sepakat untuk ke gunung menikmati matahasi terbit disambung agenda mencari Aurora Borealis pada malam harinya. Perkenalkan, rekan satu rombongan kali ini adalah Dea, Stefania, dan Julius yang paling ganteng di antara kami. Berdasarkan rekomendasi seorang teman, kalau mau hiking di sekitar Reykjavik bisa ke Esja Mountain dengan puncak 914 meter di atas permukaan laut. Kami sepakat setelah melihat dari berbagai artikel di internet dan memasang kategori “mudah” di jalur pendakian tersebut.
Semangat pagi! Kami meluncur dari penginapan saat masih gelap gulita, menaiki bus ke luar kota sekitar 45 menit perjalanan. Mata masih ingin terpejam ketika layar di bus menampilkan tulisan “Hiking Center”. Sedetik kemudian rasanya terdampar di antara gundukan salju. Bukan warung atau bangunan seperti yang biasa dijumpai di pintu masuk jalur pendakian, bahkan papan petunjuk pun tak ditemukan. Hanya halte bus kecil dengan jadwal keberangkatan. Terlihat vila berjajar, kami berkeliling mencari sumber yang bisa ditanya. Mengetuk pintu rumah seorang Bapak yang sedang menikmati kopi. Jalur sudah ditunjukkan, kami turun bukit dulu setelah bermain dengan anjing putih lucu berbulu milik Bapak itu. Guna meyakinkan diri, mumpung ada seorang lelaki, kami bertanya lagi. Dia menunjuk jalan kecil di seberang jembatan sambil berpesan agar kami berhati-hati (diucapkan sampai tiga kali). Tatapannya ragu ketika melihat kami, rombongan turis berperlengkapan ala kadarnya.
Mendaki bukit bersalju itu, bisa mengaburkan jalan yang dituju. Licin dan menanjak, harus ekstra waspada apalagi tidak ada jejak manusia yang kami identifikasi. Sepanjang jalanan menanjak, seolah gunung itu milik pribadi. Tidak kami jumpai seorang pun. Siapa pula yang mau naik gunung dingin begini? Siapa pula yang mengatakan jalurnya “mudah”? Barangkali pendaki itu menulis pengalamannya saat musim panas. Ketika sampai atas, semburat fajar di belakang kami perlahan menghilang. Cahaya matahari terbit berpadu di langit biru terang terasa hangat. Tidak ada yang sia-sia untuk perjuangan di pagi hari. Pemandangan menakjubkan hadir di hadapan kami, ketika warna kota Reykyavik tidak melulu putih. 
Naik, Turun, Gunung Esja
Tuhan itu Maha Adil, lihatlah negeri sekecil ini hanya terdiri dari satu pulau terpisah dari daratan Eropa maupun kutub utara. Dilintasi oleh deretan pengunungan vulkanik, Islandia bisa mandiri dengan energi panas buminya. Sumber ini mendukung kegiatan pertanian yang sebagian besar dilakukan di rumah kaca untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk. Salah satu komoditas pertanian yang diekspor Islandia adalah pisang, si buah tropis. Berbicara tentang makanan, adalah wajib mencoba lamb soup. Bagi yang doyan, silahkan juga untuk meyicipi shark soup, whale soup, juga puffin soup.
Hari belum berakhir setelah turun gunung. Misi selanjutnya adalah melihat Aurora Borealis a.k.a Northern Light. Berdasarkan informasi, skala aktivitas Aurora Borealis berkisar di angka empat dari rentang 1 sampai 9 malam itu. Artinya bisa dilihat secara kasat mata. Pemandu perjalanan menjelaskan bagaimana kilatan cahaya itu terbentuk, sambil menyarankan tehnik mengambil gambar. Menengok ke arah kanan-kiri jalanan, sepanjang perjalanan rasanya tidak berpapasan dengan kendaraan lain. Bahkan rumah pun tidak ada. Masihkah saya di dunia? Alam fantasi mulai berkelana.
Tiba di satu titik, orang mulai keluar kendaraan sambil terus mendongak ke atas. Indahnya bulan bulat sempurna, malam itu purnama tiba. Sayangnya cahaya bulan termasuk polusi bagi pengamatan Aurora. Kalau saja orang-orang tidak berteriak sambil menunjuk ke arah cahaya hijau itu, sepertinya saya tidak akan sadar itulah objek yang kami nantikan. Lebih jelas ketika ditangkap kamera dibandingkan dengan mata telanjang. Apa daya, faktor cuaca membuat tangan gemetar saat mengambil gambar. Ini namanya kurang persiapan, lumayan jadi pengalaman lain waktu. Akhirnya, apa yang biasa dilihat di dunia maya bisa disaksikan secara nyata.
Foto Pertama Seorang Amatir
Arus modernisasi tidak mengikis kepercayaan dan mitos lokal di Islandia. Menurut hasil survei, sebanyak 60% dari total penduduk masih percaya dengan cerita tentang elf dan troll. Mereka juga masih mengagungkan gunung api yang seringkali diceritakan dengan kata ganti perempuan dan geiser dengan kata ganti laki-laki. Keindahan alam Islandia menyadarkan orang yang tinggal di sana untuk terus melindunginya. Salah satu objek wisata air terjun paling megah bernama Gullfoss memiliki cerita dramatis. Konon seorang petani lokal menolak pembangunan di sekitar air terjun itu dan berusaha keras untuk melakukan upaya konservasi. Untunglah perlahan dia berhasil menyadarkan pemerintah untuk mendukung perlindungan melalui undang-undang.
Cerita dari Gullfos
Setelah empat hari melihat Islandia, rasa penasaran sebetulnya belum terpuaskan. Semoga nanti bisa dilanjutkan, menuju bagian lain negeri untuk mendaki gunung berapinya. Suatu hari, saat musim telah berganti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya