Kamis, 22 Januari 2015

Ujian Itu...

Terdengar menyeramkan bukan kata "ujian" itu? Nampak seperti sesuatu yang serius, nyatanya saya tetap membuka akun sosial media, makan banyak, dan tidur nyenyak seperti biasa. Akan tetapi setelah semua ujian berlalu justru saya tidak bisa tidur memikirkan hasilnya. Perasaan menyesal dan kata "seharusnya" selalu mengawali setiap kalimat, misalnya:
"Seharusnya saya tidak melulu jalan-jalan dan belajar mempersiapkan ujian" atau "Seharusnya saya berdoa lebih khusyuk, agar Tuhan memberi petunjuk"
Semester pertama sudah dilalui, kalau ditanya seperti apa maka biasanya saya jawab "Kuliahnya enak, ujiannya yang susah..hahaha"
Sesusah apa? Berhubung dari total 4 mata kuliah wajib, ada 3 mata kuliah yang dinilai dengan ujian lisan. Segala laporan dan tugas tidak diperhitungkan untuk mendongkrak nilai seperti saat kuliah S1 dulu di mana ada proporsi antara ujian, tugas, kehadiran, juga praktikum. Ujian lisan berhadapan dengan 3 dosen ahli di bidangnya, saya gemetar tak karuan sebelum masuk ruangan. Ya, hasilnya pas-pasan tidak bisa dikatakan maksimal. Ketika ujian terakhir Professor saya berkomentar singkat "we expect more than what you've done today"
Ah, beliau mungkin hanya menghibur. Nyatanya memang saya sempat totally blank, bahkan berkali-kali memastikan pertanyaan yang diajukan. 
Seperti biasa setelah ujian, Ibuk mengirim pesan singkat bertanya bagaimana tadi. Saya langsung menelponnya, bercerita panjang ke Ibuk lalu beliau hanya meyakinkan kalau ini hanya awalan saja. Sudah berselang lebih dari dua tahun sejak saya lulus S1. Melanjutkan studi setelah bekerja tentu perlu proses penyesuaian. Masih ada semester berikutnya untuk memperbaiki. Iya, kata-kata Ibuk selalu menenangkan. 
Bukankah sejak awal saya sudah meyakinkan diri bahwa proses lebih penting daripada hasil? Sedangkan ketika ngobrol dengan teman-teman satu program kami sepakat kalau nilai adalah bonus dari pengetahuan yang kita pelajari selama kuliah. Dan saat ini, rasanya terlalu dangkal kalau hanya melihat pencapaian nilai. 
"Instead of what you achieve, you'd better think about what can you give"
Ini sebuah pernyataan yang tertanam sejak lulus dari kampus dulu, karena pencapaian pribadi tidak akan berarti tanpa mampu memberi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya