Kamis, 23 Oktober 2014

Menuju S2 (#2 : Siapkan Amunisi)

Judul bagian ini terlihat berat dan berbau militer, ya kira-kira begitulah semangat saya yang berkobar demi mewujudkan keinginan untuk lanjut S2 di luar negeri. Saya harus diterima di universitas tujuan dan mendapatkan beasiswa. Dua tahap tadi perlu perjuangan yang tidak bisa setengah-setengah, belajar dari kegagalan sebelumnya saya pun kembali memyusun strategi. Secara umum ada 3 tahapan yang saya lalui setelah tahu mau S2 di bidang apa:

Langkah 1: Mencari program dan universitas yang dituju
Berhubung saya sudah suka dengan program yang diusung Erasmus Mundus (EM) bernama Sustainable Animal Nutrition and Feeding (EMSANF) di Wageningen University, Belanda sejak 2 tahun sebelumnya, maka saya meletakkan program tersebut di urutan pertama yang akan didaftarkan (lagi). Nah, sebagai informasi kita boleh mendaftar sampai maksimal 3 program EM, jadi saya memilih 2 program lainnya yang masih dalam bidang peternakan di Copenhagen University, Denmark dan di Gottingen University, Jerman. Saya juga sempat berdiskusi dengan teman dan alumni yang sudah lebih dulu mengambil Master di Jepang, Amerika Serikat, maupun Australia. Setelah menimbang dan akhirnya memutuskan, saya semakin yakin untuk fokus pada 3 program EM yang aplikasinya sudah diproses saat itu. 
Sebetulnya saya sempat mau mendaftarkan diri ke ETH Zurich, Switzerland, salah satu universitas 10 Besar Dunia namun sayangnya saya salah lihat tanggal sehingga terlambat dari batas waktu pengiriman aplikasi. Selama proses pendaftaran itu saya masih sering meminta nasehat dari pembimbing akademik semasa S1 dulu yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Peternakan IPB, Prof. Luki Abdullah. Beliau juga ikut mendoakan agar diterima di WUR, Belanda karena saat ini memang universitas tersebut unggul dalam bidang risetnya. 

Langkah 2: Mencari beasiswa untuk program yang diminati
Selain menyediakan program Master dan Doktor, EM juga memberi beasiswa bagi yang memenuhi kriteria. Rencana pertama saya tentu melamar program dan beasiswa EM, rencana kedua kalaupun hanya diterima program artinya saya akan mendaftarkan diri ke Beasiswa Unggulan dari DIKTI, Kemendiknas atau Beasiswa LPDP, Kementerian Keuangan. Kedua beasiswa tersebut adalah beasiswa dari pemerintah Indonesia, Bukan hanya itu, bahkan saya juga mengumpulkan informasi berbagai beasiswa dan membuat timeline pendaftaran di dinding kamar agar tidak terlewat. Beberapa beasiswa yang saat itu sempat saya lirik antara lain Chevening, DAAD, Nuffic/Nesso, Swedish Institute, Australian Award, INPEX-Japan, dan AMINEF. 
Info-info itu tidak bisa didapat dengan singkat dan cepat, saya perlu waktu untuk mempelajari tiap jenis beasiswa sehingga bisa mengetahui mana yang benar-benar akan dicoba. Kembali lagi ke kata "fokus", berhubung biasanya penutupan pendaftaran antara satu beasiswa dengan yang lainnya berdekatan tentu akan sulit dalam mempersiapkan semuanya dengan bersamaan. Awalnya saya sering ikut pameran beasiswa, namun karena terlalu ramai dan tidak kondusif untuk bertanya lebih detail akhirnya saya lebih mengandalkan mesin pencari dan menghubungi langsung pada penerima beasiswa tentang apa yang kurang jelas.

Langkah 3: Mempersiapkan persyaratan dan menyusun jadwal
Memasuki tahap ketiga sudah mulai meruncing dan terlihat arah tujuan melangkah. Biasanya persyaratan umum baik untuk mendaftarkan diri ke universitas maupun lembaga beasiswa antara lain sertifikat TOEFL/IELTS dengan minimun skor tertentu yang berbeda tiap programnya, surat rekomendasi, rencana studi, surat motivasi, CV, transkrip nilai, dan sebagainya. Penting untuk melihat format yang diminta ketika kita mengumpulkan berkas-berkas tersebut termasuk deadline aplikasinya, biasanya juga dicantumkan hari, tanggal, jam berdasarkan waktu di belahan bumi bagian mana, misalnya CET (Central European Time).
Tiga syarat pertama yang saya sebutkan tadi biasanya yang selalu menjadi kendala, oleh karena itu penting untuk tahu kapan kira-kira program yang dituju akan dibuka pendaftarannya sehingga bisa mempersiapkan diri sejak jauh hari. Sertifikat Bahasa Inggris pun perlu waktu, pengalaman saya mengambil IELTS dari tes sampai hasil keluar perlu waktu 15 hari kerja. Supaya hasilnya mencukupi syarat S2, tentu harus persiapan matang bukan? Waktu itu saya mengambil kelas intensif selama 3 bulan usai jam kantor. Selanjutnya ada 3 orang yang saya minta kesediaannya menulis surat rekomendasi baik untuk mendaftar program maupun beasiswa yaitu pembimbing akademik, pembimbing skripsi, dan atasan saya selama bekerja. Ternyata kata-kata yang beliau tuliskan begitu sakti dalam mendukung aplikasi, terima kasih Bapak-bapak dan Ibu tercinta!

Secara keseluruhan kurang lebih selama 1-2 tahun saya melalui serangkaian proses tersebut untuk persiapan lanjut studi. Pengalaman mengajarkan saya bahwa keberuntungan adalah ketika persiapan bertemu dengan kesempatan. Selamat berjuang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya