Kamis, 23 Oktober 2014

Menuju S2 (#1 : Luruskan Niat)

Keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang Master memang sudah ada sejak masih duduk di bangku S1. Itulah salah satu alasan saya ikut pertukaran pelajar ke Eropa yaitu merasakan atmosfer belajar di luar negeri. Dua tahun lalu saya mendaftarka diri ke program beasiswa Uni Eropa untuk melanjutkan S2 di bidang yang sama dengan S1 saya yaitu Nutrisi Ternak dan Teknologi Pakanseiring dengan euforia belajar yang begitu tinggi, namun Tuhan mengatakan "belum saatnya" sehingga aplikasi saya ditolak. Kalau dilihat dari segi persiapan, memang belum matang. Saya pun sadar diri dan meminta review dari koordinator program yang ingin saya ikuti untuk meminta saran kira-kira apa yang harus saya tingkatkan untuk bisa diterima bahkan kalau bisa mendapatkan beasiswanya. 
Salah satu pertimbangannya adalah minimnya pengalaman kerja yang mendukung. Seolah ditunjukkan jalan lain oleh Tuhan, maka saya pun memutuskan untuk bekerja dan diterima di sebuah perusahaan nasional bidang pengolahan susu. Syukurlah sejalan dengan minat saya sejak S1 yaitu ternak perah meski lebih ke arah sektor hilir. Sejak awal masuk perusahaan, saya sudah bercerita pada atasan bahwa niat saya bekerja adalah mencari pengalaman selama 1 atau 2 tahun lalu melanjutkan studi S2. Pak Bos pun mengerti bahkan sangat mendukung keinginan saya.
Seiring dengan perjalanan karir, banyak kesempatan lain yang sesungguhnya bisa saya dapat dengan mudah. Bekerja langsung di bawah Direksi, dekat dengan CEO dan jajaran Direktur perusahaan jelas membuka peluang karir yang lebar. Mulailah saya berpikir apa masih mau S2 di bidang pakan ternak seperti yang saya idam-idamkan dulu? 
Pak Bos sendiri adalah lulusan MBA dari Oxford University, beliau tentu merekomendasikan supaya anak buahnya juga mengambil jurusan yang tidak berbeda jauh. Di sinilah ujian pertama saya, yaitu menemukan apa yang benar-benar saya inginkan. Perlu waktu untuk menjawab 3 pertanyaan berikut untuk diri saya sendiri:
1. Kenapa mau S2?
2. Kenapa harus S2 (di luar negeri)?
3. Mau apa setelah S2?
Proses ini akhirnya berujung pada jawaban yang saya jadikan dasar pengambilan keputusan dalam langkah selanjutnya. Kira-kira berikut singkatnya:
1. Pengalaman kerja selama 2 tahun sebagai Internal Consultant membuat pengetahuan saya begitu holistik. Pada masa yang akan datang saya ingin menjadi pribadi yang unik dengan menjadi ahli di suatu bidang yang spesifik. Dua hal yang menjadi ketertarikan utama saya selama ini adalah isu mengenai ternak dan lingkungan. Keahlian yang ingin saya miliki itu adalah sebagai seorang ahli nutrisi yang bisa meramu pakan ramah lingkungan. 
2. Menjadi ahli nutrisi tidak bisa dipelajari hanya melalui kursus atau pelatihan dalam waktu singkat tanpa adanya pengamatan dan pengalaman. Oleh sebab itu saya perlu waktu khusus untuk lebih fokus dalam mempelajarinya melalui studi formal. Program S2 yang saya minati di bidang nutrisi dan lingkungan diajarkan di Eropa, itulah alasan utamanya di samping alasan bonus untuk bisa berjejaring dan jalan-jalan, tentu sebagai anak muda tidak munafik kalau kuliah di luar negeri adalah kesempatan bagus untuk melihat dunia. 
3. Banyak rencana setelah S2 antara lain melamar ke universitas sebagai dosen sebagai tempat aplikasi ilmu. Rencana lainnya adalah mengajukan project proposal ke NGO untuk rancangan online database bahan pakan Indonesia, penelitian tentang sistem evaluasi pakan di Indonesia, juga pembuatan mini feedmill di beberapa sentra ternak yang mengolah limbah agroindustri menjadi produk pakan yang berkualitas. Selain itu mulai merancang untuk membangun peternakan sendiri dengan konsep organik dan ramah lingkungan. Banyak sekali rencana yang ada di kepala saya, semoga bisa fokus dan mulai meyusunnya satu per satu.
Sampailah saya pada keputusan untuk melanjutkan S2 dengan kembali ke ranah utama kuliah S1 saya dulu yaitu nutrisi ternak, alasannya saya tidak bisa bohong kalau masih menyukai bidang itu dan ingin berbuat lebih banyak. Suatu ketika, saya sedang melihat-lihat kembali dokumen kuliah yang tersimpan di laptop dan menemukan sebuah tulisan berjudul "Proposal Hidup" dibuat pada tahun 2010. Saya baru ingat pernah menulisnya untuk tugas mata kuliah Kewirausahaan. Tertulis antara lain rencana mengikuti pertukaran pelajar, tahun lulus, ingin bekerja di perusahaan seperti apa, lanjut S2, sampai rencana menikah, secara tidak sadar sejauh ini tiap hal yang saya tulis terjadi pada waktu yang diperkiraan saat itu. Semoga termasuk dengan rencana menikah tahun 2016 nanti, amiin. 

"dalam perjalanan mewujudkan rencana-rencana kita nanti, jika datang rasa penat maka kita perlu kembali menguatkan niat" 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya