Rabu, 01 Oktober 2014

Kesejahteraan Hewan Ternak

Banyak yang bertanya kenapa saya harus ke Aarhus University (AU), Denmark dulu padahal koordinator program S2 yang diikuti adalah Wageningen University of Research (WUR), Belanda. Saya diterima dalam program Erasmus Mundus Action 1 yang skema kuliahnya berpindah-pindah, jadi harus memilih minimal 2 dari total 4 universitas. Alasan saya memilih AU adalah mata kuliah yang disajikan. Judul semester ini adalah Animal Nutrition and Environment. Mahasiswa akan mulai dikenalkan mengenai aspek lingkungan dari kekurangan pada manajemen peternakan. Luaran yang diharapkan dari segi nutrisi pakan adalah solusi untuk modifikasi pakan yang ramah lingkungan. 
Minggu pertama kuliah, kami diajak untuk mengunjungi beberapa peternakan di sekitar Aarhus seperti babi, sapi perah, ayam petelur, dan linsang. Kunjungan tersebut semakin menambah pengetahuan saya tentang manajemen peternakan di Eropa khususnya Denmark sebagai salah satu negara Skandinavia yang menerapkan aturan ketat untuk menjamin kesejahteraan hewan. Kalau mau belajar legislasi dan tata kelola lingkungan, saya mengangguk setuju bahwa Denmark adalah negara yang bisa dijadikan teladan.
Mari saya ceritakan seperti apa penerapan prinsip kesejahteraan hewan yang sudah dirumuskan oleh Uni Eropa dalam Undang-Undang Kesejahteraan Hewan.
1. Ruang Gerak Hewan
Denmark sudah mengatur peraturan kandang atau housing system untuk tiap jenis ternak. Misalnya pada ayam yang dipelihara secara organik, satu koloni tidak boleh lebih dari 3000 ekor dengan luasan area per ekor 6 meter persegi. Sungguh detail bukan?
Contoh lain misalnya di peternakan babi, induk yang sedang bunting tidak boleh ditempatkan dalam kandang jepit.Ternak harus bebas bergerak untuk mengurangi stres. Sapi perah yang akan beranak juga diberi kandang isolasi sesuai dengan perilaku alaminya yang cenderung memisahkan diri dari kelompok ketika beranak maupun sakit. Lain halnya dengan sapi laktasi yang tidak boleh diikat di kandang. Desain bangunan kandang juga harus menjamin akses pakan dan air minum bagi ternak. 
2. Kaidah Etologi (Tingkah Laku Hewan)
Awalnya, saya pikir tingkah laku hewan dipelajari sebatas mengetahui pola makannya untuk merancang desain kandang. Ternyata lebih dari itu, peternak di sini wajib tahu seperti apa tingkah laku alami ternak di alam liar sehingga bisa memberi fasilitas yang memadai di kandang. Ada penelitian khusus yang dirancang untuk mengamati babi liar dan babi yang telah didomestikasi (dijinakkan). Kebiasaan babi liar untuk berjalan selama 2-6 km serta perilaku mengatur bedding dengan jerami adalah poin penting yang diamati. Aplikasinya, ruang terbuka untuk babi serta cadangan jerami kering disediakan di kandang.
Selain itu, kebiasaan menghisap (sucking) yang dimiliki anak sapi perah juga menjadi bahan pengamatan. Jika masih ditemui anak sapi menghisap ekor anak sapi lainnya yang berada dalam satu kandang, berarti akses makanan anak sapi tersebut kurang memadai, maka harus ada perbaikan. Lain halnya dengan ayam petelur yang disediakan semacam rak untuk tempat bertengger. Bahan pembuatan rak tersebut adalah logam untuk menghindari kontaminasi apabila terbuat dari kayu.
3. Sarana Hiburan untuk Ternak
Bukan hanya manusia yang perlu hiburan, ternak pun begitu. Sarana tambahan di kandang ternak yang saat ini mulai diwajibkan Uni Eropa adalah enrichment facility. Contoh aplikasinya adalah kayu dan rantai di kandang babi. Sarana hiburan yang ditemukan di kandang linsang yang sangat kecil antara lain pipa dan ruangan ekstra di bagian atas untuk tempat peristirahatan. Linsang adalah karnivora semi-akuatik yang habitat aslinya di danau atau rawa dengan pakan utama ikan. Ketika linsang dikembangbiakkan dengan sistem insentif, maka tidak ada lagi akses ke kolam sehingga perlu adanya kompensasi yakni sarana hiburan. Ternyata, fasilitas tambahan ini tidak sembarangan dibuat, ada penelitian khusus yang mengkaji sesuai dengan jenis hewan dan sistem pemeliharaannya. Tertarik meneliti topik ini? Bukan main-main lho :)

Kandang Ayam Petelur Organik

Kandang Babi Bunting

Kandang Linsang


Barangkali, penerapan kesejahteraan hewan belum menjadi priorotas di Indonesia. Masih banyak yang berpikir mengapa harus mengurusi kesejahteraan hewan padahal manusia masih hidup susah? Saya pribadi percaya bahwa makhluk yang diciptakan di muka bumi ini baik tumbuhan maupun hewan hidup bersama untuk mendukung ekosistem. Kalau Uni Eropa sudah mengawali dengan Konsensus Kesejahteraan Hewan, maka semangat positif ini perlu ditularkan ke Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya