Rabu, 01 Oktober 2014

Aspek Pakan dalam Peternakan Organik

Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar produk sayur, buah, daging, juga telur dengan embel-embel "organik"? Sebagai mahasiswa, saya langsung merujuk pada satu kata yaitu "mahal". Maklum, produksinya saja perlu kriteria khusus. Kesempatan mengunjungi peternakan ayam petelur organik pada minggu awal kuliah lalu menambah pengetahuan saya tentang manajemen peternakan organik yang berbeda dari peternakan konvensional. 
Secara umum, peternakan organik menerapkan manajemen pemeliharaan yang mendekati sifat ternak di habitat aslinya. Kalau dari segi pemberian pakan, Uni Eropa telah mengeluarkan persyaratan sebagai berikut:
- Bahan harus bebas dari tambahan bahan kimia
- Tidak boleh menggunakan tanaman hasil modifikasi genetik (GMO)
- Tidak boleh menggunakan bahan pakan sintesis seperti asam amino murni
- Tidak boleh memberikan antibiotik maupun hormon
- Dilarang memberikan meat bone meal dan bahan pakan hewani
- Pemakaian tepung ikan diperbolehkan dalam jumlah tertentu
- Tanaman pakan tidak boleh menggunakan pestisida atau pupuk kimia
- Bahan pakan harus berasal dari daerah sekitar peternakan, tidak boleh impor

Usut punya usut, menurut info dari dosen yang mengajar mata kuliah ini ternyata banyak tantangan untuk mewujudkan sistem peternakan organik. Salah satu contohnya adalah pemakaian asam amino esensial sintesis untuk ayam petelur yang belum bisa dihindari. Selain itu, bahan pakan sumber protein yang kebanyakan impor juga masih dicari alternatifnya. Uni Eropa tadinya mencanangkan mulai 1 Januari 2012 target tersebut mulai dipenuhi guna mewujudkan 100% produk organik. Kesepakatan tersebut kemudian mundur menjadi tahun 2015 dan kabarnya akan diundur (lagi) menjadi tahun 2017. 
Nah, dari sekian banyak tantangan yang perlu dihadapi memang yang belum menemukan titik temu adalah mencari bahan pakan sumber protein lokal. Beberapa penelitian dilakukan untuk mencari solusinya antara lain dengan penanaman kedelai varietas tertentu yang bisa tumbuh di Denmark. Ada juga pengembangan protein dari bahan serangga sampai pada pemanfaatan kerang laut untuk pakan.
Apabila sistem peternakan organik akan diadaptasi di Indonesia, rasanya tantangan mencari bahan pakan sumber protein tidak akan menjadi persoalan utama di Indonesia. Mengingat tanah air yang gemah ripah loh jinawi dengan berbagai tanaman dapat tumbuh dengan subur. Artinya ragam sumber bahan pakan alternatif pun dapat mudah ditemukan di Indonesia. Saya jadi ingat penelitian yang dilakukan sebagai bahan penyusun skripsi dulu yaitu pengembangan Indigofera untuk ternak ruminan. Indigofera adalah tanaman legum perdu yang berasal dari Afrika dan mulai ditanam luas karena tinggi kadar protein (lebih dari 25%). Tentunya banyak sumber protein lain yang masih belum dikembangkan.  
Meski banyak tantangan dan peraturan semakin ketat, negara-negara Uni Eropa semakin bersemangat untuk menggarap sektor ini seiring dengan meningkatnya minat pasar. Selain dipercaya menghasilkan produk yang lebih sehat, ternyata ada aspek lain yang didukung dengan perkembangan sistem pertanian organik yakni ramah lingkungan, menjaga keanekaragaman hayati, serta mendukung kesejahteraan hewan. 
Ada yang belum paham apa hubungannya peternakan organik dengan aspek-aspek tersebut? Mari saya jelaskan singkatnya. Bahan pakan ternak yang diperoleh dari lingkungan sekitar akan mengurangi emisi karbon akibat aktivitas impor. Uni Eropa juga mulai menggodok larangan inseminasi buatan pada ternak yang dipelihara secara organik. Tentu ini akan menjaga keanekaragaman hayati hewan yang mungkin selama ini peternak hanya fokus mengembangkan bibit unggul saja. Seperti yang telah saya singgung pada tulisan sebelumnya, bahwa manajemen pemeliharaan peternakan organik harus sesuai dengan perilaku alami hewan. 
Saya jadi tertarik terjun ke bidang peternakan organik ini, dengan misi mengolah limbah pertanian menjadi bahan pakan. Ditambah lagi, sistem organik menurut saya merupakan model manajemen peternakan yang berkelanjutan. Yap, semoga bisa belajar maksimal lalu membawa aplikasi ilmunya di Indonesia..amiin

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

4 komentar:

  1. tiiss.. saran doong. template blog lo yang lebih gampang dibaca dong tis. tulisannya jd mepet2 hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih sarannya Sar, coba lihat ini cuma ganti font..hehe
      Gimana?

      Hapus
    2. dah lumayan tis kebaca.. btw kalo bales reply gak ke notif. untung gue cek wkwkwk.. saran satu lagi. kalo mau post komen, passwordnya diilangin aja. ada di settingan. ntr bkin orang mls komen kalo ada password2 kwkwkwk

      Hapus
    3. kenapa gak masuk notif Sar?
      Oke, makasih..udah diubah setelannya.
      P.S. Kalau mau ngasih saran soal blog japri aja yak, biar fokus sama artikel..hehehe

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya