Senin, 08 September 2014

Vitamin Palsu

Kebiasaan baru ketika masuk S2 diantaranya adalah membaca materi kuliah sebelum kelas dimulai. Sore ini, di tengah suasana mendung dan gerimis, saya sedang menikmati bacaan sore berjudul "Introduction to Nutrient, Digestive Physiology, and Feed Analysis" bagian dari buku "Applied Animal Nutrition" yang ditulis oleh Cheeke pada tahun 2005. Sampailah saya pada bagian yang menjelaskan vitamin dan sedikit kaget pada kalimat terakhir dengan bunyi sebagai berikut:
There are numbers of bogus vitamin (e.g. vitamin F, vitamin H, vitamin P, etc.). These names are coined by entrepreneurs selling dietary supplements.
Langsung saya buka halaman mesin pencari yang kita semua tahu, tidak lain tidak bukan adalah Google dengan kata kunci "Bogus Vitamin". Muncullah sederet artikel dengan judul Pseudovitamin. Lha? Berarti vitamin palsu donk, yang tidak ada dalam kamus nutrisi. Nama-nama seperti Vitamin F, P, ataupun H itu hanyalah nama pasaran. Tadinya saya pikir nama vitamin itu ada singkatannya seperti "F for Fabulous" yakni suplemen vitamin kompleks yang bisa membuat konsumennya tampil keren. Hahaha...
Bukan itu ternyata, jadi penamaan vitamin palsu ini pun juga tidak berdasarkan kepanjangannya. Saya ambil contoh lagi untuk Vitamin F yang komposisinya terdiri dari gabungan asam linoleat dan asam alfa-linoleat. Produk ini dikeluarkan oleh sebuah perusahan India dan diklaim sebagai suplemen omega 3 dan omega 6. Baiklah, sampai sini saya semakin bingung. Omega 3 dan 6 itu asam lemak esensial, tapi ini suplemen dinamakan vitamin. Wah, memang bahasa ilmiah dan pemasaran seringkali tidak bisa bersandingan. Biasanya semakin kontroversial, semakin banyak yang membicarakan, semakin banyak yang penasaran dan mencoba, akhirnya perusahaan yang diuntungkan.
Selain tiga nama vitamin yang ditulis tadi, masih ada banyak bogus vitamin seperti vitamin B15, B17, B22, O. U. T, dan lain-lain. Ada yang diklaim sebagai vitamin penangkal kanker, autisme, dan bermacam-macam khasiatnya. Nah, ini ceritanya obat..bukan vitamin. Silahkan dicari referensinya ya, tapi jangan berharap baca di jurnal nutrisi karena sekali lagi itu semua adalah nama pasaran. 
Cheeke kemudian melanjutkan penjelasan, bahwa syarat suatu substan bisa disebut sebagai vitamin yaitu:
1. Merupakan bahan organik (bukan sintesis dari bahan kimia)
2. Dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit dalam diet
3. Penting bagi aktivitas metabolisme
4. Apabila kebutuhannya tidak terpenuhi, akan muncul gejala-gejala defisiensi (misalnya sariawan ketika kurang vitamin C)
5. Tidak dapat disintesis oleh tubuh, jadi harus dipenuhi melalui makanan yang dikonsumsi (pengecualian pada vitamin D yang bisa disintesis dari sinar matahari dan niacin atau vitamin B3 yang dapat disintesis dari asam amino triptofan)

Semoga bermanfaat,

Titis 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya