Sabtu, 06 September 2014

Kejutan Budaya

Percaya tidak percaya, meski sudah mengunjungi banyak tempat dengan beragam budaya bahkan pengalaman tinggal di luar negeri dalam waktu yang lama namun itu semua tidak berarti kejutan budaya alias culture shock bisa dihindari. Topik inilah yang saya bahas bersama Daniel, sahabat yang juga baru mengawali semester baru selama masa studi S2 di Eropa. Kebetulan Daniel mendapat kuliah khusus tentang materi ini, jadilah kami mendiskusikan apa sebetulnya kejutan budaya, fasenya, ciri-cirinya, juga bagaimana cara mengatasinya.
Mengutip dari tautan ini saya ingin menjelaskan dulu tahapan apa saja yang dirasakan ketika kita mengalami perpindahan dari dua tempat dengan latar belakang budaya berbeda.
1. Fase Honeymoon atau Euforia
Saat ini kita merasa di awang-awang seolah mimpi menuju tempat yang diinginkan menjadi kenyataan. Segala hal di tempat baru terlihat bagus dan 'wah'. Biasanya terjadi pada hari-hari awal setelah kedatangan. Kita akan menjadi sangat tertarik untuk pergi ke sana kemari dan mengetahui tempat baru. Semangat berkobar dan serba tidak sabar mengunjungi landmark kota tertentu yang dulunya hanya dilihat sebatas gambarnya saja. 
2. Fase Frustasi
Setelah merasa "bahagia" awalnya, kita mulai merasa kesusahan di tempat yang baru. Bahkan ada yang sampai mempertanyakan apakah perlu datang jauh-jauh kemari? Inilah fase yang membahayakan karena seseorang bisa jadi disorientasi. Ciri-ciri yang terlihat seperti perasaan sedih, kesepian, membanding-bandingkan dengan tempat lama, sampai dengan berpikiran bahwa seharusnya kita tidak berada di sini,  
3. Fase Penyesuaian
Jika kita berhasil melewati Fase 2 dengan tenang, maka tibalah pada tahap penyesuaian di mana kita mulai beradaptasi dengan budaya lokal dari tempat baru. Perasaan rindu akan rumah masih muncul, namun kita lebih dapat mengatasinya dan telah memiliki teman baru yang bisa saling mendukung.
4. Fase Penerimaan
Setiap tempat pasti menyimpan baik buruk yang bersifat relatif bagi tiap orang. Inilah pemikiran kita setelah melewati serangkaian fase kejutan budaya. Kita mulai mengenal tempat baru dan mengatasi setiap kesulitan yang datang.
Jika dilihat dari fasenya, yang paling membahayakan tentu "Fase Frustasi". Sedikit tips ingin saya bagi supaya efek kejutan budaya ini tidak sampai membuat disorientasi. Banyak cara mengatasi fase ini, bagi saya pribadi melihat kembali apa yang menjadi tujuan awal perjalanan kita sifatnya wajib. Ketika muncul pertanyaan "mengapa harus ke tempat ini?sebetulnya kita tidak perlu pergi jauh?atau barangkali ada tempat yang lebih baik dari sekarang?" artinya inilah saat yang tepat untuk kembali membuka "Motivation Letter" dan gambar "Vision Board" yang sudah dibuat beberapa waktu lalu. Kemudian saya akan kembali bersemangat bahwa ada tujuan besar yang patut diperjuangkan.
Apakah hanya pada Fase Frustasi saja yang berbahaya? Ternyata kejutan budaya ini tidak berhenti sampai Fase Penerimaan, ada namanya "Re-Entry" yang akan dialami ketika kita kembali ke negeri asal. Tahapan ini akan terus terjadi ketika kita keluar dari zona nyaman. Pernahkah merasa tidak nyaman karena panasnya Indonesia usai pulang dari luar negeri? Atau stres terjebak macetnya Jakarta? Lalu mudah terserang diare ketika makan di pinggir jalan? itulah beberapa ciri-cirinya. Bukankah sebagus apapun kota yang kita tinggali, selalu ada rasa ingin pulang ketika kita pergi? 
Nah, sekarang bagaimana ketika kita tidak bisa mengatasi kejutan budaya dan belum bisa keluar dari fase kedua? Seringkali kita seolah merasa setiap hal tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Jadi tetaplah sadar bahwa tidak semua kejadian buruk berasal dari dalam diri kita, maka ada banyak hal di luar sana yang tidak bisa kita kendalikan. Contoh kasus mungkin ketika kuliah di luar negeri kita tidak pandai bersosialisasi karena jarang ikut pesta, mari dilihat kembali kalau tujuan utama kita adalah belajar dengan baik maka hal-hal lainnya bukanlah menjadi fokus utama.
Secara tidak sadar, perpindahan yang dilakukan oleh manusia entah sebagai turis maupun penduduk baru selalu berujung pada kejutan budaya. Kembali pada masing-masing seberapa besar kadarnya dan bagaimana mengatasinya.

"There's no growth in comfort zone, there's no comfort in growth zone"

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya