Rabu, 16 Juli 2014

Belajar Komunikasi di Dunia Maya

Berdasarkan hasil uji kepribadian menurut 16 personalities saya digolongkan dalam kepribadian ESTP (Extroverted, Observant, Thinking, Prospecting). Beberapa artis yang tergolong kepribadian ini adalah Madonna dan Bruce Willis, dari total populasi biasanya hanya ada 4% orang bertipe ESTP dibandingkan 15 tipe lainnya. Tiga kata sifat pertama yang menggambarkan kepribadian ESTP adalah social, spontaneous, dan direct. Sederhananya mudah bergaul dan ceplas-ceplos. 
Manusia memang jauh dari sempurna, dalam setiap sifat yang dimiliki selalu memiliki baik-buruknya. Satu sisi, saya beruntung mudah bergabung dalam suatu komunitas baru. Terkadang, pembawaan saya yang ceplas-ceplos bisa membuat orang lain sakit hati kalau saya tidak pandai membawa diri. Itulah yang sampai saat ini terus saya pelajari.
Kemudahan menjalin interaksi dengan orang baru dan menemukan bahan obrolan, bisa jadi adalah satu faktor yang menjadikan saya mudah bergabung dalam suatu komunitas bahkan membentuk jejaring. Perkembangan era digital saat ini, mendorong adanya komunikasi via dunia maya semakin berkembang. Hadirlah berbagai fasilitas chatting untuk menunjang forum diskusi tanpa harus bertemu langsung untuk menyelesaikan pekerjaan. Kalau dulu zaman sekolah, sering ada jadwal belajar kelompok untuk mengerjakan tugas, kini cukup dengan aplikasi Skype, WhatsApp, LINE, ataupun situs media sosial lainnya sebagai sarana diskusi. Tugaspun selesai tanpa harus tatap muka.
Di antara sekian banyak aplikasi chatting yang ada, saya aktif menggunakan Skype dan WhatsApp untuk forum diskusi. Terima kasih bagi para penemu aplikasi, karena yang sekarang ini saya rasakan begitu mudah proses pengambilan keputusan dilakukan. Ini cerita saya selama seminggu terakhir yang mengikuti berbagai forum diskusi via online dengan berbagai topik dalam waktu hampir bersamaan:
- Diskusi mulai dari pemasaran produk pertanian, pembuatan portal bisnis online, birokrasi ekspor-impor, sampai dengan tata niaga perusahaan susu bersama teman-teman seangkatan di IPB yang berasal dari Madiun.
- Diskusi isu lingkungan, aktivitas kampanye, ekspedisi untuk misi energi terbarukan, sampai dengan legalitas organisasi bersama teman-teman Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik.
- Diskusi tugas-tugas untuk tahap akhir seleksi beasiswa bulan Agustus nanti bersama teman-teman sekelompok.
- Diskusi persiapan keberangkatan lanjut S2 yang membahas tentang housing, visa, tiket, dan lain-lain bersama teman-teman yang akan merantau mulai semester depan.
- Pembahasan acara buka bersama di grup alumni
- Juga private chat dengan keluarga di kampung halaman dan teman-teman yang terpisah jarak

Saya teringat ketika era internet belum pesat seperti sekarang. Saat di mana rasanya jarak begitu jauh memisahkan. Meski begitu, bagi saya pribadi pertemuan langsung masih menjadi favorit dalam berdiskusi atau sekedar bertukar cerita. Seringkali apa yang dimaksud dalam tulisan mengakibatkan salah pemahaman bagi yang membaca. Itu juga sebabnya, dalam setiap diskusi yang berlangsung bersamaan seperti tadi saya lebih banyak diam dan mencerna dulu ke mana arah pembicaraan forum.
Kebiasaan buruk lain yang saat ini saya hindari adalah malas membaca percakapan ketika tidak menyimak forum. Hikmahnya, sekarang saya belajar menerapkan tehnik scanning dalam membaca. Selain itu, saya jadi lebih hati-hati dalam mengungkapkan ide. Belajar tata bahasa dan pilihan kata agar mudah dimengerti pembaca sehingga tidak ada kesalahpahaman. Proses ini mengingatkan saya pada teori yang diajarkan selama mengambil mata kuliah Dasar-Dasar Komunikasi.
Melihat perkembangan komunikasi dengan pesatnya seperti saat ini, saya jadi penasaran seperti apa teknologi canggih di masa yang akan datang. Bisa jadi bukan hanya video call yang saat ini tersedia dalam skema 2D berubah menjadi 4D sehingga memungkinkan adanya jabat tangan langsung. Just my imagination...
Satu hal yang sedikit saya sayangkan dari perkembangan ini adalah kesibukan tiap orang dengan dunia maya masing-masing ketika bertatap muka langsung. Contoh kasus, ketika sudah berkumpul malah sibuk sendiri dengan gadget masing-masing. Entah sibuk update status atau foto, menanggapi chatting, juga check in demi eksistensi di dunia maya tanpa memperhatikan orang yang sudah hadir secara nyata di hadapannya. Inilah yang perlu kita semua perhatikan yakni mengenai communication attitude, bagaimana caranya agar lebih bisa menghargai lawan bicara.
  
Pada prinsipnya, kita harus pandai menempatkan diri dalam berbagai jalur komunikasi baik di dunia maya apalagi di dunia nyata.


Cheers,

Titis 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya