Senin, 09 Juni 2014

Selagi Muda

Bulan Juni, bulan keenam tiba. Awal bulan ini saya isi dengan jadwal rutin enam bulanan yaitu ke Dokter Gigi. Agenda scaling dan pemeriksaan rutin saya lakukan sesuai dengan kebiasaan yang Ayah tanamkan sejak kecil. Ini pertama kalinya saya periksa gigi di Jakarta, biasanya jadwal cek gigi saya lakukan ketika pulang ke Ponorogo. Klinik 24 Jam di dekat kantor saya pilih berdasarkan rekomendasi rekan kerja. Jadilah tadi malam saya antre menunggu pasien yang sudah lebih dulu datang. Ada seorang Ibu-Ibu yang menjadi resepsionis di meja pendaftaran pasien. Bersama dengan rekannya yang menjadi asisten perawat, ibu itu berbincang sembari mengomentari acara di TV:

Keterangan : I = Ibu; A = Asisten
I : "Itu di Bali pantainya bagus ya?"
A : "Saya juga belum pernah Bu, katanya Pak Dokter banyak bule"
I : "Ah, kapan ya saya bisa ke Bali? Mana udah tua begini"
A : "Gak usah ke Bali, kalau mau ke pantai itu Ancol deket"
I : "Saya tuh nggak pengen ke luar negeri, udah Bali aja ndak apa-apa. Masa orang Indonesia nggak pernah ke Bali"
A : "Nabung Bu, pergi naik pesawat nanti"

Dalam hati saya sangat bersyukur, bisa mendapatkan kesempatan pergi ke berbagai tempat pada usia 20-an. Baru saja pertengahan bulan Mei lalu saya ke Bali dan Lombok. Seandainya tiket teman saya yang batal waktu itu bisa dipakai Ibu Resepsionis tadi, pasti beliau akan senang luar biasa. Imam Syafi'i seorang filsuf pernah mengatakan agar kita merantau, untuk menimba ilmu pengetahuan dan menjalin persahabatan. Menurut saya, ini bukan masalah tua atau muda namun pada keberanian untuk mengambil kesempatan.
Kemudian saya teringat cerita pertemuan dengan sepupu di Mataram. Namanya Priska yang seumuran dengan saya, kami dulu sering bermain bersama sebelum keluarganya pindah ke Lombok. Saya dan Priska sewaktu kecil punya hobi yang sama-sama suka main ke sawah. Kami tumbuh menjadi gadis yang jauh dari sifat feminin. Begitu dia tahu saya baru turun gunung Rinjani, seketika dia terlihat kecewa karena belum kesampaian ke sana gara-gara tidak mendapat izin dari Ibunya. Sewaktu saya tanya pada Tante, alasannya takut kalau Priska kenapa-kenapa. Sekali lagi saya bersyukur dalam hati atas dukungan yang selama ini diberikan orang-orang terdekat.
Ada 2 faktor yang memengaruhi seseorang dalam mewujudkan keinginannya yakni kondisi internal dan eksternal. Faktor internal adalah seberapa kuat kita menginginkan sesuatu, sedangkan faktor eksternal antara lain dukungan orang-orang terdekat. Adanya dua faktor utama itulah yang menurut saya paling menentukan pencapaian seseorang. Seringkali orang mengatakan perlunya faktor keberuntungan. Menurut saya beruntung itu ketika persiapan bertemu dengan kesempatan. 
Bicara soal beruntung, tentu saya merasa beruntung tidak memiliki problematika seperti yang Priska rasakan. Ibu saya selalu mendukung setiap rencana yang ingin dicapai oleh putri-putrinya. Apapun itu, sejak kecil keluarga telah membekali saya dengan nilai-nilai yang harus dijaga. Sisanya adalah murni keputusan saya. Setiap kali saya bercerita keinginan yang ingin diraih pada keluarga besar, tanggapannya selalu positif "Coba saja! Mumpung masih muda"

Karena lawan dari ketakutan bukanlah keberanian, namun penyesalan.

Nah, untuk mereka yang sedang dalam proses pencapaian misi sebaiknya kita berdoa tidak hanya meminta diberi kekuatan untuk memperjuangkan keinginan kita, namun juga agar ditempatkan di lingkungan yang mendukung untuk mewujudkannya.



Salam,


Titis 

2 komentar:

  1. setuju.. Iya kadang gw berpikir. Banyak orang yang secara finansial sama atau lebih tinggi malah. Tapi mereka hanya hidup di satu lembar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Andra, maksudnya hidup di satu lembar? satu lembar uang?hehe..
      Berarti kemauan belum ada ya..sayang sekali

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya