Jumat, 23 Mei 2014

Memori dari Rinjani


Hampir setahun merencanakan pendakian satu ini. Akhirnya tiba juga saya di puncak gunung berapi nomor dua di Indonesia bernama Gunung Rinjani. Kalau ditanya seperti apa di atas? Rasanya seluruh kata sifat yang menggambarkan ketakjuban akan habis untuk menjawabnya. Persiapan bersama 8 orang anggota tim pendakian dimulai beberapa minggu sebelumnya. Kami sepakat bagi tugas dalam membawa segala peralatan dan perbekalan. Pastinya semua sudah tahu betul persiapan fisik untuk pendakian kali ini tidak bisa dianggap mudah, apalagi ada beberapa pemula dalam tim sehingga kami saling mengingatkan supaya olahraga teratur, istirahat cukup, dan menjaga menu makanan.
Detail cerita perjalanan sudah saya jabarkan di akun kompasiana. Tulisan yang satu ini akan lebih banyak menyajikan gambar sepanjang perjalanan. Selamat menyimak !

Pendakian dimulai dari Desa Sembalun Lawang, Kab, Lombok Timur. Kami memilih jalur ini karena lebih ramah untuk pemula. Ada total 4 Pos yang harus dilewati.
Sapi bali di padang penggembalaan, salah satu pemandangan yang jarang ditemukan di Indonesia bagian barat terutama Pulau Jawa.

Medan pendakian dari Desa Sembalun Lawang menuju Pos 1 dan Pos 2 didominasi padang sabana terbuka. Waktu tempuh melewati bukit-bukit ilalang bisa dicapai 1-2 jam dari pos ke pos.

Tiba di Pelawangan Sembalun ketika matahari hampir tenggelam disambut pemandangan Segara Anakan menghapus segala letih usai melewati Bukit Penyesalan dari Pos 3 ke Pos 4.
Perkemahan bagi para pendaki di Pelawangan Sembalun. Sepanjang pendakian cuaca begitu cerah ditemani sinar bulan purnama yang bulat sempurna.
Seperti kata pepatah semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerjang. Begitu pula medan yang harus dilalui menuju ketinggian 3726 meter di atas permukaan laut. Jreeeeeng....inilah pendakian sesungguhnya menuju puncak, penuh pasir, debu, dan jalanan berbatu.

Sampai juga di puncak, kuncinya tetap berdoa dan menikmati prosesnya. Indah, pemandangan yang tadinya saya saksikan dari foto kini bisa dilihat langsung.
Komplit 8 anggota tim pendakian ke Rinjani, dari kiri ke kanan : Tulad, Farid, Rissar, Mamo, saya, Putu, Lisa, dan Kadek. Terima kasih teman seperjuangan untuk kebersamaan, semangat, dan pengertian selama jalan bersama.
Pengalaman bertemu pendaki lainnya selalu menjadi cerita saat ke gunung. Kami bertemu Oma, usianya 57 tahun, namun semangatnya untuk mencapai Puncak Rinjani tidak kalah dengan yang masih muda. When age is only a matter of number !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya