Jumat, 02 Mei 2014

Hampir Tidak Pernah Cukup

Teringat suatu kejadian ketika saya sedang naik Damri dari Bandara Soekarno Hatta menuju pusat kota Jakarta. Uang dalam dompet saya terdiri dari pecahan 10 ribu, 20 ribu, 100 ribu (masing-masing satu lembar) dan beberapa koin yang belum dihitung. Begitu sampai di terminal Blok M, saya akan naik busway ke Jalan Sudirman untuk bertemu seorang teman. Pikir saya perlu 25 ribu untuk membayar tiket bus dan 3,5 ribu tiket busway. Ketika petugas di bus menagih uang tiket, saya memberikan 30 ribu padanya. Ternyata tidak ada kembalian, saya salah strategi. Seharusnya tadi saya membayar dengan uang 100 ribu supaya masih ada pecahan uang kecil untuk naik busway. Lalu saya mulai menengok koin yang tersimpan, ada koin 1000 rupiah sebanyak 2 buah, koin 500 rupiah hanya satu, dan koin 100 rupiah berjumlah 9 buah. Totalnya hanya ada 3400 rupiah, saya perlu koin 100 perak lagi untuk membeli tiket busway. Kemudian saya mulai sibuk memeriksa setiap ruang di dompet, kantong celana, bahkan sampai dasar ransel barangkali ada receh tercecer. Rasanya sayang memecah uang 100 ribuan, biarlah awet keutuhannya. Hasilnya nihil, koin tidak bertambah jumlahnya.
Kesempatan lainnya mengenai betapa sesaknya mengucapkan kata "hampir" adalah ketika ada seorang teman yang datang dari Spanyol ke Singapura untuk menyaksikan salah satu pameran makanan terbesar se-Asia. Tahun lalu dia mampir ke Indonesia, namun tahun ini agenda bisnisnya tidak memungkinkan untuk mengunjungi Jakarta. Kemudian dia mengirim pesan pada saya, menanyakan apakah saya akan berada di Singapura untuk acara yang sama. Tiba-tiba saya sangat menyesal, lalu menengok undangan acara tersebut tergeletak di atas meja kerja dengan masam. Kalau tahu begini, saya sanggupi saja ajakan ke pameran itu. Hanya satu jam penerbangan menuju lokasi dan tidak perlu menginap. Pasti akan seru ikut pameran besar sekaligus temu kangen. 
Rasanya kata "hampir" begitu kejam dan kurang toleransi. Setiap cerita yang dibagi selalu ada bagian klimaks di mana inti dari berbagai peristiwa akan terungkap. Kemudian kata "hampir" muncul di kalimat penutup dan memberikan antiklimaks. Ibarat perjalanan, yang namanya hampir tiba di tempat tujuan berarti tidak benar-benar tiba. Terlepas dari apakah ada tujuan lain yang dicapai, atau ternyata ada improvisasi perjalanan yang lebih menarik tetap saja pada akhirnya tidak sampai. Kata hampir selalu membawa cerita yang berbeda dari apa yang kita kira sebelumnya.

Cause sooner or later
We'd wonder why we gave up
Truth is everyone knows
Almost, almost is never enough

(Ariana Grande feat Nathan Sykes)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya