Rabu, 16 April 2014

Penyakit Hari Pertama

Sambil meringis menahan sakit perut, saya mengetuk pintu kaca Pak Direktur. Berharap permohonan izin saya akan dikabulkan.
Saya = T; Pak Direktur = D

D : "Masuk Tis!"
T : "Permisi Pak, hari ini saya boleh izin setengah hari?"
D : "Mau ke mana kamu?"
T : "Saya kurang enak badan Pak.." (memasang wajah memelas, berharap agar tampak sedikit pucat, namun gagal)
D : "Ah, kelihatan seger-seger aja tuh.."
T : "Ini sakit yang tidak bisa Bapak rasakan"
D : "Ha? Nggak usah doain saya sakit juga. Kenapa kamu?"
T : "Sakit kaum hawa Pak, hari pertama"
D : "Oooo..segitu sakitnya?"
T : "Perut saya rasanya diremas-remas Pak, tulang linu-linu, meriang, jadi nggak maximal kerja Pak"
D : "Ya udah sana, daripada pingsan di kantor malah repot"
T : "Terima kasih Pak, saya masih bisa kerja via email kok.."

Percakapan itu sudah terjadi kurang lebih setahun lalu. Pak Boss masih heran dengan istilah "sakit yang tidak dapat Bapak rasakan" itu. Memang para pria tidak akan pernah tahu, seperti ketika saya membayangkan seperti apa rasanya khitan pada cowok. Memang sudah kodrat perempuan, fase ini dinamakan menstruasi ketika pembuluh di dinding rahim luruh karena tidak adanya pembuahan. Secara biologis, siklus ini terjadi sebulan sekali. Seiring dengan pergerakan masa subur dan aktivitas hormonal lainnya yang juga akan berdampak pada kondisi emosional para perempuan. Biasanya tanda-tanda perubahan mood menjadi lebih sensitif, gampang tersinggung dan marah karena alasan yang sepele biasanya melanda menjelang masa menstruasi atau yang lebih dikenal dengan Pre Menstrual Syndrome (PMS).
Sejak awal datang bulan saat masih berseragam biru-putih dulu, hari pertama selalu membawa rasa sakit tersendiri. Gejalanya adalah perut seperti diremas-remas dan tulang belakang terasa linu. Selama PMS, memang mood bisa berubah sewaktu-waktu, untungnya tidak sampai marah-marah atau menangis histeris tanpa sebab hanya saja saya cenderung lebih malas untuk melakukan sesuatu. Kalau sudah mendekati periode, mendadak saya malas keluar rumah, hanya ingin lebih banyak tidur-tiduran sambil nonton TV. Anehnya, penyakit hari pertama ini bertambah gejalanya semenjak saya mengikuti pertukaran pelajar di Eropa dua tahun lalu. Sekarang, saya menderita flu bulanan yang hanya terjadi menjelang dan saat hari pertama saja. Bersin-bersin diikuti pilek datang bersama demam yang naik turun.
Atas kemudahan akses internet, saya pernah membaca berbagai tips untuk mengurangi derita hari pertama. Biasanya kalau di rumah, Ibu selalu menyediakan jamu kunyit asam dan memang mujarab. Sekarang, sesekali saya titip ke Ibu Kost kalau ada tukang jamu gendong lewat. Seumur-umur saya tidak pernah minum obat pereda nyeri datang bulan, masih ragu dengan residu dari bahan kimianya. Berbekal beberapa kata kunci di mesin pencari, tips seperti banyak minum air putih, istirahat cukup, olahraga teratur, dan menjaga pola makan dengan banyak mengonsumsi serat pernah saya coba namun belum berhasil menangani nyeri.
Ajaibnya, sakit hari pertama tidak menyerang saya ketika naik gunung. Begini ceritanya, akhir tahun 2012 lalu saya diajak teman-teman mendaki Gunung Gede, Bogor. Sampai di basecamp pendakian ketika semua anggota sedang sibuk repacking, barulah saya cek ternyata tamu bulanan saya datang. Apa mau di kata, kami sudah berada di depan pintu gerbang pendakian. Dimulai dengan doa, saya sudah sampaikan pada rekan satu tim supaya maklum kalau nanti merepotkan. Syukurlah selama pendakian semuanya aman selamat sentosa sampai kami kembali ke rumah masing-masing. Agak ngeri juga mendengar cerita teman yang mendaki Gunung Gede beberapa bulan setelah itu melihat ada cewek yang sedang datang bulan dan kesurupan di gunung. Hiiiii...
Lucunya, akhir tahun lalu ketika ajakan mendaki Gunung Gede kembali datang malahan saya gagal ikut karena tidak kuat menahan rasa nyeri di perut yang menjalar ke seluruh tubuh. Padahal segala perlengkapan trekking sudah masuk carrier dan siap dibawa. Agak menyesal juga ketika keesokan harinya, pada hari kedua saya benar-benar kembali bugar lalu melihat tas teronggok begitu saja.
Hari ini, hari pertama dalam hari kerja, kembali diserang penyakit hari pertama. Tadinya sudah berniat untuk minta izin ke Pak Boss, toh beliau sudah hafal. Bahkan, tahun lalu jatah izin masuk kantor setengah hari telah saya habiskan karena alasan sakit yang sama. Tidak, saya bertekad kalau kali ini saya tidak akan kalah dan berakhir guling-guling di kasur. Saya segera mengambil segelas air hangat, membeli buah, dan memaksakan diri untuk makan siang agar kebutuhan energi terpenuhi. Voila! sampai sore saya bisa bertahan di kantor dan menyelesaikan tugas dengan baik. Sebuah kemajuan, tidak perlu lagi izin pulang setengah hari.

*Senyum Kemenangan*


2 komentar:

  1. Huaaaa titis sama banget ya kayak aku, kalau hari pertama suka ngilu dan nggak kuat..
    Tapi kalau pun nggak masuk kan ketika hari pertama nggak apa-apa,soalnya dalam PKB setiap perempuan punya hak cuti haid 1 hari setiap bulan ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Cmie untung pada pengertian, sampai orang di sekitar pada heran ternyata bisa juga aku lemah lunglai karena alasan yang cewek banget..haha

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya