Senin, 07 April 2014

Libur Panjang Akhir Maret (Bagian 3)

Senin, 31 Maret 2014

Pagi Solo !
I have good relationship with this bed, don’t set me apart..

Tersadar sebentar untuk menunaikan sholat Subuh, kemudian kembali menarik selimut. Tidur super nyenyak usai pendakian, tanpa mimpi yang bisa diingat. Kami berjanji akan bertemu jam 9 untuk sarapan bersama lalu jalan-jalan keliling Solo. Yoga yang pada malam sebelumnya belum nampak, pagi itu menghampiri ke kostnya Cristi. Kami menjemput Ratih dan Citra yang baru bergabung hari ini. Para lelaki sudah nongkrong di warung kopi. Tadinya Mukti sudah mau berpamitan, sampai harus kulancarkan rayuan maut untuk menahannya. Jujur, belum puas saya ngobrol dengannya. Masa iya cuma bertemu beberapa jam malam berikutnya dan sudah saja langsung berpamitan.
Mukti dan teman-temannya sepakat ikut makan selat, menu bistik daging khas Solo di Serengan. Tempat makan yang penuh perabotan artistik seperti guci, keramik, lukisan, tirai, sampai piring menghiasi Hall of Fame. Menunya sendiri memang campuran antara masakan barat dan sudah disesuaikan dengan lidah lokal yang menyukai rasa manis. Kagum juga dengan niat pemilik selat, Mbak Lies namanya yang menambah berbagai macam ornamen di kedainya.
Warung Selat Mbak Lies
Usai makan, ternyata Mukti tidak bisa lagi untuk menunda pamit. Akhirnya kami sepakat untuk berpisah di Keraton Solo. Maksudnya adalah supaya rombongan para lelaki ada yang mengantar sampai ke tujuan wisata berikutnya, hehehe..
Meski hanya foto di gerbangnya, ternyata Mukti, Mifta, dan Andrian tidak berencana untuk tinggal lebih lama. Tinggallah kami bersembilan keliling wilayah Keraton Solo. Dari sekian ratus hektar luas wilayah keraton, kami hanya masuk bagian depannya saja yaitu museum dan pekarangan keraton. Pengunjung yang memakai sandal diminta untuk melepasnya dengan alasan kesopanan, namun kalau mereka memakai sepatu tidak wajib dilepas. Kami berkeliling museum yang menampakkan artefak peninggalan budaya Hindu. Ada foto-foto Sultan yang menjabat, senjata perang, bahkan sampai alat masak. Sesekali kami ikut rombongan yang dipandu oleh tour guide untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut.
Hari beranjak siang, kami masih penuh energi untuk berkeliling. Tujuan berikutnya adalah mencari oleh-oleh. Kami singgah dulu di Masjid Agung yang terletak di sebelah Aloon-Aloon Utara untuk menunaikan kewajiban sekaligus istirahat. Masih ada waktu 1,5 jam sebelum waktu yang kami sepakati untuk berangkat menuju stasiun. Rombongan digiring ke Pasar Klewer tepat di sisi utara masjid. Saya berencana membeli oleh-oleh jajanan khas Solo untuk teman kantor dan souvenir bagi teman-teman UNS yang dengan senang hati menemani kami jalan-jalan.
Yeah, siap menembus keriuhan pasar. Ternyata aksesoris tidak banyak ditemukan di Pasar Klewer, kami disarankan seorang pedagang supaya bergerak ke Pasar Timur di seberang aloon-aloon. Jadilah kami menelusuri jalanan sempit penuh barang dagangan ke pintu keluar pasar. Bersenggolan dengan pembeli lainnya, menabrak dagangan yang dipajang di depan kios, bahkan sempat macet untuk menunggu pengunjung dari arah berlawanan lewat. Satu kata: Seru!
Ramai-ramai menyeberang aloon-aloon, Dimas paling girang kali ini. Kami melihat-lihat penjual wayang di pojok jalan, kemudian bergerak ke arah kaki lima yang menjual aksesoris seperti batu akik, giok, tasbih, cerutu, gantungan kunci, gelang, dan sebagainya. Setelah melihat-lihat, akhirnya kami berakhir lama di penjual wayang yang pertama kali disinggahi. Berhubung seharian itu kami ditemani dengan lima teman dari UNS, dipilihlah tokoh wayang Pandawa (Lima Bersaudara) untuk kami hadiahkan.
Awalnya mereka tidak mengira kalau wayang yang dibawa-bawa tidak akan ikut kami ke Jakarta. Sampai pada ketika kami harus berpisah sebelum masuk peron di Stasiun Jebres. Pasti tidak lupa untuk foto-foto bersama.
Pandawa Lima
Kereta membawa kami kembali ke titik awal perjalanan melewati Stasiun Poncol menuju Ibu Kota. Adegan berikutnya adalah kehebohan menghitung perkara utang piutang, bayar membayar, ganti mengganti uang patungan yang dipakai bersama. Kami tiba Selasa dini hari di Jakarta dengan selamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya