Senin, 07 April 2014

Libur Panjang Akhir Maret (Bagian 2)

Minggu, 30 Maret 2014
Bangun kesiangan memang tidak direncanakan. Namanya liburan, tidak ada yang kesal karena perubahan rencana. Justru kami tertawa sendiri mengingat rasa optimis bisa tidur hanya 2 jam sebelum mendaki. Ada untungnya juga tidak jadi naik dini hari karena kabarnya hujan turun deras sebelum subuh. Setelah bersiap-siap, mulailah pendakian sesungguhnya. Baru 40 menit berjalan dari gerbang pendakian kami sudah berhenti, membuka tenda dan memasak sarapan. Ternyata hujan mengguyur, basah kuyup. Untunglah jas hujan sudah disiapkan. Menu sarapan Minggu Pagi adalah mie rebus telor lengkap dengan brokoli dan wortel. Segelas teh manis diseduh bersama roti tawar yang ditaburi susu kental manis cokelat.
Usai piknik, pendakian berlanjut. Rencana kembali mengalami modifikasi. Tadinya terasa sayang kalau tidak sampai puncak berhubung jalur pendakiannya bisa dikategorikan cukup mudah. Menuju titik tertinggi Merbabu dari Selo harus melewati Pos 1, Sabana 1, Sabana 2, Batu Tulis, barulah puncak. Berhubung persediaan makanan kami pas-pasan, ditambah tuntutan kembali bekerja pada hari Selasa, kami pun tidak mau memaksakan diri. Disepakati rombongan akan mendaki semampunya sampai pukul 3 sore lalu turun gunung.
Meski cuaca agak mendung, sesekali matahari menampakkan teriknya. Tipe hutan homogen dengan dominasi pohon legum sejenis kaliandra berada di kanan-kiri jalur. Setelah melewati tutupan dengan pohon berakar tunggang dan besar, kami tiba di padang edelweis. Ya, ini tandanya kami sudah berada di ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut (dpl).
Konon katanya harus melewati 7 lembah untuk mencapai puncak Merbabu di ketinggian 3140 meter dpl. Tiap kali melewati satu bukit dan menuju bukit selanjutnya, kami selalu berhenti lama untuk mengambil gambar. Untunglah banyak pendaki lain yang berlalu lalang sehingga kami bisa minta tolong agar difoto lengkap bersama seluruh anggota rombongan. Bahkan sempat juga kami mengambil foto dengan panorama mode yang di dalamnya 6 anggota rombongan dengan gaya tanpa melihat kamera ala-ala anak band. Cool!
Melewati tengah hari, kami tiba di basecamp kedua sebelum sabana 1. Cuaca yang cerah ditambah padang rumput dengan hamparan bunga liar berwarna kuning dan dandelion membuat kami enggan beranjak. Mendadak semua ingin menjadi foto model. Dimas dan Edo mendirikan tenda di saat yang lain sibuk mencari spot dengan bunga-bunga yang pas untuk foto. Alat masak kembali dibuka, nesting disusun, kami memasak nasi dan 2 bungkus mie instan yang tersisa, membuat omelet, menghangatkan ikan sardine. Matras digelar, kami makan siang ramai-ramai. Bahan makanan sudah habis, tersisa air dan biskuit untuk perjalanan turun.
Perut kenyang membuat oksigen di mata berkurang, kami mengantuk dan tidur siang sejenak di hamparan rumput. Ketika awan menyingkir, terlihat puncak Merapi yang runcing berwarna abu-abu dari celah di sisi bukit tempat kami membangun tenda. Banyak pendaki berlalu lalang, ada yang masih istirahat, ada juga yang langsung melanjutkan pendakian ke atas bukit.
Lengkap

Tidur Siang
Sesuai dengan kesepakatan awal, kami turun ketika hari sudah sore dengan menempuh jalur yang berbeda. Jalur pulang ini lebih banyak tutupan pohon besar. Ada untungnya juga kami tidak memilih jalur itu ketika berangkat, sehingga lebih banyak pemandangan yang disaksikan.
Namanya jodoh memang tidak ke mana. Bisa saja kita memilih jalur awal untuk pulang, keputusan kami memilih jalan yang berbeda membawa pertemuan dengan Kang Chumenk dan kawan-kawan. Kang Chumenk adalah pecinta alam dari Chast yang dulu pernah mendaki ke Gunung Gede bersama saya, Dimas dan Daniel. Kami juga pernah bersama-sama ke Gunung Sindoro. Sebelumnya memang saya menghubungi Kang Chumenk yang lebih dulu datang ke Solo. Tanpa ada janji, ternyata kami bertemu di gunung.
Perjalanan turun selalu memakan waktu lebih cepat. Setelah Maghrib kami tiba kembali di basecamp. Benar-benar pas 12 jam di gunung dengan motto “No ambition, only photo session”
Lagi-lagi, perjalanan kami dimudahkan. Tanpa perlu menunggu lama, kami mendapatkan mobil dan sopir yang bersedia mengantarkan ke kota tujuan selanjutnya yakni Solo. Malam itu, kami meluncur meninggalkan Boyolali. Sudah ada Mukti yang siap menyambut di Solo, bersama teman-teman IAAS UNS (organisasi pertanian internasional yang kami ikuti). Cristi rela memberi tumpangan pada saya dan Sarah, sedangkan para lelaki diurus oleh Ugo. Padahal ketika perjalanan berangkat, saya hanya menghubungi Yoga lalu sampai di sana sudah ramai saja yang menyambut.
Kami diturunkan di gerbang depan Universitas Sebelas Maret, Solo. Sesi pertemuan yang kembali diawali dengan perkenalan. Monica memutuskan untuk kembali ke Semarang malam itu juga, Daniel mengantarnya sampai dia mendapatkan bus. Mukti sduah menunggu di angkringan ditemani Mifta dan Andrian, teman sejurusan ketika kuliah di Universitas Brawijaya. Sedangkan Ratih yang juga anggota IAAS UNS dipanggil Mukti tanpa ada aba-aba sebelumnya. Muncullah Ugo, ketua UKM untuk setahun periode ke depan. Akhirnya kami terpisah berdasarkan jenis kelamin masing-masing menuju kost yang akan menampung kami selama semalam.
Perut kenyang dan hati senang. Rasanya menyegarkan bisa bersih-bersih diri setelah pulang dari gunung. Kami tidur dengan pulas untuk mempersiapkan agenda jalan-jalan keesokan harinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya