Senin, 07 April 2014

Libur Panjang Akhir Maret (Bagian 1)

Rame-rame menghabiskan liburan Nyepi akhir Maret lalu bersama Daniel, Sarah, Edo, dan Dimas kami sudah sepakat untuk mendaki Merapi. Rencana terpaksa diubah ketika gunung vulkanik itu menunjukkan aktivitasnya hanya dua hari sebelum keberangkatan. Setelah berdiskusi panjang, dari yang awalnya merencanakan perjalanan pengganti ke Dieng sampai akhirnya memutuskan untuk mendaki Merbabu saja dengan pertimbangan biaya.

Sabtu, 29 Maret 2014
Kereta Tawang Jaya membawa kami dari Stasiun Senen ke tujuan akhirnya di Stasiun Poncol Semarang. Pukul enam pagi kami berjanji sudah akan tiba di Senen. Saya menginap di rumah Sarah malam sebelumnya dengan alasan jarak dan waktu tempuh. Berangkat dengan taksi setelah subuh dari Menteng Dalam lalu menghampiri Dimas di depan Pasar Tebet, kami tiba tepat waktu di stasiun yang sudah ditunggu Daniel. Sedangkan Edo baru mengabari kalau dia bangun kesiangan. Drama pertama pagi itu adalah kemunculan Edo yang ditunggu-tunggu sembari kami antre masuk. Just in time, Edo appeared when we’re queuing...fiuh!
Rombongan siap meluncur, sambil menunggu kereta di peron, saya dihampiri sepasang bocah yang tidak disangka-sangka akan bertemu di sana. Ada Uzi, adik kelas SMA yang kuliah di STAN bersama teman-temannya juga menunggu kereta yang sama. Bahkan kami duduk satu gerbong, membuat suasana semakin ramai. Uzi bersama rombongan akan menghabiskan waktu di Semarang. 
Kereta menawarkan pemandangan pinggir rel melewati persawahan dan tepi pantai utara. Siang hari yang panas menyambut kedatangan kami di Semarang. Keluar dari stasiun, mencari kedai untuk meredam perut yang sudah berontak minta diisi. Sampailah kami di warung makan dengan menu pecel, garang asem, opor, dan gudeg yang harganya super ramah di kantong. Edo bahkan menambah porsi makannya dan tetap optimis akan memiliki perut six packs setelah turun gunung. Baiklah, perjalanan masih panjang kami harus menjemput Monica, adik Daniel yang kuliah di Universitas Diponegoro. Kami menyewa satu mobil angkot menuju Sukun, daerah Semarang atas. Menuju Sukun via tol yang ternyata macet, persis seperti Jakarta.
Setelah berhasil bertemu Monica, kami menyeberang ke swalayan dan membeli bekal untuk mendaki. Bahan makanan dan air minum banyak dibeli untuk cadangan. Beras, telor ayam, mie instan, sayuran, buah-buahan, abon, makanan kaleng sudah dikemas rapi bersama tenda, matras, sleeping bag, nesting, dan seperangkat alat pendakian, lengkap. Kami siap menuju Boyolali, yeah !
Begitu bus trayek Semarang – Solo melintas, tas langsung disimpan di bagasi dan naik. Apa daya bangku sudah penuh, jadilah kami semua berdiri selama perjalanan ke Boyolali lumayan untuk pemanasan awal. Lagi-lagi kemacetan menjumpai kami, seolah mengikuti setiap gerak-gerik pelancong dari Ibu Kota kemanapun. Sampailah kami di terminal Boyolali setelah menempuh 3,5 jam perjalanan. Hujan rintik-rintik mengguyur Boyolali malam itu ketika bus menurunkan kami di terminal. Tugas selanjutnya adalah mencari tumpangan yang mau membawa kami ke Selo, pos pendakian ke Merbabu. Setelah bernegosiasi dengan bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu saya, akhirnya kami mendapatkan mobil elf bertulis “Memory” di bagian depan.
Benar-benar mobil yang membawa sejuta kenangan. Kebaikan Sang Sopir Memory (begitulah kami menyebutnya hingga kini) mengantarkan kami ke warung nasi goreng untuk makan malam terlebih dahulu. Menuju Selo ditemani hits yang dinyanyikan Didi Kempot. Alunan lagu Stasiun Balapan, Terminal Tirto Nadi, dan Kesetrum Tresno masih terngiang-ngiang di kepala. Sampai ketika lagu berbahasa Jawa itu berhenti dan langsung disambung intro OST. Tokyo Drift. Heboh seketika, ternyata seluruh penumpang mobil menikmati campur sari yang diputar. Ditutup lagu Ketahuan yang dipopulerkan oleh Mata Band diganti lirik ke dalam Bahasa Jawa.
Kenangan berikutnya yang diukir oleh Bapak Sopir Memory adalah ketika kami diturunkan di depan rumah seorang bule. Ceritanya kami sudah memasuki sebuah desa dengan jalanan terjal dan menanjak. Pak Sopir meminta kami turun dan menunjuk rumah di pinggir ladang itu sebagai basecamp pendakian. Secepat mungkin Pak Sopir memutar mobilnya dan meminta kami menurunkan barang. Dengan setengah yakin kami bertanya lagi apa benar itu tempat pendakiannya. Tidak kalah yakin, Pak Sopir menjawab “iya” dan menyuruh kami mengetuk pintu rumah.  Lalu kami membayar dan mobil Memory melaju kembali ke kota.
Curiga juga melihat rumah yang bagus dengan antena TV Kabel disebut sebagai basecamp pendakian. Dimas yang sudah pernah mendaki lewat jalur Selo mengaku kalau ini bukan basecamp. Namun rasanya kami tidak punya pilihan lain berhubung hanya ada satu rumah di sana. Edo dan Daniel mencoba mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Saya mengetuk jendela samping rumah, terdengar suara TV, lalu ada seseorang yang membuka pintu. Seorang bule paruh baya mengucapkan “Selamat Malam!”
Sempat bingung dan terdiam, akhirnya saya bertanya dalam Bahasa Inggris di mana letak basecamp pendakian. Ealaaah..Om Bule menjelaskan dengan Bahasa Indonesia fasih kalau kami harus berjalan melewati ladang, sampai ke perkampungan, baru tibalah di basecamp. Jalanan gelap dan menanjak, langit pun mendung, kami tidak punya banyak petunjuk, yang kami tahu hanya harus berjalan sesuai arahan Om Bule. Sepanjang perjalanan, banyak pengendara motor dengan carrier besar, ciri khas seorang pendaki. Kami masuk ke Desa Selo, disambut oleh bangunan pura. Ternyata dari gerbang desa masih panjang jalan yang harus kami lalui. Perlu satu jam sampai kami menemukan rumah milik penduduk lokal yang menampung para pendaki untuk sekedar repacking, melengkapi perbekalan, menitipkan kendaraan, juga beristirahat.

Rencana yang awalnya disusun agar kami siap mendaki di malam hari berubah total melihat kondisi anggota rombongan yang sudah payah. Hampir tengah malam ketika tiba di basecamp. Kami memutuskan untuk istirahat barang satu atau dua jam sebelum naik. Segera kami pilih tempat dan terlelap. Apa yang terjadi keesokan harinya? Benarkah kami hanya istirahat maksimal dua jam? Selalu ada improvisasi, nyatanya kami bangun ketika adzan Subuh berkumandang.
Pantura di Sepanjang Rel Kereta

Ki-Ka : Edo - Sarah - Daniel - Dimas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya