Selasa, 22 April 2014

Cerita dari Cikuray

Gunung Cikuray adalah gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Ceremai, Pangrango, dan Gede. Tingginya 2821 meter di atas pemukaan laut, merupakan titik tertinggi Kabupaten Garut. Akhir pekan panjang bulan April kemarin, saya mendapatkan kesempatan ke sana. Berdasarkan informasi, sudah ada sekitar 700 pendaki ketika kami mendaftarkan diri di Pos Pemantauan.
Anggota rombongan kali ini : Rithoh dan Dimas, rekan satu tim yang sudah bersama-sama mendaki gunung sejak kami dipertemukan di Internal Consultant (IC Team). Sobich, junior se-kampus, se-organisasi. Imaw, sepupu Dimas yang ketagihan naik gunung. Rifki, pemuda ASGAR (Asli Garut), teman seangkatan di kampus, beda fakultas, tetangga kost. Total ada 6 orang yang mendaki, dengan formasi 3 pasang. Ada 8 pos yang harus dilalui untuk menuju puncak, rasanya ini gunung dengan pos terbanyak yang pernah saya daki..hehehe
Inilah drama komedi yang kami lalui sesuai dengan pos pendakian, saya bagi ceritanya menjadi beberapa adegan:
#1
Sesuai dengan kesepakatan kalau saya, Dimas, dan Imaw berangkat dari Terminal Lebak Bulus, Jakarta jam 07.00 pagi. Kami malah bertemu di busway menuju terminal, jadi waktu yang disepakati telah ditepati. Setelah mengisi perut, kami siap menunggu bus jurusan Garut. Tiba-tiba Dimas menerima telepon dari Arfi (IC Team juga) yang mengingatkan kalau sepatu Rithoh masih di kamarnya. Alamak, daripada Rithoh mengomel besar jadilah kami tunggu Arfi mengantar sepatu. Sementara itu, Rithoh yang berangkat bersama dengan Sobich dari Bogor sudah duduk manis di bus dan menanyakan kami sudah tiba di mana. Saya jawab sedang menunggu bus, kemudian dia menyarankan supaya ke Kampung Rambutan saja kalau busnya jarang dari Lebak Bulus. Padahal, bukan itu perkaranya. Kami masih menunggu sepatunya, ampun ya Rithoh...hihi
Rifki sudah stand by di Garut. Akhirnya rombongan dari Jakarta berangkat dan bertemu rombongan dari Bogor di Cileunyi. Delapan jam menuju Garut, waktu tempuh yang sama untuk tiba di Semarang dengan kereta api.
#2
Dimas yang bertugas membawa kompor entah kenapa tidak menemukannya ketika packing. Ternyata, kompor masih dibawa Edo, sepulang dari pendakian sebelumnya ke Merbabu. Baiklah, kami mencari back up dengan berbagai alternatif: 1) Pinjam kompor Fajrin yang juga ASGAR, teman sejurusan Dimas di kampus dulu 2) Beli kompor baru. Kemudian Fajrin datang menghampiri lengkap dengan kompor dan spirtus. Terima kasih Fajrin!
#3
Kami sudah menyewa mobil pick up yang akan mengantarkan ke base camp pendakian dari pusat kota Garut. Rifki sudah mati gaya menunggu kami. Menuju pemancar yang menjadi titik awal pendakian ketika hari hampir Maghrib. Pendakian dimulai sekitar pukul 19.00 setelah mengisi jirigen air volume 5 liter. Medan awal pendakian adalah kebun teh, kebun sayur, lalu jalan terus menanjak menembus pepohonan. Untunglah cuaca begitu bersahabat malam itu, cahaya bulan membantu rombongan kami yang membawa alat penerangan pas-pasan. Tanpa ada bonus trek, istilah lain dari jalan mendatar ataupun menurun selama menuju puncak. Sudah disepakati kalau tujuan utama adalah menikmati matahari terbit di puncak Cikuray tanpa memaksakan kondisi fisik rombongan. Rithoh berjalan paling depan karena dia yang sudah pernah mendaki Cikuray tahun lalu. Ketika memasuki Pos 2, terdengar gemericik alirah air dari pipa. Langsung kami tenangkan Rifki yang membawa jirigen dalam genggamannya, maaf ya ternyata masih ada sumber air di atas..hehehe
#4
Pukul 22.00 kami istirahat cukup lama untuk memasak makan malam. Menu spesial kali ini untuk pertama kalinya selama ke gunung kami makan macaroni bolognise lengkap dengan sosis sapi cheese frankfurter. Kandungan karbohidrat dan protein membuat tenaga kembali terisi penuh. Kami terus mendaki dan sepakat untuk mendirikan tenda di dekat puncak, kemudian istirahat total sembari menunggu matahari terbit. Pos demi pos kami lalui dengan lancar, rata-rata hanya berselang satu jam. Setelah melewati Pos 6, rasanya medan yang ditempuh lebih berat dan panjang dari biasanya. Sudah pukul 03.00 pagi, kami belum juga tiba di Pos 7. Sempat ragu apakah kami melewati jalur yang benar. Kondisi mata pun sudah mulai mengantuk. Akhirnya, ketika rombongan sepakat untuk berhenti sebentar, secara bersamaan kami tertidur dengan posisi seadanya di jalur pendakian. Ternyata Pos 7 sudah dekat dari situ. Menuju Pos 8, sekaligus puncak Cikuray kami semakin bersemangat. Tibalah kami di titik tertinggi gunung mendekati waktu Subuh. Yes, Alhamdulillah !
#5
Puncak penuh sesak. Benar saja, ada ratusan pendaki yang sudah mendirikan tenda. Setelah mendirikan 2 tenda, kami bersiap menyaksikan matahari terbit. Benarkah ini puncak? Ramai betul seperti pasar? Ketika berusaha mengambil gambar, harus pintar mencari celah di antara kepala dan tangan yang juga berusaha mengabadikan sunrise moment. Kami menemukan spot untuk foto dengan latar belakang Gunung Papandayan dan Gunung Guntur di sisi utara puncak. Memang harus ekstra hati-hati untuk menuju spot itu berhubung letaknya ada di pinggir lereng yang curam. Agak ngeri juga karena sebelumnya ada pendaki yang sempat terperosok ke jurang saaat berusaha mengambil botol minumnya. Untunglah teman-temannya langsung menariknya ke atas. Fiuh...
Puas foto-foto, matahari mulai merangkak naik. Mata kami yang terjaga hampir semalaman perlu dipejamkan. Jadi kami masuk tenda untuk tidur pagi. Ketika sinar terasa terik, banyak pendaki yang kemudian berkemas untuk turun gunung. Kami masih ingin menikmati puncak, menyeduh kopi dan memasak sarapan. Tak disangka ternyata awan mengubah jarak pandang di puncak menjadi begitu pendek. Hujan turun tanpa aba-aba. Setelah mengisi perut, kami kembali meringkuk di dalam tenda. Hujan dan tidur adalah aktivitas yang selalu indah untuk dinikmati.
Ki-Ka : Imaw-Rifki-Dimas-Rithoh-Sobich
Pemandangan Matahari Terbit dari Puncak Cikuray

#6
Lewat tengah hari, hujan tak juga reda. Rintik-tintik, nampaknya awet. Berhubung alat penerangan terbatas maka kami memutuskan harus segera turun gunung sebelum hari gelap. Yak, seluruh anggota rombongan berkemas. Udara gunung yang lembab menggiring kami menuruni bukit. Jalur semakin licin dan berlumpur. Ketika bertemu dengan pendaki lain sampai ada yang begitu perhatian dan berkomentar “Wih, dekil banget Mbak. Dari sawah?” Saya jawab santai “Iya Mas, tadi baru nanem jagung, hahaha”
Salah satu indikator stamina yang tersisa adalah kemampuan menyanyi anggota rombongan selama perjalanan. Hari semakin sore, ketika lagu yang kami nyanyikan mulai dari karya Ebiet GAD, Iwan Fals, sampai Sheila on 7 kemudian diulang-ulang. Ternyata Rithoh masih bersemangat untuk foto dan meminta spot khusus di pohon yang melintang. Sementara itu, Rifki masih sempat menggoda Mbak-Mbak pendaki yang berpapasan dengan secara lantang mengucapkan "Kata teman saya, cewek keren itu pakai ransel"
Mata Rifki menatapnya langsung, intonasinya pun dibuat meyakinkan. Sontak kami tak kuasa menahan tawa. Sedangkan Mbak-Mbak yang dia goda tadi jelas tersenyum malu-malu. Duh..duh...sempat-sempatnya ya..hahaha
#7
Tinggal dua pos lagi mendekati pemancar. Adzan Maghrib berkumandang, hari mulai gelap. Alat penerangan kami minim, terisisa 2 senter dan 1 head lamp yang meredup. Konyolnya, head lamp super terang yang dibawa Dimas malah terselip entah di mana. Kami turun perlahan dengan berpasangan. Rifki memimpin di depan bersama Rithoh. Saya dan Imaw menyusul sedangkan Dimas dan Sobich di urutan belakang. Di sinilah kerja sama tim kami diuji. Masing-masing pasangan harus mengerti bagaimana baiknya menggunakan alat penerangan seadanya. Ketika sudah tiba di kebun teh, titik awal pendakian terasa semakin dekat. Tiba-tiba head lamp yang saya pegang habis baterai, tersisa dua senter sehingga formasi diubah dari yang tadinya duo menjadi trio. 
Jatuh, tersandung, terpeleset, rasanya sudah biasa. Padahal lampu-lampu di pemancar sudah nampak terang, meski begitu rasanya tak kunjung sampai. Dalam kondisi capek begini, perasaan pun menjadi sensitif dan bisa saja mudah tersinggung. Rasanya saya hampir ngambek gara-gara Dimas ceroboh tidak mempersiapkan head lamp yang ternyata teselip ketika melipat tenda. Rithoh juga sempat kesal karena Rifki salah memberi arahan kemudian ia terjatuh. Namun itu semua menjadi candaan ketika kami telah melaluinya. Lucu juga, kalau dipikir-pikir ngambek itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik.
#8
Kami wajib melapor lagi di Pos Pemantau Pendakian setelah kembali dari puncak. Pukul 21.30 ketika kami tiba di titik awal pendakian, genap 27 jam di gunung. Karena sudah malam, kami memutuskan menginap semalam di pemancar baru pulang esok paginya. Badan mulai terasa gatal, air membekukan kulit ketika saya menyapu debu dan minyak yang menempel. Dingin tidak lagi membuat tubuh gemetar namun langsung membeku kaku. Malam itu kami tidur pulas setelah jajan puas di warung. Esok paginya kami mengadakan piknik terakhir sebelum pulang. Bahan makanan yang masih ada dimasak, kami sarapan dengan pemandangan perbukitan yang mengelilingi Garut. Setelah kenyang, kami berkemas dengan senang. Tidak seperti ketika berangkat, kami pulang diantar ojek ke jalan raya sebelum naik angkot menuju Terminal Guntur. Jalanan berbatu menuruni kebun teh, seperti wahana baru di taman bermain. Rasa pegal yang tadinya hanya terasa sampai lutut kemudian merangkak sampai perut. Ojek oh ojek, kaki dan tangan harus siaga agar tidak terjatuh.
Piknik Pagi

Setiap perjalanan selalu membawa pelajaran. Setiap kejadian selalu menyadarkan rasanya tidak mungkin semuanya bisa dilalui tanpa pertolongan dari-Nya. Terima kasih untuk setiap pesan yang tersimpan di balik candaan.

Salam,

Titis 

2 komentar:

  1. Hahaha, mantap. Dan hri ini gw diuji tidak masuk kerja. Gara2 semalem demam tinggi ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. fisik memang sakit, tapi pikiran udah melayang ke pendakian selanjutnya..hohoho

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya