Jumat, 04 April 2014

Birokrasi Hidup

Beberapa tahun terakhir, telinga kita semakin akrab dengan istilah Reformasi Birokrasi. Salah satu program yang digalakkan pemerintah untuk menertibkan sistem pelayanan publik dan administrasi negara demi tercapainya efisiensi serta kemudahan bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan pemberantasan praktek pungutan liar dan KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Birokrasi sudah menjadi bagian dari hidup kita sebagai warga negara. Mulai dari pengurusan KTP (Kartu Tanda Penduduk), SIM (Surat Izin Mengemudi), KK (Kartu Keluarga), dan berbagai surat keterangan lainnya adalah contoh proses birokrasi yang pernah kita lewati.
Lahir dan tumbuh bersama keluarga besar di Ponorogo yang juga kota asal kedua orang tua saya membuat seolah mengenal semua penduduk kota perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah itu. Faktanya, saya merasa teman-teman sekolah dulu selalu ada hubungan keluarga entah karena sepupu jauh atau pertalian pernikahan. Faktor kedekatan inilah yang membuat segala urusan birokrasi di kota kelahiran saya terasa begitu mudah. Hanya modal embel-embel kenal si A, anaknya Pak B, keponakan Ibu C, atau buyutnya Mbah D, segala pengurusan administrasi mudah dan tentunya murah.
Lain ladang lain ilalang. Begitu saya memilih SMA di Madiun, beruntung jarak kota hanya 30 menit dengan naik motor jadi asalkan bisa izin dari sekolah, saya bisa pulang ke Ponorogo untuk menyelesaikan segala administrasi sewaktu mengurus KTP dan SIM dulu. Nah, selama kuliah di Bogor untuk hal yang berurusan dengan surat-menyurat untungnya sudah didukung dengan teknologi bernama mesin scanner dan fasilitas surat elektronik. Saya ingat pengalaman ketika PEMILU Presiden tahun 2009 dan mendapatkan surat keterangan menyoblos dari Kantor Desa agar bisa memilih di KPU terdekat tempat domisili. Yeaaayy…bangga tidak golput !
Pengalaman tentang birokrasi kampus pun tidak kalah seru. Selama aktif dalam kegiatan organisasi, ada saja cerita ala mahasiswa yang membuat saya akrab dengan birokrasi. Lagi-lagi di sini yang berperan adalah hubungan kedekatan. Saya ingat betul ketika terancam belum bisa sidang skripsi. Ceritanya, kartu kehadiran seminar saya belum penuh. Padahal agar bisa sidang, setidaknya saya harus melihat seminar penelitian rekan satu jurusan minimal 20 kali. Karena belum penuh, saya usulkan untuk mengganti syarat tersebut dengan mencantumkan seminar di luar kampus yang pernah saya ikuti. Kemudian saya diminta mengajukan surat permohonan ke Ketua Departemen dan Dekan untuk diizinkan menempuh ujian akhir. Gampang saja, berhubung Pak Dekan adalah pembimbing akademik saya, tentu surat yang diminta bisa turun secepat kilat.
Masuk ke dunia kerja, menjabat sebagai Internal Consultant (IC Team) yang secara fungsi memungkinkan saya masuk ke berbagai divisi perusahaan. Secara hirearki, IC Team langsung di bawah tanggung jawab Direktur. Bisa dibayangkan seperti apa rasanya dekat dengan atasan bukan? Ketika kita bisa berdiskusi dengan leluasa untuk menyampaikan ide-ide untuk para petinggi perusahaan, sebuah hak istimewa yang tidak bisa diperoleh karyawan lain.
Rasanya pengalaman membuat saya paham kalau faktor kedekatan dengan atasan selalu mempermudah segala urusan. Begitu pula untuk urusan hidup, semakin dekat dengan Yang Maha Kuasa pastinya jalan kita akan semakin lapang. Seringkali kita menghadapi situasi yang menekan, rasanya tidak ada lagi jalan yang bisa ditempuh. Kesempitan itu selalu menyadarkan saya bahwa pertolongan Tuhan itu dekat.
Pernah suatu hari saya sedang mengurus izin di salah satu instansi pemerintahan. Kondisi jalanan Jakarta yang macet luar biasa semakin membuat saya frustasi dan tidak yakin akan tiba di instansi itu ketika jam pelayanan masih buka. Benar saja, ketika tiba di sana pendaftaran izin sudah ditutup, permohonan saya pun ditolak. Dengan gontai saya melangkah masuk lift untuk kembali ke lobi utama. Di dalam lift saya bertemu dengan staf instansi tersebut dan mulai iseng cerita kalau dokumen saya tidak bisa diproses hari ini. Mungkin dengan setengah kasihan melihat wajah capek saya, staf tersebut spontan mengatakan kalau dokumennya bisa dititipkan padanya. Muka saya langsung sumringah, kemudian staf tersebut memberitahukan nama, bagian, juga nomor teleponnya untuk follow up. Untungnya lagi, saya tidak perlu membayar apapun, benar-benar murni dibantu dengan ikhlas. Ajaib bukan?
Hal kecil seperti itu seringkali saya alami. Orang menganggapnya sebagai keberuntungan sedangkan menurut saya itu adalah pertolongan Tuhan. Kalau dipikir-pikir bisa saja saat itu saya lewat tangga, bukan lift. Bisa juga saya terdiam dan tidak membuka percakapan. Sekali lagi, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dari arah yang tidak terduga bahkan ketika kita merasa tidak mungkin dan ingin menyerah.
"Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkat, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari." (HR. Bukhori Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya