Rabu, 05 Maret 2014

Rumah Idaman

Wahai internet, gara-gara kamu perhatianku teralihkan. Meja kerja sudah memanggil, meminta agar disentuh atau minimal ditengok. Apa daya, imajinasi sedang berselancar ke dunia maya. Harusnya, saya mencari referensi untuk tugas yang sedang menunggu tenggat waktu. Internet membawa saya jauh ke masa yang akan datang. Melalui gambar-gambar yang disajikan Pinterest, angan saya terbang membangun sebuah rumah idaman.
Segala macam acara mengenai tips desain rumah, bangunan unik, dan seluk beluk arsitektur selalu menyenangkan untuk diikuti bersama Ayah yang memiliki pengetahuan dasar mengenai tehnik sipil dan bangunan dari sekolah dulu. Ditambah dengan selera seni Ayah, jadilah rumah keluarga kami dihiasi dengan cat tembok warna-warni. Tiang rumah dilukis mengkilap dengan motif yang mengesankan kalau itu marmer.
Sekarang, saya akan menceritakan tentang inspirasi rumah masa depan yang ingin saya bangun nanti. Meski belum menentukan lokasi, apalagi mulai investasi, bolehlah kita lebih dulu bermimpi. Mari dimulai dengan hal-hal yang ingin saya buat untuk rumah masa depan :

1. Halaman Belakang
Bagian yang sangat saya inginkan adalah taman belakang alias backyard. Alasannya karena rumah yang dibangun orang tua tidak punya bagian satu ini. Halaman belakang rumah kami adalah sawah yang luas. Selalu tampak ijo royo-royo ketika musim tanam tiba. Di bawah ini adalah gambar yang saya ambil sebagai inspirasi. Saya mau yang seperti ini, halaman belakang untuk membaca, bermain dengan hewan peliharaan (kucing, anjing, hamster, atau kelinci), lengkap dengan toples kudapan. Termasuk ayunan berhias bantal untuk tidur siang ketika hari cerah. Ah, damainya :)
  
2. Jendela Kaca, Lantai Kayu, dan Kolam Renang
Selama menjadi anak kost sejak masuk SMA dulu, ada satu syarat utama kamar yang saya pilih yaitu memiliki jendela agar sinar matahari dapat masuk dan sirkulasi udara terjaga. Saya selalu suka dengan benda bening yang menghiasi dinding tersebut, memberikan kesan terbuka. Hal lain yang ingin saya buat berbeda dari rumah orang tua adalah lantai kayu. Keramik putih yang dipilih Ibu untuk melapisi lantai seringkali membuat kami geregetan karena kalau sedikit saja berdebu, harus sering dibersihkan agar selalu mengkilap. Saya ingin punya rumah berlantai kayu, seperti vila milik peternak tempat penelitian yang saya tinggali dulu. Perabotan kayu selalu membawa kesan dekat dengan alam. 
Rumah adalah istana untuk mengembangkan hobi. Berhubung saya cinta sekali dengan olahraga yang bernama renang, sejak kecil rasanya ingin punya kolam renang pribadi agar bisa berenang sepuasnya, bersama Adik, Mbak, Ibu, juga anak dan keponakan saya nanti. Apapun yang terjadi, saya sudah bercita-cita untuk mewajibkan anak saya bisa berenang. Akan tetapi rasanya di tengah kondisi lahan yang kian sempit, sepertinya mahal untuk memiliki kolam renang pribadi. Harus ditimbang-timbang lagi apakah kolam renang jadi dibuat untuk rumah saya nanti.
Kombinasi dari ketiga syarat yang saya bayangkan tadi terwujud dalam sebuah gambar beikut:

Model rumah yang simpel, unik, dan sesuai dengan apa yang saya idamkan. Bentuk rumahnya mirip seperti tumpukan kontainer. Rasanya tidak perlu rumah yang megah ataupun mewah, yang paling penting adalah kesesuaian dengan kebutuhan jasmani dan rohani. Gambar ini akan terus saya simpan, untuk dikonsultasikan lebih lanjut dengan teman saya yang lebih jago dalam hal arsitektur. Semoga terwujud, amiiin !

3. Konsep Daur Ulang
Dulu Ayah saya memilih pecahan keramik yang sudah tidak terpakai untuk melapisi bagian samping rumah. Idenya menarik, beliau juga menyimpan berbagai barang bekas seperti buku, lemari dan sofa tua untuk didaur ulang agar bisa kembali terpakai. Meniru sifat Ayah, saya berpikir untuk menghiasi rumah dari benda-benda daur ulang. Beberapa ide menarik di bawah ini misalnya menggunakan jendela untuk meja sekaligus rak buku. Contoh lainnya memanfaatkan botol cantik untuk pot, dan sebagainya. Saya ingin lebih banyak berkreasi dengan barang bekas :)



Ngomong-ngomong, sampai sekarang saya belum juga punya gambaran mengenai lokasi rumah masa depan ini. Tentu perlu pertimbangan mengenai jarak ke tempat kerja, domisili keluarga besar, akses ke sana, termasuk kesuburan tanah. Nah, selain rumah saya juga ingin memiliki kandang untuk beternak jadi faktor lingkungan hidup itu penting. Saya sudah membayangkan hidup bersama keluarga kecil yang bahagia sekaligus merawat ternak, maunya domba berbulu tebal seperti Shaun The Sheep. Barangkali untuk 2 tahun ke depan fokus saya masih seputar melanjutkan sekolah dan karir, mudah-mudahan di usia ke-27 tahun bisa mulai melirik investasi berupa bangunan dan properti. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya