Selasa, 25 Maret 2014

Ingat Mati

Terinspirasi ketika mendengarkan lagu terbaru boy band jebolan X-Factor UK, One Direction. Dibandingkan lagu-lagu sebelumnya, Story of My Life terkesan lebih dewasa, barangkali One Direction ingin mengubah citra mereka. Satu hal yang saya suka dari One Direction adalah kemampuan olah vokal seluruh personilnya. Sama seperti alasan kesukaan saya pada boy band era 90-an seperti Boys II Men, Backstreet Boys, dan Blue ketika seluruh anggotanya bisa bernyanyi. 
Tunggu dulu, saya tidak akan bicara lebih lanjut tentang boy band, mari kembali ke inti tulisan. Saya ingin bercerita akhir-akhir ini lagu Story of My Life tidak bosan saya putar ulang di playlist. Sejak menduduki Top Chart 100 Billboard, saya sudah suka dengan intro petikan gitarnya. Setelah mendengarkan liriknya, tiba-tiba ada yang membuat hati saya bergetar terutama ketika Lian Payne bersenandung:

Seems to me that when I die these words will be written on my stone..

Lalu saya memikirkan tentang kematian, sebuah misteri yang hanya diketahui oleh Tuhan. Cepat atau lambat, resiko terbesar makhluk hidup adalah mati. Pertanyaan besar selanjutnya adalah apa yang akan ditinggalkan setelah mati nanti? Apa yang orang kenang setelah nyawa meregang?
Saya teringat sebuah kebiasaan baru di keluarga kami sepeninggal Ayah. Usai sarapan, biasanya ketika saya dan adik pulang kampung dan duduk di meja makan seringkali kami menceritakan kebiasaan-kebiasaan unik beliau. Kami juga sering mendengar kebaikan yang orang ceritakan tentang Ayah. Obrolan itu seolah menjadi ritual pengobat rindu kami. 
Pepatah mengatakan "gajah mati meinggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang". Manusia mati meninggalkan nama, hanya itu sajakah? Nyatanya memang itu yang akan tertulis di pusara kita kelak. Namun, satu nama itu akan membuat siapapun yang mendengarnya kemudian teringat akan segala kesan yang ditinggalkan. 

I wanna leave this world in better condition than I live in.

Lagu dilanjutkan oleh Zayn Malik memasuki pre-chorus: 

And I'll be gone, gone tonight
The ground my feet is open wide
The way that I've been holding on too tight
With nothing in between

Satu paragraf yang mengingatkan saya betapa kematian itu sungguh dekat. Meski kita berlindung dalam benteng yang kokoh sekalipun, kematian akan menemukan kita. Bisa saja ketika kita tertidur lelap, atau ketika bersujud, ketika hendak bepergian, Tuhan punya cara sendiri untuk memanggil hamba-Nya.
Ada yang mengatakan ketika orang meninggal, sesungguhnya Tuhan memanggilnya karena Ia sangat sayang kepadanya. Logikanya mereka yang masih hidup tentu mendapatkan kesempatan lebih lama untuk mewujudkan misinya, karena tidak ada satupun yang Tuhan ciptakan dengan sia-sia. 

Selama jantung masih berdegup
Kita akan terus hidup
Meski nanti akan meredup
Yang pasti itu mati
Jadi jangan dulu berhenti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya