Senin, 17 Maret 2014

Akhir Pekan di Garut

Halo Garut! Apa kabar Gunung Guntur? Bagaimana Papandayan di sana?

Maaf belum bisa mampir lagi, kali ini saya mau beramah tamah dengan para pemuda di kotamu. Akhir pekan kemarin, ada undangan dari organisasi PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) yang dinaungi oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk GIDKP (Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik), komunitas yang saya ikuti untuk mengisi salah satu sesi sosialisasi mengenai penanganan sampah. Acaranya sendiri bernama Garut Grand Festival yang dimotori Kumandang, nama organisasi Karang Taruna di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Garut. Rangkaian acara yang digelar salah satunya adalah pelatihan memilah sampah. Bukan hanya itu, panitia juga menggelar penampilan Seni Budaya Sunda, juga kontes domba garut yang menjadi ternak unggulan Kabupaten Garut.
Selama sesi berlangsung, GIDKP lebih berperan sebagai fasilitator yang menanyakan pola penggunaan kantong plastik pada peserta. Kami mengidentifikasi berapa banyak penggunaan kantong plastik oleh Ibu Rumah Tangga dan pelajar dalam sebulan. Berdasarkan informasi itulah GIDKP mengajak peserta untuk menyadari seberapa banyak sampah yang mereka hasilkan dan apa dampaknya bagi lingkungan. Peserta kemudian paham bahwa kerusakan lingkungan akibat sampah mungkin tidak bisa dirasakan saat ini, akan tetapi mengancam keberlangsungan sumber daya alam di masa depan.
Di akhir sesi, GIDKP memimpin pelatihan pembuatan T-shirt Bag sebagai alternatif kantong belanja dan mengajak seluruh peserta untuk berkomitmen mengurangi penggunaan plastik. Tentunya gerakan ini tidak dapat berjalan hanya dari segi individu saja. Sehari sebelum pelatihan, Rahyang mewakili GIDKP bersama Forum Kota Garut mengadakan audiensi dengan Wakil Bupati Garut tentang pengolahan sampah. Rencananya Kabupaten Garut mulai tahun depan akan mengatur perihal sampah lebih tegas melalui Peraturan Daerah. Gayung bersambut, maksud GIDKP ke Garut sudah sejalan dengan visi pemerintah ditambah lagi inisiatif komunitas pemuda yang tinggi. Tentu ini menjadi modal penting untuk memulai kampanye bidang lingkungan.
Pelajaran sangat berharga, dari sesi yang hanya berlangsung selama beberapa jam saya bisa berbagi peran dengan Rahyang. Berhubung kami sudah satu organisasi sejak di kampus, sehingga sudah tahu tek - tok dalam mengisi acara. Saya pun belajar mengontrol emosi dan wajah yang terlalu ekspresif saya yang terkesan mengintimidasi. Apalagi kalau mendengar reaksi spontan dari peserta, harusnya saya lebih bisa menahan diri. Workshop sendiri berjalan mengalir dan interaktif. Kami banyak mendengar dari peserta, memberikan masukan, contoh serta apresiasi bagi peserta yang aktif. Inilah intinya, dari peserta untuk peserta karena kalau pengisi acara terlalu banyak bercerita bisa-bisa semua bosan.
Workshop GIDKP dan PPAN
Ki-Ka : Graham - Rahyang - Titis - Yanti

Usai sesi di Cikandang, panitia mengantar saya dan Rahyang ke Cikajang. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil elf. Saya turun di Kadungora sedangkan Rahyang melanjutkan perjalanan sampai Bandung. Malam itu saya menginap di rumah Fitri, sahabat se-fakultas dan se-atap kost semasa di kampus. Keluarga Fitri yang ramai menyambut saya setelah acara kirim doa 3 tahun meninggalnya Ayah Fitri. Seluruh kakak perempuan Fitri yang berjumlah 6 orang hadir bersama keluarganya.

Agenda hari Minggu adalah mengunjungi Taman Satwa Cikembulan, tempat Darjat teman seangkatan kami yang berprofesi sebagai Dokter Hewan bekerja. Saya dan Fitri naik delman dari Pasar Kadungora. Hari Minggu itu banyak keluarga yang menghabiskan waktunya bersama. Tadinya saya sudah membayar tiket masuk seharga Rp 15.000,- kemudian petugas tiket mengembalikan uang kami begitu tahu saya dan Fitri tamunya Pak Dokter. 

Darjat baru selesai sarapan saat itu, jadi belum siap mengajak berkeliling. Kami ngobrol santai di ruang kerja Pak Dokter. Ada lemari obat, rak penyimpan buku, meja yang dilengkapi komputer, wifi, juga buku tebal mengenai Avian Medicine. Inilah tempat semedi Darjat, sementara di samping ruangannya terdapat kandang orang utan yang tempo hari menampar Darjat dengan mesra. Mari kita masuk ke taman satwa. Ada burung kakatua warna-warni, dengan jambul lucu dan celoteh yang menirukan beberapa kalimat manusia. Kami melewati kandang macan tutul bernama Ibel yang menurut Darjat paling ramah, tetap saja satwa satu ini tidak bisa dipeluk-peluk sembarangan..hehehe
Koleksi satwa lainnya antara lain kasuari, merak, dara mahkota, elang, piton, beruang, dan buaya. Selain itu taman satwa ini juga dilengkapi dengan sarana rekreasi keluarga, terapi ikan, dan penjual makanan. Darjat bercerita bagaimana hari-hari di sana. Berbagai macam satwa dia tangani, apapun penyakitnya. Saya sebetulnya penasaran juga bagaimana caranya mengobati buaya yang sedang sakit gigi misalnya, atau ular kobra yang kesleo. Darjat hanya menjawab singkat kalau yang namanya dokter hewan ya harus pegang semua hewan, biar sembuh. Namanya ditendang, dicakar, ataupun digigit memang sudah menjadi resiko.
Kunjungan siang itu diakhiri dengan makan mie ayam di depan taman satwa. Darjat juga merekomendasikan cilok dan bakso ikan, ternyata memang enak. Penjual jajanan itu hanya buka lapak pada hari Minggu saja, jadi Darjat harus bersabar selama seminggu penuh untuk menikmatinya. Saya dan Fitri kembali diantar delman kembali ke Kadungora untuk bersiap-siap menempuh perjalanan kembali ke tanah rantau, Jakarta.

Sekian liburan akhir pekan kali ini, terima kasih kepada berbagai pihak yang bersedia ditumpangi dan direpotkan :)

drh. Darjat di kolam terapi ikan


Salam,

Titis

2 komentar:

  1. wajah yang terlalu ekspresif saya yang terkesan mengintimidasi <-- emang yeee lu suka keterlaluan. paraaahhh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, iya Ceu masih sulit dikendalikan meski sudah dipelototin Rahyang

      Hapus

Terima kasih atas komentarnya