Kamis, 13 Februari 2014

Subsidi, Tingkat Kebahagiaan, dan Anggapan Orang

Malam minggu di Jakarta, bersama dua teman yang mengajak nongkrong di sekitar pusat kota. Aero datang paling awal setelah menghadiri pesta ulang tahun. Saya dan Daniel tidak sengaja bertemu di perempatan dari arah Jalan Thamrin. Saya ikut menumpang taxi yang membawa Daniel dari rumahnya. Mereka berdua adalah senior saya di kampus, kami dipertemukan di organisasi. 
Aero tidak bisa minum kopi, dia memesan strawberry and banana smoothie yang ramah untuk perutnya. Segelas es kopi disajikan menyusul untuk saya sedangkan latte dengan rum dipilih Daniel malam itu. Obrolan dari pertukaran kabar masing-masing juga teman lainnya menjadi pembuka. Topik yang diambil pun sebetulnya acak, sampai pada saat kami mendiskusikan tentang subsidi BBM. Dirasakan subsidi yang tidak tepat sasaran untuk masyarakat Jakarta dengan aksesibilitas mudah. Lebih tepat untuk penduduk di remote area dengan konsekuensi harus memperbaiki infrastruktur untuk mempermudah proses distribusi. Bicara tentang subsidi, harus merembet ke kebijakan dan peraturan pemerintah lain khususnya tentang kran impor kendaraan yang masih terbuka lebar. Selama kredit kendaraan bermotor itu murah dan mudah, sedangkan angkutan publik bukanlah pilihan yang nyaman bagi penduduk maka konsumsi BBM akan sulit ditekan. Topik ini membawa pada kesimpulan bahwa memang anak muda seperti kita ini yang setidaknya tahan untuk menggunakan angkutan publik dan menekan ego untuk memiliki kendaraan pribadi.
Kemudian Daniel menyinggung pembicaraannya dengan Mukti yang juga teman seorganisasi kami namun tinggal di kota berbeda tentang tingkat kebahagiaan. Ibarat dalam lomba lari bisa dibayangkan kalau peserta yang mendapat medali emas adalah yang paling bahagia, disusul dengan penerima medali perak dan perunggu. Nyatanya, Si Emas memang bahagia atas pencapaiannya kemudian tingkat kebahagiaan setelah itu dimiliki oleh Si Perunggu karena dia bersyukur setidaknya mendapat medali, sedangkan Si Perak adalah yang paling tidak bahagia di antara mereka karena berpikir seharusnya dia bisa berada di posisi Si Emas.
Analogi untuk status sosial di masyarakat dan tingkat kebahagiaannya, mulai dari kelas atas, menengah, dan bawah. Kelas atas tidak diragukan lagi meiliki segala fasilitas yang menunjang kebahagiaan. Kelas bawah adalah mereka yang selalu bersyukur atas setiap rezeki yang diterima. Sedangkan kelas menengah banyak yang tidak pernah belajar dari kelas bawah dan bersyukur, malah selalu melihat kelas atas dan tidak pernah merasa puas. Benarkah? Kemudian kami berintrospeksi, segala gaya hidup dan pencapaian yang telah diraih, seolah tidak ada habisnya. Termasuk perjuangan mencari beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tingkat S2, semoga Tuhan menjaga kelurusan niat kami.
Berbicara tentang beasiswa, Daniel yang sudah diterima program International Master of Rural Development di Ghent University, Belgium bercerita kalau banyak teman-temannya yang berpikir kalau jurusan itu tidak cocok untuknya. Aero juga kaget mendengar kabar itu, seolah tidak menyangka Daniel akan terjun ke ranah tersebut. Saya lebih kaget lagi, merasa aneh tepatnya berhubung Aero dulunya fokus dalam rural development selama kuliah namun sekarang malah kurang mendukung pilihan Daniel. Kemudian Aero menjawab santai kalau dia suka belajar tentang topik tersebut namun rasanya tidak tertarik untuk menjalaninya.
Saya jadi teringat akan anggapan teman-teman yang seringkali menilai saya sangat ambisius dalam karir, workaholic, dan super sibuk. Boleh saja orang berpendapat atas kesan yang ditimbulkan dari perilaku kita padahal nyatanya bisa jadi berkebalikan. Jujur, saat ini orientasi saya dalam bekerja masih belum pada tahapan karir. Barangkali karena tantangan yang sekarang diberikan perusahaan masih belum sepenuhnya saya selesaikan dengan sempurna sehingga rasanya belum berambisi untuk naik tingkat. Saya berusaha menikmati proses dan mensyukuri kesempatan yang ada.
Apapun itu yang dikatakan orang lain, sekali lagi merupakan opini pribadi. Jangan sampai menghalangi improvisasi apalagi pengembangan diri.

Saudagar Kopi, Jl. Sabang, Jakarta
8 Februari 2014


Titis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya