Minggu, 26 Januari 2014

Tuhan Selalu Tepat Waktu

Tadi pagi saya bertemu sahabat sekelas ketika tahun pertama di kampus. Namanya Huda, kami sama-sama mendapat kesempatan untuk menjadi Mundusian. Huda pergi ke Jerman, saya ke Ceko. Selama di Eropa kami tidak pernah bertemu, sekalinya Huda ke Praha malah saya yang melancong ke negara lain. Kami bertemu lagi setelah pulang ke Bogor, karena saya titip komik Donald Bebek berbahasa Jerman dari Huda. Pertemuan itu sudah berlangsung lebih dari setahun lalu.
Setelah saya wisuda, Huda masih mengerjakan penelitiannya yang terhitung selama 3 semester di laboratorium. Akhirnya Rabu kemarin Huda resmi menyandang gelar sarjana dan memakai toga. Setelah lulus, Huda membantu proyek fakultas bekerja sama dengan Universitas Jambi dan Universitas Gottingen di Jambi. Jadi mumpung dia wisuda, saya ingin menyambung cerita yang hanya sepotong-sepotong disampaikan via sms. Lagi-lagi menyocokkan jadwal itu tidak mudah, akhirnya kami sepakat bertemu di bandara sebelum Huda kembali ke Jambi. Sambil menunggu waktu boarding kami ngobrol ke mana-mana, sampai pada dialog ini:

H = Huda ; T = Saya

H : "Jadi lo daftar S2 lagi Tis? ambil program apa?"
T : "Erasmus Mundus lagi Da, Action 1. Doain ya, saingannya banyak. Lo gimana?"
H : "Gue juga daftar, Mundus lagi yang Action 2. Kenapa lo ambil Action 1? Pengen jalan-jalan ya? Kuliahnya kan pindah-pindah? hahahaha.."
T : "Nggak gitu juga, karena programnya kok Da.."
H : "Kenapa nggak milih ke Gottingen Tis? Dosen-dosen lo kan banyak di sana?"
T : "Iya, nyoba kok ke Gottingen ambil International Sustainable Agriculture, yang sesuai bidang kerja. Mungkin nanti daftar DAAD juga."
H : "Pokoknya daftar dulu lah, kalaupun nggak ketrima ya udahlah. Gue nggak berharap banyak."
T : "Kok gitu Da?"
H : "Apa ya Tis, gue menikmati kok kesempatan yang Allah kasih. Gue bersyukur bisa sampai tahap ini. Tapi jujur gue belum ada satu yang bener-bener gue pengen. Masih meraba-raba."
T : "Ah, pre-life crisis itu"
H : "Kalau ngarep banget ntar takutnya kecewa Tis.."
T : "Iya juga, gue doanya yang terbaik Da. Yang penting banyak back up plan, sekalinya gagal nggak langsung down tapi udah ancang-ancang yang lain. Anggap aja belum waktunya."
H : "Iya juga Tis, nanti pasti kita tahu kalau semuanya itu pas diatur sama Tuhan. Kemarin aja setelah gue pikir-pikir, penelitian lama banget sampe 3 semester sampai gue bilang ke dosen biar cepet dilulusin jadi nggak bayar SPP lagi, eh gue malah dimarahin. Ternyata gue dapet proyek dari Kementan, cukuplah buat SPP. Begitu lulus, pas lagi waktunya sama proyek ini. Waktu itu juga sempet ikut training yang cuma boleh diikuti mahasiswa, untung status gue masih memungkinkan. Hahaha"
T : "Nah, itulah Da..sudah diatur dengan baik. Tinggal usaha sama banyak-banyak doa."

Sampai pada kesimpulan obrolan kami, tepat saatnya Huda masuk ke ruang tunggu menunggu penerbangan ke Jambi. Kembali saya diingatkan agar tidak melulu berdoa semata-mata agar permintaan dikabulkan, namun semoga apa yang diusahakan terwujud pada saatnya. 

Somehow, God works in very weird way that human could not get it instantly 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya