Senin, 20 Januari 2014

Awal Tahun di Malang

Memanfaatkan jatah cuti yang saya peroleh awal tahun ini untuk jalan-jalan ke tempat yang tidak jauh dari rumah namun belum pernah dikunjungi. Saya sudah membuat janji dengan Mukti, sahabat seorganisasi namun beda kampus yang bekerja di Bojonegoro untuk menjelajah ujung Jawa Timur yakni Kabupaten Banyuwangi. Kami sepakat untuk memburu sunrise di Kawah Ijen, kemudian bersantai di pantai serta menikmati pemandangan sabana di Alas Purwo. Saya mengajak Kenyo, sahabat se-kampus yang juga berniat mengunjungi adiknya di Kota Pahlawan. Kami naik kereta usai jam kantor pada Jumat sore dan tiba di Stasiun Pasar Turi pada Sabtu subuh. Ternyata kereta api kini begitu tepat waktu, bersih, dan nyaman.
Ada lagi sahabat SMA saya yaitu Siska yang juga akan bergabung. Sambil menunggu Mukti dan Siska menghampiri, kami menumpang mandi di toilet umum yang bagian atapnya terbuka. Saya dan Kenyo mandi bergantian dan saling menjaga. Siska sudah tiba, kami sarapan bertiga, Kenyo memilih rawon sedangkan saya meyantap soto daging. Tak lama setelah kami menghabiskan seporsi penuh datanglah Mukti yang membawa kabar kurang bagus bahwa ternyata Banyuwangi sedang diterjang hujan angin, kemungkinan badai dan pendakian ke Kawah Ijen ditutup. Ya, daripada jauh-jauh mengambil resiko ke Banyuwangi namun malah tidak bisa ke tujuan utama akhirnya Mukti mengusulkan bagaimana kalau menghabiskan akhir pekan di Malang untuk mengunjungi sebuah pantai tersembunyi yang direkomendasikan temannya. Seluruh rombongan akhirnya setuju meski Siska agak bersungut-sungut karena dia akhirnya kembali ke kotanya. Kalau tahu begini dia bisa menunggu di Malang saja.
Agar tidak bosan, kami langsung ke Batu lewat Pacet. Sepanjang jalan padahal masih pagi namun yang terlihat hanya kabut. Kami berhenti sebentar karena Mukti membutuhkan asupan utamanya yaitu kopi dan sebatang rokok. Saya, Siska, dan Kenyo membeli penthol, semacam cilok kalau di Jawa Barat. Perjalanan dilanjutkan ke Kota Batu. Kami memarkir mobil di aloon-aloon Kota Batu, mengganjal perut di kedai susu dan yoghurt, lalu sholat dzuhur.
Eco Green Park, wahana baru yang dibangun berdekatan dengan Batu Secret Zoo, Batu Night Spectacular, dan Jatim Park. Kami memilih ke Eco Park karena semua anggota rombongan memang belum ada yang pernah ke sana. Memasuki gerbang Eco Park ada miniatur Candi Borobudur dan Candi Prambanan menyambut pengunjung bersama tiruan Bumblebee yang dibuat dari barang bekas. Ada juga patung sapi dan gajah yang dibuat dari mobil bekas, serta peralatan elektronik yang tidak dipakai. Ada sebuah galeri yang berisi serangga yang diawetkan. Kami berkeliling ke penangkaran burung yang tidak bisa terbang seperti burung onta, uma, merak, kasuari, dan kawan-kawan. Ada juga kandang kambing ceko yang kerdil-kerdil. Naluri saya dan Kenyo sebagai pecinta hewan membuat kami menghabiskan banyak waktu untuk berlari-lari mengejar ternak itu meski bau kambing menempel sesudahnya.
Siska - Kenyo - Mukti- Titis di Eco Park, Batu
Hujan rintik-rintik sempat menghentikan langkah kami saat memasuki kandang burung kakatua. Kami lari mencari tempat yang teduh. Sampai istirahat sejenak di bangku yang disediakan di depan akuarium apaima, seekor arwana raksasa. Wahana berikutnya adalah rumah terbalik yang membuat pengunjungnya agak pusing awalnya karena melihat perabotannya menggantung di atas. Di ujung rumah terbalik ada ruangan penuh kaca dengan sorot lampu kebiruan mirip seperti video klip lagu Mirror yang dinyanyikan Justin Timberlake. Alih-alih mencari jalan keluar, kami malah menirukan gaya penyanyi dan akibatnya sepanjang perjalanan di Malang lagu Mirror menjadi soundtrack yang tidak pernah bosan diputar.
Berkeliling Eco Park dan sibuk mengambil foto ternyata membuat lapar dan baru sadar kalau kami melewatkan jam makan siang hingga sore tiba. Kami memilih untuk mengisi perut di Malang karena ragam pilihan menu. Kenyo meminta agar dibawa ke tempat makan yang tidak akan ditemukan di sekitar Bogor. Mukti mengusulkan angkringan belut goreng yang pernah dia tunjukkan pada saya sekitar setahun lalu. Kenyang dan puas, itu tanggapan dari Kenyo. Sayangnya perut Kenyo masih dalam masa adaptasi dengan tingkat pedas sehingga malam harinya dia harus bolak-balik ke toilet.
Malam minggu diisi dengan tidur cepat, kami harus bersiap untuk agenda yang lebih seru esok pagi yaitu ke Pantai Lenggoksono yang menurut informasi dari teman belum menjadi tempat wisata komersial. Dibutuhkan waktu 3 jam dengan mobil untuk menuju desa Lenggoksono di bagian selatan Kabupaten Malang. Berbekal arahan dari teman dan tanya sana sini dari masyarakat sekitar, sampai juga kami di Lenggoksono. Jalanan berkelok nan sempit berujung pada pemandangan pantai dikelilingi bukit yang hijau oleh tanaman cengkeh. Ombak sedang pasang, langit agak mendung, sayangnya kami tidak bisa naik kapal ke Pulau Bolu-Bolu untuk menikmati keindahan bawah lautnya. Beberapa peselancar nampak mengurungkan niatnya karena ombak sedang tidak bersahabat.
Setelah berbincang dengan nelayan setempat, kami setuju untuk diantar trekking menelusuri bukit menuju Banyu Anjlok (Banyu artinya air, Anjlok artinya jatuh) atraksi air terjun yang langsung menghadap pantai. Memulai perjalanan dengan menyusuri garis pantai berbatu ditemani oleh Pak Sutris dan Pak Lohong. Kami menyeberang muara sungai yang menjadi pertemuan air tawar dan air asin, sebuah pemandangan yang jarang ditemukan. Menaiki bukit ditemani pemandangan laut lepas di sisi kiri dan pepohonan hijau di sisi kanan. Rupanya Lenggoksono merupakan daerah penghasil cengkeh terbesar di Jawa Timur. Selain itu hasil panen yang menyelingi cengkeh adalah pisang dan kopi namun jarang.
Mukti dan Kenyo berjalan duluan sementara Siska sudah kelelahan, katanya karena jarang olahraga. Kami berjalan bersama rombongan lainnya yang masih tertinggal di belakang. Akhirnya Pak Sutris memandu paling depan bersama Mukti dan Kenyo, saya dan Siska perlahan menyusul di belakang, sementara Pak Lohong memandu tim paling belakang. Jarak saya dengan rombongan paling depan sudah terlampau jauh, apalagi dengan kelompok belakang. Kami sudah mendaki lebih dari 1jam namun rasanya belum sampai juga di air terjun. Sampai kami bertemu sepasang petani yang baru turun gunung dan memberitahu bahwa jalan yang saya ambil ini sudah cukup jauh dari Banyu Anjlok. Seketika itu juga saya dan Siska berbalik arah. Benar saja, dari ketinggian kami melihat Mukti dan Kenyo sudah sampai di air terjun dan berjalan di pinggir pantai. Ternyata ada jalanan turun menuju pantai yang kami lewati. Sementara itu Pak Sutris menyusul kami, Pak Lohong juga berlari karena khawatir kami hilang padahal saya dan Siska malah sempat berfoto-foto.
Biarpun nyasar, tetap semangat foto-foto
Segala rasa capek itu sudah hilang oleh pemandangan menakjubkan Maha Karya Tuhan ketika air terjun ke bibir pantai tepat berada di hadapan saya. Ini pertama kalinya saya menyaksikan air tawar langsung menyatu dengan penampungan terakhirnya yakni lautan luas. Tinggi air terjun itu kira-kira 3 meter dengan bebatuan di sisinya yang mudah untuk dipanjat. Saya naik ke atas air terjun bersama Mukti dan Kenyo sementara Siska yang kecapekan menunggu di pinggir pantai. Maish ada satu lagi atraksi menarik di Banyu Anjlok yakni goa sarang wallet yang tersembunyi di balik air terjun. Pak Lohong memandu saya dan Kenyo ke dalam goa yang sempit dan gelap. Sayang kami tidak membawa senter jadi tidak bisa masuk lebih dalam. Ditambah lagi ombak pasang yang masuk ke goa, membuat kami ngeri.

Banyu Anjlok
Hujan mengguyur deras selama perjalanan pulang namun tak menyurutkan suka cita kami seharian ini. Kami kembali ke kota Malang setelah Maghrib, melalui medan berkelok menanjak yang sepi. Sesekali kami berhenti untuk mendinginkan mesin dan meregangkan otot. Sampai Malang kami mencari pengganjal perut dan Mukti membawa kami ke Nasi Ayam di depan Gereja Ijen Boulevard. Baiklah, kami memang tidak jadi ke Kawah Ijen namun siapa sangka perjalanan penggantinya memberikan kesan lebih dari yang diduga.

1 komentar:

Terima kasih atas komentarnya