Rabu, 18 Desember 2013

Belajar Ketika Mengajar

Beberapa minggu lalu saya mendapat kehormatan untuk mengisi acara IAAS, UKM yang aktif saya ikuti di kampus dulu. Saat ini status saya sebagai alumni dan masih belum bisa jauh-jauh dari IAAS, baik dengan sesama alumni, pengurus, junior, dan kegiatannya. Tidak bisa dipungkiri sulit untuk berpindah ke organisasi lain meski kini sudah bergabung dengan beberapa komunitas. Kehadiran saya dalam acara Building On Success (BOS) kemarin sebagai pengisi acara dengan tema "Social Awareness and Unity in Diversity". Seminggu sebelumnya, salah satu panitia telah mengirim Term of Reference (TOR) sebagai kisi-kisi materi yang harus saya bawakan sekaligus luaran yang diharapkan. Panitia memberi waktu selama 1,5 jam untuk menyampaikan pokok bahasan yang telah ditentukan.
Sampai dengan H-1, presentasi yang seharusnya sudah dikumpulkan ke panitia belum juga selesai saya buat. Memang kurang profesional rasanya kalau mengatasnamakan work load di kantor yang sedang kejar tayang. Ya, saya punya 90 menit tanpa persiapan matang. Kemudian tercetuslah ide untuk membuat game, simulation, juga focus group discussion. Bermodal presentasi sebanyak 12 slides, saya mengisi sesi tersebut dengan 3 permainan:
1. Domino Effect
Peserta dengan total kurang lebih 60 orang dibagi menjadi empat. Masing-masing kelompok membentuk lingkaran. Pertama, peserta wajib mencubit lengan teman yang berdiri di kanannya secara bersamaan. Setelah saling cubit dan semuanya meronta-ronta kesakitan, saya minta mereka saling memijat bahu teman di sampingnya. Permainan ini adalah simulasi dari sama rasa sama rata.
2. Taste The Candies
Masih permainan dalam kelompok, saya membagikan sebungkus permen rasa buah untuk tiap kelompok. Ada empat rasa sesuai dengan jumlah kelompok yaitu blueberry, strawberry, lemon, dan orange. Tiap kelompok mewakili satu rasa. Semua anggota kelompok wajib makan permen sesuai nama kelompoknya lalu menuliskan kata sifat yang menggambarkan rasa permen tersebut misalnya refreshing, passionate, sweet, sour, etc. Selesai dengan rasa pertama, saya meminta tiap kelompok merasakan rasa permen yang lainnya lalu menuliskan kata sifat. Jadi kelompok orange merasakan permen strawberry, kelompok strawberry merasakan permen blackberry, kelompok blackberry merasakan permen lemon, kelompok lemon merasakan permen orange.
Selesai dengan focus group discussion tentang rasa permen, tiap kelompok menyocokkan kata sifat yang mereka tulis untuk rasa permen kelompok lain. Permainan ini saya buat sebagai simulasi untuk mengajarkan empati. Nyatanya, seringkali kita mengalami hal yang sama namun ternyata kesan yang ditimbulkan setiap orang berbeda. Karena tiap individu memiliki karakter dan pemikiran masing-masing.
3. Tower Building
Instruksi yang sederhana saya berikan untuk permainan ini yaitu tiap kelompok wajib membuat menara dari barang-barang yang mereka bawa. Kelompok dengan menara tertinggi akan memenangkan permainan. Para peserta heboh mengeluarkan seluruh barang-barang mereka dari tas. Mulai dari buku, alat tulis, botol minum, dompet, payung, plastik, dan masih banyak lagi. Mereka punya waktu 15 menit untuk menyusun kosntruksi bangunan. Suasana menjadi heboh, setiap kelompok bekerja sama menyusun barang-barang yang tak simetris.
Awalnya saya hanya berpikir permainan ini sebagai wadah untuk belajar kerja sama dalam tim, serta menyatukan perbedaan untuk mencapai tujuan yang sama. Sebuah pelajaran dasar dalam berorganisasi. Di tengah-tengah permainan, ketika saya sudah menyiapkan sesi penutup, tiba-tiba ada hal baru yang saya pelajari dari mereka tentang Think Out of The Box. Saya perhatikan kalau semua kelompok melakukan metode yang sama untuk membangun menara yaitu mengumpulkan barang-barang yang mereka bawa lalu disusun dengan melihat keseimbangannya. Sebetulnya tidak menutup kemungkinan bagi peserta untuk membuat menara seperti cheerleader dengan memanfaatkan kekuatan tubuh dari anggota kelompok. 
Sampai pada ahir permainan ketika saya menanyakan apakah tidak ada yang berpikir untuk membuat pondasi dari manusia? Misalnya mereka yang kuat menjadi penyangga di bawah dan diikuti dengan yang berbadan lebih ringan di atasnya sampai terbentuk menara yang kokoh dan tinggi. Barulah mereka sadar apa yang tidak dikira sebelumnya, padahal tidak ada larangan dalam instruksi saya. 
Akhirnya sesi berakhir dengan sedikit pesan-pesan keorganisasian. Saya meyisipkan pesan bahwa mereka adalah mahasiswa terpilih yang telah melewati serangkaian proses seleksi, sebuah kesempatan yang tidak dimiliki kebanyakan mahasiswa lain. Organisasi adalah tempat bersosialisasi dan berkontribusi, di sana mereka akan menemukan keluarga baru dan tentunya sebuah proses pembelajaran yang berharga.
Saat penutupan acara, panitia meminta saya untuk tinggal karena ada pembagian sertifikat dan souvenir. Saya katakan pada panitia bahwa sebetulnya sertifikat itu tidak sepenuhnya untuk saya, karena dalam sesi tadi tugas saya hanya sebagai mediator. Selebihnya, tiap kali usai permainan saya mengundang peserta untuk membagi moral of value yang mereka dapatkan di hadapan teman-temannya sehingga mereka benar-benar turut serta dan dapat mengambil hikmahnya.
Panitia memang meminta saya untuk mengajarkan nilai-nilai organisasi hari itu, nyatanya malah saya yang banyak belajar dari seluruh peserta. Sebab dalam berorganisasi sesungguhnya tidak ada yang lebih ahli, saya selalu menganggap bahwa senior diberi kesempatan lebih dahulu untuk mendapat pengalaman. Keberhasilan para pendahulu terletak pada pencapaian generasi penerusnya.
Sesi 2 BOS 2013
Selamat datang Adek-adekku, keluarga baru IAAS IPB (IOP 21) !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya